4

1062 Kata
Akhirnya malam ini aku bisa membalasnya. "Sebentar lagi tubuhmu akan menjadi milikku, Lexa." Lexa mengelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Dirinya masih berusaha menjauh dari Colin yang mengarahkan kejantanannya di area intimnya. Hingga Colin menarik ke dua kakinya kembali dan langsung menghujamkan tubuhnya pada kewanitaan Lexa. "Akh!" teriak Lexa saat rasa sakit terasa begitu menyakitkan di kewanitaannya ketika kejantanan Colin membelah tubuhnya. Air mata semakin deras mengalir di kedua mata Lexa. "Ya, berteriaklah dan teruslah menangis. Aku suka mendengarnya," ujar Colin dingin berbisik di telinga Lexa. Lexa memejamkan matanya dan berharap rasa sakit itu akan segera hilang. Sampai Colin kembali bergerak, rasa sakit itu kembali terasa semakin menyakitkan. Lexa mengigit bibirnya sekuat tenaga agar tidak berteriak seperti keinginan laki-laki itu tapi hal itu sia-sia sebab rasa sakit itu semakin menjadi saat Colin bergerak semakin cepat dan menghujam ke dalam tubuhnya sedalam mungkin. Air mata terus mengalir di kedua mata Lexa dan dirinya berusaha agar tidak terisak. Sampai akhirnya ia tidak tahan lagi dan mengigit bahu Colin sekuat tenaga berharap rasa sakit akan segera pergi dan berharap Colin akan segera menyelesaikan semuanya. Geraman terdengar dari bibir Colin karena kenikmatan yang didapatnya dan juga rasa sakit di bahunya karena gigitan Lexa tapi hal itu sepadan dengan kenikmatan yang dia dapat dari tubuh Lexa. Lexa bisa bernapas lega saat akhirnya Colin selesai dan keluar dari dalam tubuhnya. "Kamu ternyata masih sangat rapat," ujar Colin dan bangun dari ranjang lalu keluar dari kamar. Isakan seketika meledak dari mulut Lexa tanpa bisa dia kendalikan lagi dan air matanya membanjiri ranjang itu. Lexa memeluk diri sendiri sambil terisak menumpahkan semuanya. Saat puas menangis dengan pelan ia bangun dan berjalan tertatih-tatih menuju kamar mandi. Selesai membersihkan dirinya dia mengambil pakaian dalam dan roknya yang masih utuh kemudian mengambil kemeja Colin karena kemejanya sudah tidak bisa dipakainya lagi. Dengan pelan ia berjalan keluar dari kamar setelah memakai pakaian dan menuju pintu ingin segera keluar dari suite itu. Walaupun kewanitaannya terasa begitu menyakitkan saat berjalan, ia memaksakan dirinya untuk terus berjalan. "Mau ke mana, Lexa?" tanya Colin pelan dari sofa tempat dirinya duduk. "Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan, sekarang aku ingin pergi." "Tidak secepat itu, aku sama sekali belum puas menikmatimu." Lexa terbelalak takut mendengarnya, dia tidak sanggup lagi jika harus merasakan rasa sakit itu. "Tidak! Aku mohon biarkan aku pergi, Colin," pinta Lexa memelas. "Aku sudah membiarkanmu pergi selama tiga tahun, Lexa, dan sekarang saatnya kamu membayarnya," ucap Colin dan menangkap Lexa yang berusaha lari darinya. Colin memanggul Lexa kembali ke kamarnya dan tidak memedulikan pukulan wanita itu pada punggungnya. Saat sampai di ranjang, Colin melemparkan Lexa di ranjang dan kali ini dia menelanjanginya dengan mudah karena perlawanan dari Lexa tidak sekuat di awal tadi. Dengan sekali hunjam Colin kembali berada di dalam kehangatan Lexa dan dirinya mendesah karenanya. "Milikmu sungguh nikmat, Lexa. Jika aku tahu, aku akan menikmatinya sejak dulu." Dengan sekuat tenaga Lexa memukul-mukul bahu Colin agar melepaskan diri dari tubuhnya karena rasa sakit itu kembali terasa sangat menyakitkan. "Bunuh saja aku, Colin," isak Lexa mengeluarkan erangan yang begitu merana karena tidak sanggup lagi menahan semuanya dan di setiap gerakan yang Colin lakukan, Lexa hanya bisa pasrah dan membekap mulutnya agar tidak berteriak. Air matanya terus mengalir karena semua rasa sakit itu. Saat Colin selesai melakukan semuanya, Lexa hanya bisa terdiam dan tidak berani bergerak, berharap rasa sakit itu mungkin akan segera hilang, dirinya lega saat akhirnya Colin pergi dari sampingnya dan dia bisa kembali menangis. Dia memejamkan matanya yang lelah dan berharap jika semua ini hanyalah mimpi tapi dia tahu jika ini bukan mimpi. Dirinya sudah diperkosa oleh laki-laki yang dicintainya dan dia sudah melanggar prinsip yang diajarkan oleh mamanya. "Maafkan aku, Mama," ucap Lexa dan kemudian tertidur. Lexa segera membuka matanya saat merasakan seseorang kembali menyentuhnya. "Tidak!" jerit Lexa seketika terjaga dan bergegas lari dari sentuhan Colin hingga rasa sakit kembali menghinggapinya dan dirinya terjatuh di lantai saat mencoba berjalan. "Aku mohon, Colin. Lepaskan aku," pinta Lexa kembali ketakutan dan berusaha merangkak pergi. Colin terpaku di tempatnya saat melihat darah yang ada di sprei. Dirinya tidak tahu jika ternyata Lexa masih perawan dan bahkan dia melakukannya sebanyak dua kali. Colin kemudian turun dari ranjang dan meraih tubuh Lexa. Menggendongnya ke dalam pelukannya. "Jangan! Aku mohon," isak Lexa ketakutan dengan air mata berlinang dan berusaha memberontak dari pelukan Colin. "Ssst..." "Aku mohon jangan, Colin, sakit," isak Lexa lagi memohon belas kasihan. "Kenapa kamu tidak mengatakannya?" "Agar kamu bisa terus melakukannya untuk membalasku, Colin? Itukan yang kamu inginkan, memberiku rasa sakit. Jika rasa sakitku akan bisa membuatmu bahagia maka lakukanlah," isak Lexa pasrah. Colin membaringkan Lexa di dalam bathtub dengan perlahan dan mulai menyalakan air panas untuknya. "Berendamlah dan panggil aku jika kamu sudah selesai," ucap Colin lembut pada Lexa. Sesaat Lexa bingung apa yang terjadi karena dia mengira Colin akan kembali memaksa bercinta dengannya tapi ternyata dugaannya salah. Ia memejamkan mata menikmati air hangat itu dan berharap semua ini akan segera berakhir hingga ia merasakan seseorang kembali mengangkat tubuhnya dan rasa panik kembali menyerangnya. "Tidurlah," ujar Colin membaringkan tubuh Lexa di atas ranjang dan menyelimutinya. Sebelum keluar Colin menatap Lexa yang mulai tertidur dan menepis perasaan apa pun yang di rasakannya saat ini. Colin meninggalkan Lexa di sana sendirian dan tidur di sofa di ruang depan. Sampai keesokan harinya dirinya terbangun dan masuk ke kamar melihat keadaan Lexa yang tertidur lelap. Kenapa aku harus merasa iba dengan wanita pengkhianat ini? Dengan pelan Colin kembali meraih tubuh Lexa, melebarkan pahanya dan kembali memasuki tubuhnya. "Akh!" teriak Lexa saat rasa sakit kembali dirasakannya. Colin terdiam di sana membiasakan dirinya dan bergeming saat Lexa memukul dadanya. Air mata kembali mengalir di kedua pipi wanita itu. "Perawan he... apa kamu belum menemukan penawar tertinggi untuknya, Lexa? Maaf karena aku sudah merengut kesempatan itu," ucap Colin tersenyum sinis dan mulai bergerak. "Aku membencimu!" jerit Lexa di sela-sela rasa sakitnya. Lexa mencengkram sprei untuk menahan agar dirinya tidak berteriak. "Apa kamu sedang kesakitan? Berteriaklah karena benar yang kamu katakan, aku senang saat dirimu kesakitan karena aku bisa mengembalikan rasa sakit yang kamu berikan padaku dulu." Lexa mengigit bibirnya dengan keras hingga darah mengucur dari sana dan dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak berteriak. "Mulai hari ini aku akan menghancurkanmu, Lexandre dan aku tidak akan berhenti hingga kamu hancur," bisik Colin saat dirinya sudah mendapatkan pelepasannya dan menumpahkan benihnya di dalam tubuh Lexa. Tubuh Lexa membeku mendengarnya dan rasa dingin merayap ke dalam hatinya karena itu artinya Colin tidak akan melepaskannya hari ini dan jika dia menyerah maka Colin akan tertawa bahagia jadi dirinya tidak boleh menyerah. Dia harus bisa bertahan dari balas dendam Colin padanya. *** Jangan lupa klik love ya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN