Hasrat Terpendam

1094 Kata
Inka menggelengkan kepala, perasaannya tak enak mengenai sekretaris itu yang bergelagat mencurigakan. Tak dipungkiri ada perasaan cemburu di dalam hati, rasanya ia ingin mengintrogasi Aldi sekarang juga, tapi ia harus menahan diri. Inka menarik napas pelan lalu memejamkan kedua matanya. "Sabar ... In, sabaaaarrr!" Wanita itu lantas kembali duduk menemani Raffa, dan menunggu semua orang kembali. *** Irma datang dengan seorang kurir restoran yang membantu membawakan makanan ke tempat di mana Inka berada. "Tolong taruh saja di sini, Bang!" pinta Irma seraya menunjuk tempat kosong di mana Inka duduk. Inka pun bergeser ke samping agar memberi ruang lebih luas untuk Pak Kurir meletakan semua box-box makanan di atas tikar. "Sudah selesai ya, Bu," kata Tukang Kurir. "Iya, terima kasih ya, Bang," ucap Irma. "Sama-sama, Bu. Permisi," pamit Tukang Kurir kepada Irma dan Inka yang berada di sana. "Silakan," sahut Inka pelan, lantas Tukang Kurir berlalu meninggalkan Irma dan Inka di sana, meski di antara mereka ada Raffa pun tak bisa menghindari suasana dingin di antara mereka. "Saya rapikan dulu makanannya, Bu. Setelah itu saya akan panggil Pak Aldi dan kliennya ke sini," kata Irma seraya berjongkok untuk mengeluarkan box-box makanan dari pelastik berwarna putih itu. "Tidak perlu, kamu siapkan saja makanannya, biar saya yang panggil suami saya dan kliennya ke sini," timpal Inka. Mendengar jawaban Inka, Irma pun terdiam. Melihat Inka berdiri dan melangkah pergi membuat wajah Irma yang awalnya cantik kini berubah seperti nenek sihir. Raffa yang sejak tadi sibuk dengan gawainya pun mengalihkan pandangan pada sosok wanita di hadapannya itu. "Tante kenapa?" tanya Raffa, saat ia melihat Irma begitu kesal sampai-sampai box makanan yang ia pegang hampir saja penyok. Irma terkejut mendengar pertanyaan Raffa, kenapa dia tidak sadar kalau di sana masih ada makhluk hidup lain selain dirinya. "Eh, ti-tidak apa-apa, Tuan. Tante ...." "Panggil aku Raffa saja, tidak perlu panggil tuan segala," sela Raffa. Lagi-lagi Irma tertawa canggung. "Ah, i-iya, Raffa. Baik," jawab Irma seraya mengangguk kecil dan tak lupa tangannya bekerja untuk menata box. Raffa terus memperhatikan sikap aneh sekretaris ayahnya itu, dari mulai gestur tubuh hijgga gaya berpakaian wanita itu. Meski Raffa masih kecil, dia cukup merasa risi dengan cara berpakaian Irma yang semuanya serba mini dan ketat, membuat anak kecil itu mengerenyitkan kening. *** Inka masih berjalan mencari keberadaan Aldi dan juga kliennya, hingga pada akhirnya ia menemukan ketiga pria itu tengah berkumpul di suatu tempat. Inka pun tersenyum dan segera menghampiri suaminya. "Mas!" panggil Inka, seketika membuat perhatian ketiga pria itu teralihkan padanya. Aldi tersenyum saat melihat sang istri, meski tidak ada yang menyadari Roy juga ikut tersenyum kala melihat Inka datang. "Mas, makanannya sudah siap, ayo ajak Pak Roy dan Assistantnya Mas makan," kata wanita cantik itu. "Oh, ya sudah mari, Pak Roy, Wijaya, kita sebaiknya makan dulu," ajak Aldi. Kedua pria itu menanggapi ajakan Aldi hanya dengan anggukan, lantas dengan mesra Inka menggandeng lengan suaminya dan mereka berjalan lebih dulu disusul Roy dan juga Wijaya. Aldi bahagia melihat istrinya begitu bersemangat, kesederhanaan wanita itu tak pernah berubah meski kini ia hidup berlimpahan harta, tapi ia tetap selalu bahagia walaupun diajak piknik kecil-kecilan di tempat yang seperti ini. "Mas, nanti kalau taman ini sudah jadi aku harus ke sini lagi loh ya," celoteh Inka di sepanjang perjalanan menuju tempat pikinik. "Boleh, Sayang," jawab Aldi seraya mempererat pelukannya di pinggang ramping Inka. Sementara itu Roy di belakang hanya bisa menikmati keindahan tubuh Inka tanpa bisa menyentuhnya seperti Aldi yang bebas memeluk wanita cantik itu, entah kenapa saat melihat Inka gairah di dalam diri Roy malah membara seperti ini. Tak bisa dipungkiri kalau Roy telah jatuh hati kepada Inka saat pertama kali melihatnya tadi. Wajah cantik dan tubuh seksi wanita itu membuat Roy begitu sangat mendambakan ingin menyentuhnya. Kini mereka berempat sampai di tempat pikinik, di mana Irma dan Raffa sudah menunggu. Melihat kedatangan Aldi membuat Irma mengulas senyum, sebelum ia melihat begitu mesra pria itu memeluk istrinya sehingga membuat hati Irma panas dibakar api cemburu. "Sudah siap semua, Ir?" Pertanyaan dari Aldi membuat Irma tersadar. "Su-sudah, Pak," jawabnya seraya memakasakan senyum di bibirnya. Inka sedikit menyeringai, dia tahu kalau wanita gatal itu pasti merasa cemburu, Inka hanya ingin memperlihatkan kalau Aldi adalah miliknya, dan Aldi pun begitu sangat mencintainya. Semua orang sudah duduk di tempat mereka masing-masing, makan siang pun dimulai dengan terfokus pada isi kepala mereka masing-masing. Aldi terlihat memegang tengorokan yang menandakan ia ingin minum, Irma tampak ingin mengambil botol air mineral, tapi ternyata Inka lebih dulu yang membantu suaminya. "Minum, Mas," tawar Inka seraya menyodorkan botol air mineral pada sang Suami. Aldi segera menerimanya. "Terima kasih, Sayang," ucapnya lalu membuka tutup dan segera meminum isinya. Irma tampak mengembuskan napas kasar kala melihat itu semua, terlihat sekali kalau ia sangat kesal dan cemburu. Inka melirik pada Irma, dia tahu kalau wanita itu benar-benar merasa jengkel. Inka lalu melirik pada wajah Aldi yang kembali fokus makan, hingga Aldi menyadari kalau istrinya terus memperhatikannya. "Ada apa, In? Kamu tidak makan?" "Makan kok, Mas. Mas juga lanjut makan," sahut Inka. Aldi mengangguk dan mereka kembali makan, hingga pada akhirnya makan siang pun selesai dengan semestinya. *** Kini mereka semua berada di tempat parkir. "Sampai jumpa, Pak Aldi, Nyonya, Pak Wijaya." Roy lalu melirik pada Irma sekilas saja. "Berhati-hatilah di jalan, Pak Roy," sahut Aldi. Roy tersenyum. "Terima kasih, Pak Aldi. Permisi," pamitnya lantas pria itu melirik pada Inka sekilas sebelum ia masuk mobil. Inka lagi-lagi merasakan kejanggalan itu, tapi ia berusaha menepis perasaannya terus. Aldi kemudian melirik pada Irma. "Ir, apa kamu bawa mobil?" tanya Aldi. Ditanya begitu Irma tersenyum, ia berharap Aldi mau mengantarkannya pulang nanti. Wanita itu menggeleng seraya menatap Aldi penuh harap. "Tidak bawa, Pak," jawabnya tak lepas dari senyum manisnya. "Kalau begitu Wijaya tolong kamu antar Irma pulang, hari sudah sore, takutnya kemalaman di jalan. Yang saya tahu daerah sini kalau sudah sore jarang ada taksi." Mendengar hal itu Irma merasa kecewa, karena yang akan mengantarnya pulang bukannya Aldi, tapi pria itu malah menyuruh orang lain. Wijaya mengangguk. "Baik, Pak," jawab Wijaya. "Ya sudah kalau begitu saya pulang lebih dulu," pamit Aldi. "Iya, Pak. Hati-hati di jalan," sahut Wijaya. Aldi mengangguk. "Kalian juga hati-hati, aku pulang lebih dulu. Ayo, Sayang," ajaknya pada Inka seraya merangkul pinggang wanita itu. "Raffa, ayo pulang, Nak!" seru Inka pada sang Putra, lantas mereka semua berjalan ke arah mobil dan berlalu meninggalkan proyek. Sepeninggalan Aldi, Irma tampak masih tertegun saja membuat Wijaya melambaikan telapak tangan di depan wajah wanita itu. "Ir, Ir, ayo saya antar pulang." Irma tersadar dari lamunannya, mau tak mau dia harus menerima ajakan Wijaya karena memang di daerah sini jika sore tak ada taksi lewat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN