28. Maaf yang Tak Berarti

1070 Kata

Sinar matahari memasuki celah* kamar Selim. Mata pria itu mengerjap sebentar lalu mencoba bangun untuk duduk di tepi ranjang. Namun, tiba-tiba ia merasakan kepalanya sangat sakit. "Astaga!" pekiknya. Suara ketukan pintu menyadarkannya. "Masuk!" seru Selim. Alara masuk dengan rambut terbungkus handuk putih, tetapi ia telah berpakaian rapi. Kedua tangannya membawa nampan dengan semangkuk bubur ayam, segelas air putih, dan secangkir air lemon hangat. "Silakan, Pak!" ucap Alara tanpa memandang Selim yang terus menatapnya. Alara membalas tatapan pria itu. "Kamu mau langsung berangkat?" tanya Selim datar. "Iya, Pak." Selim mendengus. "Pergilah!" Alara mengangguk lalu pergi meninggalkan Selim yang larut dalam pikirannya sendiri. Ponsel Selim berdering. Pria itu memang memiliki ponsel c

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN