Chapter 6

908 Kata
Part 6 Suara Hati Kiyara Namanya Kiyara, berusia dua puluh tujuh tahun. Pekerjaan sehari-harinya hanya mengurus rumah dan suami. Kemampuan istimewa lainnya tidak ada, selain memasak di dapur. Kiyara yang hanya mengenyam pendidikan sampai SLTA tak diizinkan oleh suaminya—Elang, untuk bekerja di pabrik atau sekedar menjaga toko. Semua itu dilakukan agar keduanya segera diberi momongan. Tak ada yang begitu istimewa dari kehidupan rumah tangganya, selain suami yang sangat menyayangi dan bersabar atas dirinya yang banyak sekali kekurangan. Ya ... walau beberapa kali ada tawaran untuk mengikuti lomba memasak di media sosial atau di lingkup ibu-ibu PKK, tetapi Kiya tidak pernah meresponsnya. Duduk di rumah menonton TV layar datar besar, sambil sesekali berbincang dengan para tetangga adalah hobinya untuk mengusir penat. Namun, di satu hari semua berubah. Tepatnya di hari ini, suaminya telah menikah lagi dengan wanita yang bisa dibilang hampir sempurna. Mungkin memang tidak ada cela pada sosok Huri Hamasah—madunya. Cantik, pintar, dari keluarga berada dan gadis itu tidak sombong. Kiya tahu itu, karena memang pernah beberapa kali bertemu dengannya dan bertegur sapa. Huri aktif membantu ibunya di lingkungan sekitar. Saat ada pembagian sembako murah di halaman rumahnya yang besar, Kiya datang ke sana dan disambut Huri dengan hangat. Justru itu yang membuat Kiyara semakin merasa kecil dan tidak ada apa-apanya dibanding Huri. Hati suaminya pun bisa terbagi dua karena gadis itu. Tidak ada yang bisa menjamin, saat lelaki dan wanita berada di atas kasur yang sama, di antara alunan rintik hujan seperti ini. Kiya duduk di atas ranjang dengan pandangan kosong dan hampa. Pintu kamar tidak ia kunci, begitu pun pintu depan, ia berharap sang suami kembali ke rumahnya malam ini, walau kemungkinannya hanya satu persen. Matanya berair. Kiya mengusap ujung matanya dengan jari tengah, lalu mematut diri di cermin. Garis lengkung bibirnya tertarik ke atas. Kiya tertawa pelan. Lebih tepatnya menertawakan dirinya sendiri. Sungguh tidak akan ada wanita yang benar-benar ikhlas berbagi cinta suaminya pada wanita lain. Apalagi, wanita itu jauh unggul darinya. Kring! Kring! Kiya tersentak. Badannya berbalik menatap sisi kasur yang biasanya ditempati oleh suaminya. Ponselnya memancarkan cahaya kerlap-kerlip dan memunculkan nama ‘Suamiku Sayang’. Secepat kilat Kiya meraihnya, lalu menggeser layar terima. “Halo, assalamualaikum ….” “Halo, Kiya. Kamu belum tidur, Sayang?” “Tidak ada istri yang bisa tidur, jika mengingat ini malam pertama suaminya dengan wanita lain.” “Kamu menangis?” “Tidak perlu Abang ditanya. Dari suaraku saja, Abang tahu, kan?” “Maafkan Abang, Kiya. Ada rahasia di balik ini semua. Besok Abang akan cerita. Abang juga tidak bisa tidur karena mengingat kamu terus. Rasanya Abang ingin sekali memeluk kamu. Maafkan Abang, ya?” Kiya tertawa keras. Namun, tawa itu terdengar mengejek. Kiya merasa, suaminya penuh dengan omong kosong. Bukannya suaminya menelepon dirinya, karena baru saja selesai mendayung pulang sampai ke seberang? “Ada apa? Kenapa kamu tertawa?” “Perkataan Abang lucu. Abang di sana juga ada istri, kan? Masih muda, cantik, kaya pula. Pasti karena itu Abang tidak menolak untuk dinikahkan dengannya, kan? Jangan dibantah! karena aku tahu itu kenyataannya.” Elang di seberang sana pun baru saja membuka mulutnya untuk menyanggah Kiya, tetapi tidak tega. Biarlah ia dengarkan dahulu kekesalan dan kemarahan sang istri. Suara isakan kembali terdengar. Kiya menangis pilu sambil memegang ponselnya. “Kalau Abang ingin memelukku, kenapa tidak pulang saja kemari? Pintu tidak aku kunci.” “Abang sangat ingin, tapi tidak bisa. Malam ini, izinkan Abang menemani Huri ya? Besok dan seterusnya, Abang akan membagi jadwal antara kamu dan Huri.” “Aku mau, Abang lebih banyak bersamaku!” “Iya.” “Huri hanya boleh satu hari saja bersama Abang. Aku tidak izinkan lebih dari itu. Karena kalau sampai lebih dari sehari, lebih baik kita cerai!” “Kiya, jangan memulai!” Suara Elang terdengar kesal, karena ada kata cerai yang kembali keluar dari bibir istrinya. “Abang cinta sama Kiya nggak?” “Ya ampun, Kiya ... kenapa pertanyaan konyol seperti itu ditanyakan? Udah pasti Abang cinta sama kamu. Tidak akan bisa Abang berpaling mencintai Huri. Hanya ada kamu aja di hati Abang. Memang terdengar lebay, tetapi itu kenyataannya.” “Kalau cinta diperjuangkan dong! Abang, kan, udah nurut maunya Ibu. Sekarang, Abang harus patuh pada keputusanku. Sehari saja jatah Huri dan enam hari jatahku.” “Iya, oke. Satu hari jatah aku bersama Huri dan enam hari bersama kamu. Sudah, ya? Jangan menangis di sana. Besok Abang ke rumah, Abang sudah rindu.” Elang terlalu asyik pacaran di telepon bersama Kiya, sehingga ia tidak sadar, bila Huri terbangun dan mendengar semua ucapan suaminya. Ia tidak boleh egois. Jika ia menjadi Kiya, bisa saja saat ini dia membakar rumah madunya karena cemburu. Kiya hanya menangis di seberang sana dan bersikap manja pada Elang. Ia tidak akan cemburu dan tidak boleh cemburu. Huri berbaring dengan tubuh kaku. Sudah satu jam suaminya berbincang di telepon dan sepertinya tidak ingin tidur. Huri masih setia menunggu. Sampai tiba-tiba saja perutnya terasa tak nyaman. Huri turun dari ranjang, lalu bergegas ke kamar mandi. Elang yang melihat Huri masuk ke dalam kamar mandi, mendadak pias. Lelaki itu menutup panggilan teleponnya bersama Kiya, dengan mengatakan ia mules. Awalnya Kiya kembali marah karena itu hanya alasan Elang saja, tetapi setelah dibujuk lama, baru Kiya setuju dengan Elang untuk tidur. Panggilan pun ditutup dengan saling kecup di ponsel. Huri keluar dari kamar mandi dan berjalan lagi ke kasurnya. Dengan canggung, Elang meletakkan ponsel di samping bantalnya, lalu berbaring kaku. “Tidak apa saya tidak kebagian cinta. Tidak apa saya hanya kebagian sehari saja dalam sepekan, karena saya tahu, Bang Elang sudah memiliki istri yang sangat Bang Elang cintai. Saya hanya minta, jika ingin bermesraan di ponsel, jangan sampai didengar oleh saya. Saya juga istri, kan? Posisi kami sama di mata Tuhan. Tidak mau menyentuh saya juga tidak apa-apa, paling-paling, bulan depan ada dua wanita yang akan jadi janda.” Elang menelan ludah. Kalimat terakhir dari Huri kembali membuatnya takut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN