Part 8 Mandiin Burung “Bang.” Huri mengayunkan lima jarinya di depan wajah Elang. Lelaki itu tersentak kaget, lalu mengalihkan pandangan. “Ada apa?” tanyanya, lalu senyuman lebar menggoda mengembang di bibir Huri. “Apa Abang sedang membayangkan sesuatu? Saya minta cium mungkin? Hahaha ... Kalung saya sudah terlepas, kenapa Abang masih bengong? Ayo, katanya harus buru-buru kerja?” Huri tertawa renyah, kemudian ia dengan mudahnya berdiri lebih dahulu dari suaminya. Tangannya terulur untuk membantu Elang berdiri, tetapi lelaki itu memilih bangun sendiri dengan wajah merah padam menahan malu. Aku menikahi gadis atau jin, sih? Kenapa dia bisa tahu bayangan apa yang ada di kepalaku? Elang bergumam dengan bulu tangan yang tiba-tiba saja sudah meremang. “Ini tasnya, Bang.” Huri pun berhasil

