6

1153 Kata
Setelah kepergian Sienna, Lexa segera menyembunyikan obat itu dan dengan berdebar-debar menantikan kemunculan Colin. Dia bersiap-siap untuk melawan laki-laki itu karena dia tahu Colin pasti akan kembali memaksa bercinta dengannya. "Aku tidak tahu jika kamu sudah tidak sabar menanti kepulanganku," ucap Colin saat membuka pintu dan menemukan Lexa sedang duduk di sofa. "Jangan besar kepala, Mr. Donovan," ucap Lexa tidak peduli. Colin meletakkan tas yang dibawanya dan menghampiri Lexa. Dia meraup Lexa ke dalam pelukannya. "Lepaskan aku!" jerit Lexa karena dirinya tahu jika sekaranglah saatnya Colin akan kembali memerkosanya. "Kamu menjijikan!" jerit Lexa kembali dan berusaha memberontak melepaskan Colin darinya. Colin membawa Lexa ke dalam kamar, kembali merobek pakaiannya yang Lexa kenakan, setelah tubuh Lexa polos dia melemparkannya di ranjang dan dengan cepat dirinya membuka semua pakaiannya. Kemudian dengan satu tarikan pada kaki Lexa yang berusaha untuk kabur, Colin kembali memasuki kehangatan Lexa. Lexa terdiam saat merasakan Colin kembali memasuki tubuhnya, dirinya mematung saat laki-laki itu mulai bergerak dengan perlahan. Cepatlah... Lexa memohon di dalam hatinya, berharap Colin akan segera menyelesaikan semuanya sebelum tubuhnya menikmatinya karena saat ini dirinya mulai merasakan desiran aneh pada tubuhnya. "Aku_," ucapan Lexa terhenti saat Colin menciumnya dengan perlahan dan terus memagutnya hingga ciuman perlahan Colin berubah menjadi ciuman rakusnya pada bibir Lexa. Saat puas menikmati bibir Lexa, dia turun menelusuri leher Lexa menggunakan bibir dan lidahnya hingga rasa nikmat menjalar ke sekujur tubuh Lexa dan gerakan tubuh Colin di dalam tubuhnya mulai menimbulkan rasa nikmat. Napas Lexa memburu saat mulai merasakan rasa nyeri nikmat di sekujur tubuhnya. Tidak aku tidak bisa membiarkannya, dia akan semakin menghinaku jika tahu aku menikmatinya. "Dapatkah kamu segera menyelesaikannya? Aku merasa jijik dengan semua sentuhanmu dan aku jijik saat kamu berada di dalam tubuhku begitu lama!" jerit Lexa. Lexa bisa melihat kemarahan berkobar di kedua mata Colin dan dia mulai memompa milik Lexa dengan kasar hingga akhirnya dirinya mencapai pelepasannya dan kembali menumpahkan benihnya di dalam kehangatan Lexa. Seketika Lexa merasa lega saat Colin menarik keluar miliknya dari kewanitaannya hingga rasa nikmat yang dirasakannya langsung menghilang. Dengan derap langkah kesal Colin masuk ke dalam kamar mandi. Dirinya merasa sangat marah dengan kata-kata yang Lexa tujukan padanya. Kenapa aku merasa jika akulah yang kalah di sini? Harusnya aku yang menghancurkannya tapi kenapa aku merasakan jika aku yang hancur. Colin berjalan di bawah pancuran berniat untuk membersihkan dirinya. Saat baru akan menyalakan pancuran, dia merasakan cairan di miliknya dan dirinya tahu jika itu bukan miliknya. Dia menyeringai merasa senang karena ternyata Lexa mulai menikmati percintaan mereka dan sekarang dia menyadari jika wanita itu sengaja menghinanya agar dia menyelesaikan semuanya secepat mungkin. Dia memang pernah mengatakan tidak akan membiarkan Lexa menikmatinya karena itulah dia langsung memasuki kehangatan Lexa tanpa pemanasan selama ini. Bagaimana jika aku membuat Lexa memohon dan menjerit nikmat oleh sentuhanku? Apakah akan terasa lebih memuaskan dari pada biasanya? Tidak ada salahnya aku mencoba karena jika ternyata jeritan kesakitan dan marah Lexa lebih menyenangkan, aku hanya tinggal kembali seperti sebelumnya, tapi jika jeritan kenikmatannya lebih memuaskan, mungkin aku akan mengubah siksaanku padanya, dia tersenyum senang memikirkan semua itu. Dia mandi dan tersenyum puas. Dia tahu siksaan apa yang selanjutnya akan dilakukannya pada Lexa. Dia sunggah merasa sangat penasaran kenapa Lexa berusaha tidak ingin menikmatinya. Tubuh Lexa menegang saat mendengar pintu kamar mandi yang dibuka. Dengan cepat dia menutup tubuhnya menggunakan selimut. "Mandilah dan setelah itu makanlah," ujar Colin dan keluar dari kamar. Saat Colin meninggalkannya dengan cepat ia mandi dan setelah selesai segera menyusul Colin di luar kamar. Dirinya harus mengumpulkan tenaga lagi karena ia tahu setelah ini, Colin akan kembali memerkosanya. Saat sudah selesai makan, Lexa bergegas pergi dari ruangan itu dan bersembunyi di kamar. "Aku tidak tahu jika kamu tidak sabar lagi untuk kembali bercinta denganku," ucap Colin saat masuk ke dalam kamar dan menemukan Lexa sudah di ranjang. Dengan tubuh kaku Lexa diam saja dan tidak menanggapi ucapan Colin padanya. "Lakukanlah dengan cepat karena itu terasa menjijikkan untukku," ucap Lexa akhirnya kembali memanas-manasi Colin. Colin mendekat dan meraup Lexa ke dalam pelukannya. Dirinya memagut bibir Lexa dengan perlahan, mencicipi tekstur kelembutan bibir itu. Kemudian Colin berpindah menyusuri pipi Lexa menuju cuping telinga wanita itu, mengigitnya pelan dan menghisapnya. "Apa yang kamu lakukan?! Lakukanlah dengan cepat! Aku jijik!" jerit Lexa. Colin tidak memedulikan ucapan Lexa tapi dengan perlahan dirinya terus turun menyusuri leher Lexa dan dengan satu tarikan, kemejanya yang di pakai Lexa terbuka. Dia menurunkan kepalanya menciumi p******a Lexa dan dirinya bisa mendengar napas Lexa yang mulai memburu. Dia tersenyum, merasa sangat senang. "Hentikan!" bentak Lexa dan berusaha mendorong kepala Colin menjauh dari payudaranya dengan panik. Colin terus menciumi, mengulum dan menghisap p******a Lexa dengan perlahan. "Tidak!" teriak Lexa berusaha bangun dan menjauh dari cumbuan Colin. Colin menarik kaki Lexa dan tidak membiarkannya menjauh. "Tidak!" teriak Lexa kembali berusaha memberontak dan memukul Colin terus menerus agar menjauh darinya. Dengan perlahan Colin menangkap kedua tangan Lexa dan menekannya di atas kepala wanita itu sedangkan tubuhnya menindih tubuh Lexa. Dia tersenyum puas saat melihat p****g Lexa yang terpampang di hadapannya begitu keras karena sentuhannya. Dirinya kembali turun untuk menikmati p******a Lexa dengan leluasa. "Hentikan!" jerit Lexa frustasi saat tubuhnya semakin merasakan rasa nikmat dari perlakuan Colin padanya. "Hentikan! Aku mohon!" isak Lexa mulai merasakan rasa nikmatnya semakin memuncak. Dirinya lega saat Colin berhenti dan sibuk membuka pakaiannya. "Selesaikanlah dengan cepat, karena sentuhanmu sangat menjijikan!" sergah Lexa kembali. Colin hanya tersenyum mendengarnya. Dengan perlahan dirinya memasuki kehangatan Lexa dan berdiam di sana. Kemudian dia mulai bergerak dengan perlahan sambil tangannya memainkan kedua p******a Lexa. "Cepatlah, aku mohon," isak Lexa dengan napas semakin memburu. "Kenapa harus terburu-buru?" tanya Colin. Kemudian dirinya menunduk dan memagut bibir Lexa sambil terus bergerak perlahan di dalam kehangatan Lexa. "Tidak! Tidak!" jerit Lexa menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan saat merasakan rasa panas di sekujur tubuhnya. Dirinya berusaha mendorong Colin agar keluar dari dalam tubuhnya tapi Colin terus bergerak dengan perlahan bahkan sekarang kembali mencumbu p******a Lexa dengan pelan. Lexa melengkungkan punggungnya meminta perhatian lebih dari mulut Colin. Dirinya mengelinjang kepanasan di bawah tubuh Colin. "Hentikan!" desahnya saat kenikmatan-kenikmatan yang di rasakannya semakin memuncak dan dirinya merasakan sesuatu yang akan segera menghampirinya. "Lepaskan! Dan teriakan namaku," bisik Colin di telinga Lexa. "Colin!" jerit Lexa saat o*****e pertama menghampirinya dan tanpa bisa dia kendalikan tubuhnya melengkung dan tangannya menjambak rambut Colin saat badai itu meledak di dalam tubuhnya. "Sepertinya sentuhanku dan tubuhku tidak terasa menjijikkan lagi untukmu," bisik Colin di telinga Lexa dan mulai memompa tubuh Lexa dengan cepat untuk mengejar kenikmatannya sendiri. Geraman terdengar dari mulut Colin dan kali ini dirinya merasa sangat terpuaskan bahkan lebih dari pada biasanya. Dia berbaring di belakang tubuh Lexa saat sudah selesai. Dirinya bisa merasakan tubuh Lexa yang menegang. Mulai hari ini aku akan mengubah strategi karena ternyata jeritan nikmatmu membuatku merasa lebih gembira dari pada teriakan kesakitan dan kebencianmu, batin Colin senang. Dia tersenyum dengan sangat bahagia dan tertidur lelap dengan Lexa yang berada di dalam pelukannya. Lexa membiarkan air matanya mengalir saat dirasakannya Colin sudah tidur. Ia lebih merasa terhina dengan kenikmatan yang Colin berikan dari pada rasa sakitnya. Ia lebih memilih rasa sakit itu dari pada rasa nikmat karena ia tahu Colin sengaja memberikan kenikmatan itu untuk menghinanya. *** Jangan lupa klik love ya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN