CHAPTER 6

1939 Kata
Happy Reading & Enjoy All *** Apa kekurangan seorang Chrystalline Tan? Setiap kali ditanyai pertanyaan itu, Christopher akan selalu terdiam. Tidak, dia bukan sedang merinci apa kekurangan perempuan itu dalam hatinya. Diamnya Christopher benar-benar menjabarkan betapa tidak tahunya dia akan kekurangan istrinya itu. Chrystal cantik? Tentu saja. Parasnya yang ayu bahkan sering membuat dirinya berada dalam masalah karena ada banyak p****************g yang mengincarnya. Bahkan kalau Chrystal cukup bodoh, perempuan itu pasti akan tergoda pada janji manis para pria amoral itu. Tapi beruntungnya Chrystal cukup pintar dan dibekali dengan mulut super tajam. Sadar bahwa dirinya cukup mempesona membuat sosoknya tak mudah hanyut hanya dengan sebuah bualan. Masalah ekonomi? Sudah jelas kalau Chrystal dan keluarganya bukanlah tandingan. Terlahir dari keluarga yang kaya raya membuat Chrystal tidak perlu mengkhawatirkan sisa hidupnya. Tanpa bekerja pun hidupnya akan tetap terjamin. Bahkan bisa dibilang seorang Chrystalline Tan punya lebih banyak uang daripada akal sehatnya. Tapi kemudian inilah yang menjadi masalah bagi Christopher. Perempuan itu memiliki segalanya dan menyadarinya dengan baik sehingga dia merasa bisa mendapatkan segalanya dengan mudah. Dia bisa melakukan apa pun agar tujuannya tercapai. Dia sangat keras kepala. Dia kekanakan. Bahkan dia juga cukup semena-mena. Mungkin itulah yang mengurangi nilai sosok Chrystalline Tan di matanya. Keinginannya untuk bercerai semakin mantap kala Chrystal semakin tak terkendali seperti sekarang. Dia tidak akan bisa bertahan dengan perempuan seperti itu. Hidupnya sudah terlalu rumit dan dia tidak mau memperumitnya dengan bersama seorang perempuan yang rumit. Selain itu dia juga tidak ingin sampai lepas kendali dan menyakiti perempuan itu. Bagaimana pun juga Chrystal adalah orang yang dipuja dalam keluarganya. Bahkan sang nenek terus mendengungkan nama Chrystal di saat bersama dirinya yang notabene-nya adalah cucunya sendiri. Chrystal punya posisi yang istimewa. Terlebih lagi dia juga adik dari Frederick Tan, temannya. Ada banyak alasan yang membuat perpisahan jauh lebih baik daripada pernikahan yang terus dipertahankan. “Jadi... katakan padaku kapan kalian berdua akan menikah? Woah, kalian benar-benar bergerak dengan cepat. Nenek baru meninggal dan kalian sudah berencana untuk menikah. Tunggu, jangan-jangan kalian sudah membawa undangannya, hm?” Christopher memejamkan matanya mendengar kalimat bernada sinis yang kental sekali dari mulut Chrystal. Posisi duduknya yang bersebelahan dengan Karina sementara Chrystal ada di depannya pun semakin mempertegas seolah-olah dirinya sedang diinterogasi. Padahal, demi Tuhan, tidak ada apa pun yang terjadi. “Chrystal, tidak ada undangan atau pun pernikahan,” jawab Christopher dengan muak. Dia melirik Karina sekilas, lalu menambahkan. “kedatangan Karina kemari murni untuk berbela sungkawa.” tambahnya. “Berbela sungkawa?” Chrystal berdecih. Kepalanya terangguk-angguk dengan ekspresi mengejek. “Kau mau berbela sungkawa untuk kematian Nenek atau berbela sungkawa atas kehancuran rumah tanggaku?” ketus Chrystal dengan memandang si perempuan yang sejak awal pernikahannya selalu berada dalam pusaran rumah tangganya. “....” “Kau bisa berbela sungkawa di rumah keluarga Christopher, lalu kenapa kau kemari, Karina? Sebegitu inginnya kah kau terlihat di mata Christopher