Rasa Yang Disembunyikan

1013 Kata
Aldi menuruni anak tangga dan bergegas menuju ruang meja makan, benar saja di sana sudah ada Raffa yang tengah menunggu seorang diri. "Sudah lama, Raf?" tanya Aldi seraya mengusap puncak kepala putranya lalu ia pun duduk di tempat biasa. "Iya, Pa. Mama mana, Pa?" tanya Raffa kemudian. "Mama masih siap-siap sebentar lagi selesai, kalau kamu sudah lapar makan saja duluan." Raffa menggeleng. "Nanti saja makan bareng sama Mama, Pa." "Ya sudah, papa juga mau nunggu Mama," timpal Aldi. Setelah beberapa waktu suara langkah kaki berjalan mendekat, Inka memasang senyum manis seperti biasa seolah tak pernah ada luka di dalam hati. Namun, kali ini Aldi merasa kalau ada hal yang ditutupi dari sang Istri. "Maaf ya membuat kalian menunggu lama," ujarnya lalu segera menempati kursi miliknya seperti biasa. "Kita mulai aja makan malamnya, Mama sudah lapar, nih!" katanya kemudian. "Sama, Raffa juga, Ma," timpal Raffa. Inka tersenyum di sepanjang ia menyiapkan makanan untuk sang Putra, gerak-geriknya tak luput dari perhatian Aldi. Karena saat ini Aldi benar-benar merasa ada sesuatu yang istrinya sembunyikan darinya, entah apa itu. "Mas!" Inka memanggil Aldi, tapi pria itu hanya terus menatap wajahnya sejak tadi tanpa berkedip. "Mas, Mas Aldi!" ulangnya dan kali ini Aldi tersadar. "Ah, iya, Sayang?" tanyanya canggung. Inka tersenyum seraya mengerutkan kening. "Mas Aldi kenapa? Kok, melamun?" "Enggak, In. Mas mungkin lagi banyak pikiran aja soal pekerjaan di kantor," jawab Aldi beralasan. Inka meletakan piring berisi makanan di hadapan Aldi lalu ia pun duduk. "Ada apa dengan kantor Mas Aldi? Apakah ada masalah besar?" tanya Inka merasa khawatir. Aldi tersenyum tak ingin membuat sang Istri cemas. "Bukan masalah besar, hanya sedikit ada kendala di proyek, Sayang. Namun, semuanya sudah teratasi cukup oleh Wijaya." Inka menghela napas lega. "Syukurlah, Mas." "Iya sudah mari kita makan saja," timpal Aldi kemudian. *** Makan malam pun berakhir dengan semestinya, lantas semua orang pergi ke kamar masing-masing setelah itu. Kini Inka dan Aldi sudah berada di atas tempat tidur di dalam satu selimut berdua. "In," panggil Aldi membuat Inka yang sudah terpejam kini membuka mata kembali. "Mm? Iya, Mas?" tanya wanita itu. "Apa ada sesuatu? Aku merasa kamu ...." Aldi merasa ragu. "Ada apa, Mas?" Inka duduk dan menatap suaminya yang tampak bingung. Karena Inka duduk Aldi pun ikut duduk. "Tidak ada apa-apa, In. Hanya saja saat sore tadi aku merasa kamu agak berbeda." "Berbeda apanya sih, Mas? Mas Aldi jangan aneh-aneh, deh," elak Inka seraya tertawa kecil, menunjukkan bahwa perasaan Aldi itu salah. Aldi juga jadi terkekeh seraya menggaruk tengkuknya. "Hmm, iya mungkin hanya perasaanku saja." Inka tersenyum lalu memeluk suaminya begitu hangat. "Tidak ada yang berubah dariku, Mas. Jika pun ada itu pasti aku sekarang semakin tua dan kamu mulai bosan padaku, iya kan?" Aldi seketika menjauhkan kepalanya lantas menatap sang Istri. "Dih, siapa? Siapa yang bilang seperti itu, hmm?" Aldi mencubit dagu istrinya gemas. "Aku itu enggak pernah bosan sama kamu, kamu itu candu." Inka tersenyum mendengar pujian suaminya, lantas keduanya saling berpandangan mesra dan kembali merebahkan tubuh bersama mereka saling berpelukan. *** "Ma, cepetan!" seru Raffa dari dalam mobil. Tampak Inka terburu-buru berjalan keluar. "Iya, Raf, sebentar!" Inka mempercepat langkahnya agar ia segera sampai ke luar. Aldi tersenyum saat melihat istrinya tampak muncul dari dalam rumah. "Mamamu repot banget, Raf," ujar Aldi lantas Raffa pun terkekeh. "Iya, Raf. Mama sampai, nih." Inka segera membuka pintu dan masuk mobil. "Oke, ayo berangkat!" serunya bersemangat. Aldi menanggapi istrinya hanya dengan tawaan kecil lalu segera memanuver kendaraannya keluar dari pintu gerbang. Pagi ini mereka berencana akan piknik di sebuah taman dekat danau, itu adalah proyek objek wisata yang sedang Aldi bangun di pinggiran pusat kota. Diperkirakan tempat itu jika setelah jadi akan menjadi tempat hiburan keluarga yang sangat menyenangkan, karena akan ada banyak wahana tempat bermain anak juga pemandangan taman yang indah untuk dinikmati. Di sepanjang perjalanan mereka asyik mengobrol, hingga tanpa terasa mobil mereka hampir sampai di tempat lokasi. "Inikah tempatnya, Mas?" tanya Inka saat ia melihat sebuah lokasi taman luas yang masih sedang dalam pengerjaan. Ada banyak pekerja yang sibuk hilir mudik ke sana kemari membawa alat untuk bekerja. "Iya, ini tempatnya, masih lima puluh persen, jadi belum terlihat indah jika buat pikinik sekarang, Sayang." "Sudah terlihat bagus, kok. Di sebelah sana sepertinya cocok untuk kita pikinik." Inka menunjuk pohon besar yang bawahnya ditanami rumput hijau yang terawat rapi. "Boleh, ayo kita ke sana," ajak Aldi, lalu membuka pintu mobil dan keluar, disusul oleh Inka dan Raffa. Inka lantas mengambil rantang bekal, dan Aldi membuka bagasi untuk mengambil tikar. Mereka berjalan ke arah lokasi yang tadi Inka tunjuk lantas menggelar tikar dan Inka dengan segera melepas sandal lalu duduk di atasnya, membuat Aldi tersenyum melihatnya. "Ah, ya ampun danaunya indah banget, Mas. Aku yakin warga sini akan menjadikan tempat ini menjadi tempat wisata favorite." "Amiin, itu sih harapannya, Sayang." Wijaya yang memang sudah ada di tempat proyek sejak tadi menyadari kedatangan bosnya, dia pun segera melangkah ke tempat di mana Aldi dan keluarganya berada. "Selamat pagi, Pak Aldi. Anda sudah datang," sapanya, lantas mereka berjabatan. Wijaya sejenak menoleh pada Inka dan mereka hanya saling melempar senyum setelahnya kembali ke fokus masing-masing. "Sayang, aku pergi ke sana dulu. Kamu sama Raffa tunggu di sini," pinta Aldi. Inka mengangguk. "Iya, Mas." Aldi dan Wijaya melangkah pergi untuk meninjau proyek meninggalkan Inka dan Raffa. "Raffa, sini! Kamu mau camilan?" Raffa yang sejak tadi asyik memperhatikan danau pun menoleh dan berlari menghampiri Inka yang duduk di bawah pohon rindang. "Buka dulu sepatunya," pinta Inka dan anak laki-laki itu menurut melepaskan sepatu. "Papa mana, Ma?" tanya Raffa. "Papa lagi sama om Wijaya lihat-lihat proyek, nanti juga balik lagi," jawab Inka. Raffa mengangguk lalu menerima camilan yang diberikan oleh mamanya. "Mau ini juga?" tawar Inka. Raffa menggeleng. "Ya sudah," ucapnya lagi. Raffa memang type anak yang tidak terlalu suka bicara, apa yang dia katakan hanya seperlunya saja. Sebenarnya mirip Aldi saat Inka pertama kali mengenalnya. Aldi juga dulu seperti Raffa, tidak suka bicara omong kosong, bicara pun hanya dengan orang-orang tertentu dan itu hanya membahas hal penting. Namun, siapa yang sangka pria itu begitu romantis, gombal dan sangat manja jika itu sudah bersama pasangannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN