Happy Reading ^_^
***
Christopher pulang ke apartemennya dan betapa terkejutnya dia karena Chrystal benar-benar bertindak seperti yang diucapkannya. Apa perempuan itu gila? Batin Christopher meronta-ronta karena kelakuan Chrystal yang semakin menjadi-jadi setia harinya. Dia tidak paham apa yang sebenarnya sedang dilakukan oleh istrinya itu. Semua ini tak tertebak.
Dia memandangi kamar yang berada tepat di seberang kamarnya dengan frustrasi. Kamar yang sebelumnya terasa hambar tanpa tuan kini terlihat girly khas Chrystalline Tan. Warna pink lembut beradu dengan warna putih bersih langsung membuat Christopher agak bergidik ngeri. Ini sangat kontras sekali jika dibandingkan dengan kamarnya yang bernuansa gelap.
Lagipula kenapa Chrystal harus melakukan ini sih? Pikir Christopher dengan murung. Dari sekian banyak tempat yang bisa didatanginya, kenapa harus apartemennya? Chrystal bukan jenis manusia yang tidak punya tujuan sama sekali. Jelas sekali kalau dia punya beberapa apartemen. Bahkan kalaupun dia benar-benar tidak punya tujuan, setidaknya dia masih punya uang yang melimpah. Dia bisa menggunakan uangnya untuk menginap di hotel berbintang sampai puas. Tidak ada yang tidak mungkin jika itu sudah menyangkut seorang Chrystalline Tan, tapi—
Christopher menggelengkan kepalanya. Tatapannya berubah nanar. Apa Chrystal sudah lupa kalau peperanganlah yang akan terjadi kalau keduanya disatukan?
Ingin protes dengan sikap Chrystal yang melakukan sesuatu tanpa persetujuannya, Christopher memilih berbalik dengan cepat. Tapi langkahnya tertahan saat matanya langsung bertatapan dengan mata Chrystal. Istrinya itu tepat ada di belakangnya. Tanpa suara. Dan tentunya tanpa rasa menyesal sedikit pun karena sudah melakukan semua ini.
“Oh, hi. Kau sudah pulang rupanya, Christ. Beristirahatlah. Aku yakin kau pasti lelah karena sudah bekerja seharian. Good night.”
Ya, Christopher memang lelah. Dan lelahnya semakin bertambah berkat kelakuan Chrystal. Dia menatap Chrystal dengan muram. Sosok istrinya yang hendak melewatinya begitu saja dia tahan dengan cara memegang pergelangan tangannya.
“Chrystal, sekarang jelaskan padaku apa maksud dari semua ini? Jangan coba-coba melakukan hal konyol, Chrys.” kata Christopher dengan nada memperingatkan. Matanya memicing. Dan kalau Chrystal memahaminya, seharusnya dia tidak berulah layaknya bocah yang tidak pernah diperingatkan.
Tapi Chrystal tetaplah Chrystal. Perempuan itu senang mempermainkan perasaannya. Bukannya merasa bersalah karena sudah bertindak seenaknya, Chrystal justru menaikkan sebelah alisnya. Sikapnya yang masih santai membuat Christopher gemas. Orang lain akan langsung merasa kerdil kalau diperlakukan seperti ini oleh seorang Christopher Wang, tapi Chrystal berbeda. Dia malah semakin antusias untuk menantang dirinya.
“Semuanya sudah jelas, Christ. Aku berencana tinggal di sini selama beberapa hari makanya aku memindahkan beberapa barang-barangku kemari. Lalu konyolnya itu di mana? Jangan lupa dengan status kita yang masih suami-istri, sir.”
“Dan kenapa harus di sini, Chrys? Kau punya apartemen, bahkan kau juga punya uang yang cukup untuk menginap di hotel. Tapi kenapa harus di sini?” Christopher menghela napas perlahan, kemudian melanjutkan kejengkelan yang terpancar jelas di matanya. “lagipula, bukankah kau seharusnya kembali ke Amerika? Semua yang ada di sini sudah selesai.” tambahnya dengan nada ketus.
Chrystal langsung menatap Christopher dengan tatapan muramnya. Sebegitu inginnya kah sang suami untuk mengusirnya dari Indonesia? Dia terlihat tidak sabaran. Dengan santai Chrystal melepaskan genggaman tangan Christopher. Dia menjauh sedikit untuk memberi jarak.
“Well, aku baru kembali ke Indonesia beberapa hari lalu dan rasanya tubuhku masih sangat lelah. Dan dengan kondisi yang seperti ini, aku jelas harus beristirahat dengan baik.” Chrystal menjelaskan secara lambat-lambat.
“Di apartemenku?” sela Christopher dengan cepat. Dia masih mempermasalahkan tempat yang dipilih wanita itu.
Dan tentu saja Chrystal mengangguk. Dia sedang memainkan emosi suaminya. “Ya, di apartemenmu. Kau kan suamiku. Ada yang salah Mr. Wang?”
Christopher memejamkan matanya sebentar, kemudian membukanya lagi setelah stok kesabarannya sudah bertambah... walau sedikit.
“Meskipun kita menikah, tapi kita tidak pernah ada di hubungan yang membuat kita bisa tinggal seatap, Chrys.” Christopher menjelaskan dengan lambat-lambat dengan harapan Chrystal akan mengerti dan menyerah. Tapi Chrystal tetaplah Chrystal. Semakin dia emosi malah semakin bahagia dia melanjutkan perdebatan ini.
Chrystal menjentikkan jarinya. “Benar sekali, Christ. Tapi masalahnya adalah orang-orang tahu kalau kita terikat dalam status pernikahan. Jadi bagaimana mungkin aku ada di Indonesia tapi tidak tinggal di tempat yang sama dengan suamiku tinggal? Tidak mungkin. Kita akan jadi bahan gunjingan. Dan aku tidak mau menjadi bahan gunjingan.”
“....”
“Lagipula aku hanya menumpang selama beberapa hari, jadi tidak perlu ada hubungan khusus. Ikatan pernikahan semu kita sudah cukup. Kau dengar aku, Christopher?”
Christopher mendengarnya dengan baik, tapi kejengkelannya membuat pria itu membuang wajahnya dengan kasar. Dia mendengus yang sangat diyakini kalau Chrystal pun mendengar dengusan itu.
“Ada yang mau kau katakan lagi, Christ? Aku tidak bekerja, tapi aku cukup lelah. Jadi aku ingin beristirahat lebih awal malam ini.” kata Chrystal berusaha menutup obrolan memuakkan ini.
“Hari itu apa yang sebenarnya kau bicarakan dengan nenekku, Chrys? Kau berubah sejak saat kau bertemu dengan beliau.”
Mengabaikan perkataan Chrystal, Christopher menanyakan hal yang sangat membuatnya penasaran. Ya, jika dipikir-pikir memang sikap Chrystal menjadi aneh sejak bertemu dengan neneknya. Sang nenek pun tidak mau berbagi cerita tentang pertemuannya dengan Chrystal. Dan hal inilah yang membuat Christopher bertanya-tanya.
Christopher menunggu karena melihat raut wajah Chrystal yang terlihat berfikir. Dia seperti akan membocorkan semuanya. Tapi penantiannya jadi menjengkelkan saat mendengar kata ‘tidak ada’ dari bibir perempuan itu.
“Chrystal...” Christopher memperingatkan--entah untuk yang ke berapa kalinya. Jujur saja, dia sudah muak memperingatkan seseorang yang bebal seperti Chrystalline Tan.
Dan bukannya khawatir dengan suara suaminya yang berubah dalam, Chrystal malah berujar dengan santainya. “Christopher... apa salahnya membiarkan aku tidur di apartemenmu yang luas? Kau masih bisa membawa Karina kemari tanpa perlu memikirkan aku, lalu masalahnya di mana? Bahkan aku juga tidak memakai kamarmu.”
“Jangan pernah membawa-bawa Karina dalam permasalahan ini,” geram Christopher. Emosinya perlahan-lahan mulai tersulut.
Detik itu juga Chrystal langsung terkekeh mengejek. Dari sekian banyak kalimat provokasi yang dilontarkannya tapi hanya nama Karina yang membuat pria itu hampir lepas kendali. Dia benar-benar tidak menyangka kalau Karina sudah mempengaruhi sosok sang suami sebegitu dalamnya.
“Selalu Karina,” dengus Chrystal dengan tatapan mengejek. “kalau kau tidak mau aku membawa-bawa nama Karina di sini, maka biarkan aku beristirahat dengan tenang di apartemenmu. Hanya itu yang kuinginkan.”
TBC