sampai kau menyusulnya kemari?” Karina diam, tapi Chrystal tahu lebih baik dari siapa pun bagaimana sikap Karina yang sebenarnya. Dia hanya belum ingin menunjukkan cakarnya dan meraup apa pun yang dimiliki Chrystal. Dia perebut kebahagiaan Chrystal. “Kau mencintai suamiku, jadi bagaimana mungkin aku percaya kalau kau kemari hanya untuk berbela sungkawa atas kematian Nenek, hm?” kata Chrystal dengan sinis. “Chrystalline Tan...” Christopher bersuara dengan nada memperingatkan yang khas sekali. Dan mendengar dirinya ditegur di depan wanita itu, Chrystal pun langsung bersuara lagi. “Aku berbicara dengan Karina, bukan dengan dirimu, Christopher Wang.” seloroh Chrystal dengan cepat dan tajam. Dia tidak mau dibantah. Tatapannya berpindah dari Christopher ke arah Karina. Dia benar-benar menunggu jawaban sok polos Karina yang selalu dianggap benar oleh suaminya. “Aku benar-benar datang untuk berbela sungkawa, Chrys. Dan kenapa aku kemari –tujuannya sudah jelas. Aku ingin memberikan penghormatan terakhirku di depan tempat peristirahatan terakhirnya. Kupikir itu jauh lebih tulus daripada sekedar datang ke rumah lalu pergi.” Akhirnya perempuan itu bersuara juga, batin Chrystal mengejek. Dia terkekeh. “.... lagipula, aku juga ingin bertemu denganmu, makanya aku datang kemari.” “Bertemu denganku? Untuk apa?” selanya dengan sinis. Chrystal menatap Karina dengan tatapan mengejek. “apa kau ingin menertawakan kondisiku saat ini?” “Aku hanya ingin mengobrol denganmu. Kita sudah lama tidak bertemu dan mengobrol. Aku ingin kita bisa berteman seperti dulu, Chrys.” “Aku tidak pernah berteman dengan orang-orang yang menyakiti aku, Karina.” kata Chrystal dengan penuh penekanan. “Aku pernah mengatakan ini pada Christopher dan hari ini aku mengatakannya padamu. Woah, kalian benar-benar serasi. Aku sampai lelah karena harus terus mengulang ucapanku.” tambah Chrystal dengan nada mengejek yang khas. Sementara itu Christopher terlihat memasang ekspresi masam. Pertama, mereka ada di cafe. Yang meskipun pengunjungnya tidak terlalu ramai, tapi membahas hal-hal seperti ini ternyata cukup memalukan bagi Christopher. Dan kedua, benak Christopher bertanya-tanya –kenapa Karina datang? Dia yakin sekali kalau berbela sungkawa jelas bukan satu-satunya alasan perempuan itu. Kebencian Chrystal pada Karina bukanlah hal yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Karina tahu dengan jelas kalau Chrystal membencinya sampai ke pembuluh darah, tapi kenapa dia masih bersikeras ingin bertemu Chrystal? Apalagi dengan cara Chrystal membenci orang yang lumayan frontal, bukankah seharusnya Karina menghindari Chrystal? Walau keberaniannya untuk datang dan bertemu Chrystal patut diacungi jempol, tapi benak Christopher masih mempertanyakan kenapa perempuan itu senekat ini. “Mau sampai kapan kalian bertengkar di depan umum seperti ini, hm? Apa kalian tidak malu?” potong Christopher yang membuat perhatian dua perempuan yang datang bersamanya itu tertuju padanya. “Kalau kalian ingin bertengkar, seharusnya kalian bilang sejak awal. Aku akan carikan tempat yang lebih tinggi privasinya sehingga kalau kalian ingin saling memukul –kalian aman.” “Tentu saja aku malu. Aku benar-benar malu karena bertemu dengan orang-orang seperti kalian –terutama kau Karina. Pergilah dari hidupku untuk selamanya –kau dengar aku?!” Christopher memijat pelipisnya. Chrystal dan Karina tidak akan tertolong. Ide membawa mereka ke cafe untuk mengobrol dengan harapan keduanya bisa berbaikan hanyalah ekspektasi. Dan jarang ada realita yang sesuai dengan ekspektasi. “Aku mau pulang. Berikan kunci mobilku.” kata Chrystal sambil mendorong kursinya ke belakang dan mengulurkan tangan kanannya. Dia meminta kunci mobilnya yang ada pada Christopher. Dia menunggu tapi Christopher hanya memandang mata dan tangannya secara bergantian dengan bingung. Tak ingin memperpanjang perdebatan mereka, Christopher mengalah. Dia memberikan kunci mobil Chrystal dan berujar dengan masam, “Kau mau meninggalkan aku di sini, Chrys?” “Aku tidak akan meninggalkan kau, Christ. Tapi dengan catatan, aku tidak mau memberi tumpangan pada Karina.” Itu adalah perintah, bukan pilihan. “Tapi Karina datang dengan kita, Chrys. Dia tidak membawa mobil.” protes Christopher karena tidak tega meninggalkan Karina seperti keinginan Chrystal. Bagaimana pun juga mereka bertiga datang bersama-sama, dan bukankah seharusnya pulang pun harus bersama-sama? Tapi Chrystal tetaplah Chrystal. Ketika dia sudah berkehendak, tidak akan ada yang bisa mengubah keputusannnya. “Dia bisa datang ke pemakaman Nenek sendirian, jadi aku yakin dia juga bisa pulang ke rumahnya sendirian. Toh mobil yang membawanya kemari adalah mobilku, jadi aku berhak menentukan siapa saja yang boleh masuk atau tidak. Dan aku tidak mau Karina masuk ke dalam mobilku lagi.” jawab Chrystal dengan keras kepala. “....” “Terserah kau mau ikut denganku atau naik taksi dengan Karina.” Sifat kekanakannya mulai lagi, batin Christopher seraya memperhatikan Chrystal yang memakai kacamata hitamnya lalu bergegas pergi. *** “Aku menyukai Christopher Wang!” “....” “Menurutmu apa yang harus aku lakukan agar dia bisa menyukaiku, hm?” Chrystal menggenggam erat-erat setir mobilnya kala momen beberapa tahun lalu kembali terkenang. Saat itu hubungannya dengan Karina masih baik-baik saja. Mereka berteman baik, bahkan sering menghabiskan waktu senggang bersama-sama. Tapi semuanya berubah kala Karina menusuknya dari belakang dan merebut Christopher. Memang benar kalau pada akhirnya Christopher tetap menikah dengannya. Tapi sekali lagi –apa yang bisa dibanggakan dari sebuah pernikahan tanpa cinta? Christopher dengan tegas menyatakan kalau dia mencintai Karina. Dia tidak memiliki tubuh atau hati pria itu. Yang dia punya hanya gelar semu yang bahkan hanya segelintir orang yang menyadarinya. Tidak ada yang bisa dibanggakan dan semua ini karena perempuan bernama Karina Josephine, temannya sendiri. Bodohnya dia karena pernah menjadikan Karina sebagai konsultan cintanya pada Christopher. Karena faktanya, perempuan itu malah mengibaskan ekornya dan menggoda Christopher. Chrystal mengamati pintu keluar cafe yang tadi disinggahi olehnya dan melihat dua sejoli yang baru saja keluar. Iya, mereka adalah Christopher dan Karina. Seketika d**a Chrystal langsung memanas. Dengan gentleman-nya Christopher membukakan pintu dan mempersilakan Karina untuk keluar lebih dulu. Mereka mengobrol sejenak –entah membahas apa- dan tentunya dengan saling melempar senyum. Walau tidak ada skinship, tapi interaksi sederhana itu mampu membuat hati Chrystalline Tan mencelos. Pasalnya, tidak pernah sekalipun antara dirinya dan Christopher bisa mengobrol sesantai itu. Dia iri. Berbekal rasa iri itu, dengan kasarnya Chrystal menekan tombol klakson. Tiga kali klakson mobilnya berbunyi dan membuat semua orang yang melintas menjadi kaget. Masa bodoh! Dia tidak peduli dengan orang lain. Dia hanya ingin kalau dua sejoli sialan itu menyadari keberadaannya. “Kau memilih pulang denganku atau dengan Karina? Aku lelah menunggumu!” teriak Chrystal dengan melongokkan sedikit kepalanya dari jendela mobil. Sekali lagi, dia tidak peduli reaksi orang-orang. Dia hanya mau Christopher membuat keputusan dengan cepat. Dia atau Karina. Dia ingin cepat, tapi nyatanya Christopher tidak bisa cepat jika menyangkut Karina. Hati Chrystal semakin meradang. Apalagi melihat Christopher yang terlihat mencari-cari sesuatu yang dia duga sebagai taksi untuk Karina. Chrystal semakin mengepalkan tangannya. Haruskah dia menginjak pedal gas mobilnya dan menabrak Karina sampai mati? Dia ingin perempuan itu enyah dari kehidupannya dan Christopher. Sementara itu seolah paham kalau Chrystal bisa nekat, Christopher mempercepat apa pun yang bisa dilakukannya. Dia mendapatkan taksi, mempersilakan Karina untuk masuk, dan bergegas untuk menyusul Chrystal yang sudah duduk di dalam mobilnya. Dia mengetuk jendela kaca mobil dengan kalem. Sementara itu di dalam mobilnya Chrystal terlihat menetralkan napasnya sebelum membuka pintu. Christopher tidak boleh melihat lukanya atau pria itu akan semakin sering menyakitinya. “Kau tidak salah tujuan kan, Mr. Wang?” ejek Chrystal seraya menurunkan kaca mobilnya. Dan tentu saja dengan ekspresi sombong khas Chrystalline Tan yang mandiri. Christopher mengangkat bahu. “Aku dengan sadar memilih dirimu. Sekarang keluarlah, aku yang akan menyetir. Kau tidak bisa menyetir dalam kondisi seperti itu.” Chrystal berdecih. Betapa baiknya sang suami. Ini pasti karena perceraian mereka sudah ada di depan mata makanya sikap Christopher bisa sebaik ini. Dia pasti hanya ingin berpisah tanpa merasa bersalah makanya mengubah sikapnya di detik-detik terakhir. Dasar jahat! Batin Chrystal. Tak ingin berlama-lama, Chrystal segera membuka pintu dan turun. Dia akan menyerahkan tugas mengemudi ini pada Christopher. Dia melenggang mengitari bagian depan mobil dengan ekspresi yang masih tidak bersahabat. Dalam perjalanannya menuju kursi sebelah Christopher, Chrystal melirik taksi Karina yang sudah menjauh. Tangannya terkepal, apalagi saat ekor matanya gantian melirik Christopher yang sudah bersiap di dalam mobilnya. Seketika dia teringat dengan permintaan terakhir Nenek Christopher. “Chrys... kalau Nenek meminta untuk yang terakhir kalinya, bisakah kau tidak menyerah terhadap Christopher dulu? Nenek mohon, sayang...” Tadinya dia ingin melepaskan Christopher secepat mungkin karena sudah terlalu lelah. Ralat, dia sudah terlalu sakit. Tapi melihat orang yang menyakitinya akan menemukan kebahagiaan –Chrystal tidak rela. Chrystal membuka pintu tepat di sebelah Christopher, lalu menutupnya dengan kasar. Dia duduk dengan kedua tangan terlipat di depan d**a. Di balik kacamata hitamnya yang elegan, dia melirik Christopher dan memutuskan dengan mantap kalau dia tidak akan membiarkan Karina menang dan merebut Christopher dari sisinya. Ya, dia akan memperjuangkan Christopher sekali lagi. Seperti Christopher yang detik ini kembali ke sisinya, dia akan membuat Christopher terus kembali ke sisinya. Pada akhirnya Christopher dan Karina tidak akan pernah bersama. Kalau dia tidak bahagia, maka Christopher dan Karina juga tidak boleh berbahagia. TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN