12. Sandiwara Berlanjut

1020 Kata
Beberapa mahasiswi menyapa Selim ketika pria itu keluar dari dalam mobil. Ia hanya membalas sapaan mereka dengan anggukan singkat dan tentu saja tanpa senyuman. Ia terus melangkah memasuki gedung fakultas. Ia tak sabar menemui Alara yang ia minta datang terlebih dahulu ke ruang kerjanya. Berbeda dengan Selim yang berjalan tergesa-gesa, Alara malah sibuk dengan buku bacaan di tangannya. Ia mengambilnya dari salah satu rak buku di ruangan itu. Sebelumnya, ia sudah membuat teh madu hangat dan meletakkannya di atas meja. Saat gadis itu sedang membaca, Selim masuk setelah membuka pintu secara pelan nyaris tanpa suara. Matanya menatap takjub pada penampilan Alara yang sedikit berbeda. Jika sebelumnya gadis itu senang memakai celana panjang dan kemeja lengan panjang atau lengan pendek, hari ini ia tampil dengan long dress tanpa lengan dengan motif bunga mawar dan warna dasar pink pastel dan menutupi mata kakinya. Lengannya ia tutup dengan cardigan berwarna navy. "Eh, maaf, Pak. Saya membaca buku Anda tanpa izin." Selim tersenyum sembari melangkah mendekati Alara yang duduk di sofa panjang. Ia pun duduk tepat di samping gadis itu. "Tak masalah. Kamu bawa pulang juga gak apa-apa," imbuh Selim. Alara tersenyum sinis. "Yang ada, Anda akan terus meneror saya gara-gara buku itu!" "Berarti saya punya alasan untuk terus menghubungimu." Alara merasa pernyataan Selim terdengar ambigu. Namun, ia segera menepisnya. "Langsung saja, Pak. Sebenarnya apa alasan Anda meminta saya datang terlalu pagi, bahkan Anda meminta saya langsung ke sini?" tanya Alara, menyelidik. Alisnya terangkat sebelah, menanti jawaban apa yang akan diberikan oleh dosennya itu. Bukannya menjawab, Selim malah menggaruk keningnya padahal tak gatal. Alara hanya bisa geleng-geleng kepala. "Kenapa dengan Pak Selim? Kayak orang salah tingkah gitu!" Alara mendengus kesal, meletakkan buku milik Selim yang baru sempat ia baca tiga halaman, mengambil tasnya lalu pamit. "Mau ke mana, Lara?" Tangan Selim mencekal lengan gadis itu. Belum sempat Alara menjawab, ponselnya berdering. "Iya, Vin?" "Kamu di mana? Sebentar lagi masuk lho. Kalau tahu gini mending aku jemput aja!" "Aku udah di bawah kok," jawab Alara. "Oke. Aku tunggu, ya! Duduk di sampingku lagi kayak kemarin." Alara terkekeh seraya mematikan ponselnya. "Vino?" tanya Selim. Alara mengangguk. "Maaf, Pak. Saya harus ke kelas sekarang. Assalamu 'alaikum!" Selim tak lagi mencegah kepergian Alara seraya menjawab salam gadis itu dengan lirih. *** "Kamu naik apa?" tanya Vino begitu Alara sudah duduk di kursi tepat di sampingnya. "Bisa biarin aku tarik napas bentar gak?" protes Alara. Vino terkekeh geli. Namun, tiba-tiba pemuda itu menatap Alara dari kepala sampai kaki. "Cantik!" gumamnya. "Kenapa, Vin?" "Kamu!" Alara memalingkan wajahnya. Ia tak ingin Vino melihatnya merona. Sementara Vino malah tersenyum lebar. Suasana kelas yang sempat ribut mendadak hening saat dosen yang ditunggu masuk ke kelas. "Tumben kamu pakai baju gitu," bisik Vino. "Ibu yang jahit buat aku. Ada tiga long dress kayak gini. Kenapa? Mau juga?" celetuk Alara asal. Vino terkikik seraya mengusap rambut Alara. "Kamu mau suruh aku pakai itu juga? Terus aku mangkal di pinggir jalan? Ogah! Mending kamu yang pakai, terus aku yang lihat sampai gak berkedip." Alara semakin menunduk. Ia mengeluh dalam hati karena belum sampai satu jam, laki-laki yang duduk di sampingnya ini sukses membuatnya merona. Ia juga juga harus menjaga sikap sebelum dosen yang sedang menerangkan materi Elektrolisis ini mengusirnya dari kelas. *** "Lara, aku duluan, ya! Mama minta ditemani jalan. Kamu gak apa-apa, kan?" Vino merasa tak enak hati karena meninggalkan Alara. Alara tersenyum menenangkan. "Iya. Udah, nanti mama kamu marah." Vino mengangguk sembari tersenyum. Setelah mengucap salam, motor Vino perlahan menjauh meninggalkan Alara sendirian. "Ikut saya!" Suara Selim mengagetkan Alara. Gadis itu pun mengikuti Selim dari belakang. "Kita ke mana, Pak?" tanya Alara setelah Selim melajukan mobilnya. "Kamu harus tampil sempurna malam ini. Jangan sampai ibu saya tidak menyukai penampilanmu!" Alara menghela napas pasrah seraya menatap jalan raya yang cukup ramai. "Terserah Anda saja!" Selim tersenyum melihat ekspresi Alara saat ini. "Kita ke salon dulu. Kamu manjakan dirimu di sana. Mau sampai berapa jam pun saya akan menunggu," ujar Selim. Alara mengangguk pasrah. Dua puluh menit berlalu. Mobil yang membawa mereka telah berhenti di sebuah ruko dua lantai yang merupakan salon sekaligus butik. "Turunlah!" titah Selim. Alara menurut. Gadis itu hendak berjalan di belakang Selim, akan tetapi pria itu menggamit tangan Alara agar berjalan bersisian. *** Selim telah memilih tiga long dress sesuai dengan selera Alara. Sementara ia menunggu Alara menjalani serangkaian tubuh dan wajahnya, ia menunggu di lantai satu sembari memainkan game di ponselnya. Dua jam berlalu. Alara keluar dengan wajah yang sudah dipoles dengan riasan tipis serta long dress warna merah terang tanpa lengan yang begitu sesuai dengan kulit putihnya. Rambut hitamnya dibentuk curly di bagian ujungnya. "Bagaimana, Pak?" tanya salah satu perias di tempat itu. Selim mendongak, memperhatikan penampilan Alara dari ujung rambut sampai ujung kaki tanpa berkedip. "Ini beneran Alara?" Sekali lagi, Selim menatap tak percaya sosok mahasiswinya itu. Alara mencebik, sedangkan sang perias malah terkekeh geli. "Iya, Pak. Pacar Anda ini sudah cantik dari sananya. Tinggal dipoles dikit jadi makin cantik," ujarnya. "Anda benar, dia cantik," puji Selim. Alara mendengus. "Bagaimana? Jadi?" "Tentu saja! Ayo, kita harus cepat!" Alara mengangguk patuh. Seorang pegawai butik menyerahkan dua paper bag pada Selim. Pria itu maju ke bagian kasir lalu menyerahkan black card padanya untuk proses pembayaran. Setelah membayar, Selim mengajak Alara keluar setelah mengucapkan terima kasih pada mereka. "Jangan nervous, Lara! Semuanya akan baik-baik saja!" ucap Selim. Alara menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Kepalanya mengangguk pelan. "Sabar, Alara! Ini hanya sandiwara. Gak usah terbuai sama perilaku sok manis dosen menyebalkan ini!" ujarnya, membatin. Sembari mengemudi, Selim berbincang sedikit tentang kehidupan Alara serta keluarganya. Seluruh pertanyaan yang Selim ajukan dijawab jujur oleh Alara tanpa melebih-lebihkan. Harus pria itu akui, Alara adalah gadis yang selalu bertindak apa adanya, tak seperti wanita lain yang sengaja melakukan apa pun demi menarik perhatian pria. Suasana di dalam mobil kembali hening. Hanya suara musik dari audio mobil yang terdengar. Alara menatap jalan raya yang selalu terlihat ramai, berbeda dengan Selim yang fokus menyetir sambil sesekali memperhatikan gadis yang duduk di sampingnya. "Mungkin caraku mendekatimu di luar nalarmu. Aku hanya berharap semoga dengan ini kamu melihatku sebagai seorang pria yang memujamu, bukan hanya sekadar antara dosen dan mahasiswinya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN