Chapter 4

708 Kata
Part 4 Malam Pertama Huri berbaring di ranjang besar itu dengan membentangkan kedua tangan. Indera penciumannya masih terpukau dengan aroma aneka bunga yang menambah suasana malam kian sahdu. Suara gemericik air di dalam kamar mandi membuat Huri menoleh ke arah sana. Gadis itu tersenyum malu, hingga pipinya terasa menghangat. Apa malam ini saatnya? Hampir semua teman di kelasnya mengatakan jangan gugup saat malam pertama, tetapi tetap saja dirinya merasa sangat canggung. Cklek! Pintu kamar mandi terbuka. Sontak Huri bangun dan langsung duduk sambil melirik malu-malu pada suaminya yang sudah berpakaian. Piyama yang sudah disiapkannya di dalam sana, ternyata sangat pas di tubuh suaminya. Sayang sekali, guyonan teman di kampus yang mengatakan bahwa suaminya nanti akan keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk, adalah tidak benar. Itu hanya ada di adegan novel yang dituliskan oleh para pencipta adegan dengan tingkat kehaluan yang hakiki. Huri malah merasa, jika suaminya bisa masuk ke dalam sleeping bag, maka lelaki itu akan melakukannya. Wajahnya lebih merona daripada pengantin wanita. “Abang mau upacara atau mau tidur? Kenapa diam saja di sana? Ayo, sini! Saya nggak gigit, kok,” ledek Huri sambil tertawa pelan. Dengan ekor matanya, Elang melirik tawa renyah seorang Huri Hamasah. Sangat indah. Elang berjalan menuju ranjang dan langsung duduk di dekat Huri yang kini bersandar pada punggung ranjang. “Abang lucu sekali. Kita belum kenalan, kan? Waktu itu baru ketemu sekali saja. Bagaimana kalau kita berbincang saja, layaknya teman? Atau mau langsung tidur saja juga nggak papa,” ujar Huri tulus. Senyumnya masih saja mengembang di depan suaminya. Sementara Elang, bibir lelaki itu bagaikan diberi lem. Tidak mampu menyahut apa pun. “Maafkan aku, Kiya. Aku tidak tahu sampai kapan benteng ini bertahan untuk tidak mencicipi manisnya madu yang disuguhkan Huri.” Perasaan bersalah berkecamuk dalam hati Elang. Dia mengingat Kiya—istri pertamanya. Wanita yang ia cintai dengan sepenuh hatinya dan dia sudah berjanji tidak akan menyentuh Huri sampai Kiya mengizinkan. “Berbincang saja, bagaimana?” Suara berat itu akhirnya keluar juga. Huri senang, ia tersenyum dengan begitu lebarnya. “Abang atau saya yang lebih dahulu cerita?” tanya Huri sambil membetulkan duduknya senyaman mungkin. Satu bantal ia letakkan di atas kedua pahanya yang menekuk. “Kamu saja,” jawab Elang mempersilakan. “Kalau saya lebih dulu cerita, maka Abang harus melihat wajah saya, tidak boleh melihat lantai,” sindir Huri, karena Elang masih saja menunduk menatap lantai. Gadis itu tertawa renyah. Bayangan malam pertama yang berkeringat pupus sudah. Ucapan teman-teman di kampusnya semua tidak ada yang benar. Huri bertekad akan mengoceh habis-habisan pada temannya besok. Bagaikan robot, Elang memutar tubuhnya arah jarum jam dua belas. Duduk berhadapan dengan Huri yang kini menatapnya, bukanlah pilihan yang tepat, karena Elang merasa pasokan oksigen yang masuk ke dalam paru-parunya kian berkurang. Detak jantung itu pun semakin tidak beraturan. Kenapa harus dirinya yang secanggung ini? “Biasa aja, Bang. Jangan seperti robot gitu! Saya bukan Sumant* yang suka makan daging manusia, kan?” Huri kembali tergelak dan sekali lagi Elang terpesona dengan tawa gadis itu. Wajah Huri memang benar-benar cantik di matanya. “Oke, sekarang Abang dengarkan saya, ya? Nama saya Huri Hamasah. Mahasiswi jurusan design dan mode di salah satu universitas swasta di Jakarta. Saat ini sudah semester empat. Hobi saya menulis, menggambar, belanja bahan pakaian dan juga menjahit. Masakan kesukaan saya jengkol balado dan tumis pare. Saya juga suka ayam goreng rempah dan minum teh saat sore hari. Apa Mama saya pernah cerita sebuah rahasia pada Abang?” tanya Huri saat pemaparannya mengenalkan tentangnya sudah selesai. Elang menatap istri mudanya dengan alis yang mengerut. Lalu lehernya menggeleng kaku. “Rahasia apa?” tanya Elang sedikit penasaran. “Abang pasti bingung, kenapa saya mau menikah dengan suami orang, kan? Padahal saya masih gadis dan ya ... mungkin masih banyak bujangan yang mau dengan saya. Mmm, jadi ...” Huri tampak menarik napas. Ia ragu harus menceritakan sekarang atau nanti saja pada suaminya, tetapi lebih cepat lebih baik, agar suaminya juga paham dengan kondisinya. “Saat saya berusia tujuh belas tahun, ada yang melamar saya. Orang kaya dan berpendidikan. Tampan dan juga kharismatik, tetapi saya tolak, karena saya masih ingin kuliah dan saya juga sudah punya pacar. Akhirnya, pacar saya melamar saya, tetapi baru sebulan dari acara lamaran, dia meninggal.” Elang merasa jantungnya berhenti berdetak seketika. Lelaki itu susah payah menelan ludahnya. “Te-terus?” tanyanya gugup. “Tahun lalu, ada yang melamar saya lagi dan sebulan setelah lamaran, lelaki itu kembali meninggal,” jawab Huri dengan wajah menunduk sedih. Elang merasa bulu di tangan dan tengkuknya mulai berdiri. “Ap-apakah sa-saya korban berikutnya?” tanya Elang tergagap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN