Sashi Mataku terbuka dengan ingatan mengerikan bahwa Ava sudah memilih meninggalkanku. Berusaha untuk mengatasi kesedihan tidak mudah, apalagi ketika saat ini aku terbangun di rumah sakit dengan banyaknya orang disekelilingku. Ayah, Bunda, Bang Tama dan Istrinya, lalu beberapa dokter dan perawat saat ini ada di ruang di mana aku terbangun barusan. Ketika mereka menyadari aku sudah sadarkan diri, semuanya mendekat. "Sashi ... kamu sudah sadar sayang?" ucap Bunda dengan wajah penuh air mata. Terlihat bahwa Bunda sudah menangis sejak tadi. Wajah Ayah dan Bang Tama pun tidak kalah kusutnya. Keduanya terlihat menampakkan wajah khawatir dengan siratan emosi di mata. Keduanya juga langsung menanyakan apakah aku ada keluhan sakit lain. Tidak lama kemudian, seorang dokter mendekat dan memeriks

