"Yaudah, ayo balikan sama gue!"
Mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Ardi tadi—yang bertepatan dengan bel istirahat berbunyi, seharusnya Elara senang. Tetapi entah mengapa justru itu membuat Elara kesal dan memilih untuk meninggalkan Ardi di lapangan sendirian.
Ya, tanpa mengatakan apa-apa lagi Elara langsung menarik langkah menjauh dari Ardi. Sampai laki-laki itu menghampiri atau menemuinya berkali-kali hingga pulang sekolah pun, Elara tidak hiraukan.
Dan di sinilah Elara sekarang, rumahnya. Dengan cepat kakinya menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya di lantai dua. Ia ingin langsung berbaring di tempat tidurnya yang nyaman. Tangannya dengan cepat membuka kenop pintu putih gading di depannya, seketika itu Elara terkesiap. Tetapi dengan cepat ia mengubah ekspresinya menjadi datar kembali.
Yang sekarang ia lihat di depannya adalah Ardi sedang duduk di meja belajarnya dengan satu tangan di belakang punggung. Elara menghela napas pendek. Belum ingin menggerakkan kakinya ke manapun.
Terlihat kini Ardi menyelipkan senyum tipisnya saat melihat Elara dan bangkit dari persinggahannya itu. "Lo keliatan capek banget. Mau minum dulu?" tanya Ardi seraya membawa gelas yang berisikan jus jeruk di tangannya yang ia ambil dari nakas dan berjalan mendekat ke arah Elara.
Elara tentu saja dengan cepat menggeleng saat tangan kanan Ardi terulur di depannya, dan tanpa memedulikan laki-laki itu lagi Elara langsung melempar tas ranselnya ke sembarang arah kemudian, menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur.
Keinginan Elara untuk melihat ke arah Ardi harus ia pendam dalam-dalam sekarang. Dan yang ia pilih adalah menutup kedua matanya rapat-rapat.
"Ra." Terdengar panggilan dari Ardi setelah beberapa menit kemudian. Elara langsung menghela napas pelan.
"Lo ngapain ke sini?" tembak Elara akhirnya. Gadis itu saat ini memang benar-benar tidak ingin melihat lawan bicaranya. Walaupun Ardi sangat berharga untuk dilewatkan. Tetapi, ia sekarang memang benar-benar merasa kesal. Oke, sedikit kesal.
"Nemuin elo lah. Emangnya mau ngapain lagi?" Suara Ardi terdengar kembali. Elara lalu membuka kedua matanya perlahan. "Lo ke mana aja? Gue udah dari tadi nunggu lo di sini," lanjut laki-laki itu.
Butuh waktu lama untuk Elara menjawab pertanyaan simpel itu. Ia lebih memilih untuk melihat langit-langit kamarnya yang dua bulan ini sudah tidak polos lagi; sekarang terdapat banyak bintang-bintang dan planet-planet yang akan menyala saat keadaan gelap. Glow in the dark. Ardi yang membantunya memasangkan semua itu, Elara mengingat. "Gue—"
"Lo marah karena apa sih? Karena gue bilang soal balikan? Tapi bukannya itu yang lo mau?" potong Ardi, sebelum Elara dapat menyelesaikan ucapannya itu.
Elara menggerakkan kepalanya menghadap ke arah Ardi yang telah duduk kembali di tempat semula. "Siapa juga yang bakalan seneng kalo lo ngomongnya aja kayak kepaksa? Lo ngajak balikan juga kayak ngajak berantem tau gak?!"
Lalu, terdengar Ardi terkekeh pelan. "Seriously, Ra? Bener lo marah cuma karena itu?" tanyanya dengan nada yang sangat menjengkelkan di telinga Elara.
Mendengar itu, Elara hanya memutar kedua matanya. Tidak ingin menyahut lagi. Dan Ardi memilih berpindah tempat untuk bersandar pada tembok di depan Elara. Memperhatikan gadis itu lekat-lekat. "Kalo lo mikir gue ngomong kayak gitu karena terpaksa atau apa pun itu lo salah, Elara. I meant it." Setelah mengatakan itu, Ardi mendekat lagi. Laki-laki itu lalu ikut berbaring di samping Elara.
Dari jarak sedekat ini, Elara dapat mendengar helaan napas berat yang Ardi keluarkan. "Gue pengecut banget gak sih, Ra? Baru bilang itu sekarang padahal—lo bener, gue inginin itu udah lama. Pengen balik lagi sama lo, tapi gue tahan-tahan terus karena gue pikir; buat apa?" Kedua mata Ardi melihat ke arah langit-langit kamarnya juga.
Iya, untuk apa mempertahankan hubungan yang tidak akan bisa mengakhiri mereka untuk bersama-sama.
"Gue shock gue akuin. Dan begonya gue, gue malah ngindarin lo bukannya ada di samping lo. Gue minta maaf, gue bener-bener gak tau harus ngapain pas itu. Karena satu yang gue tau, kita gak bisa ngapa-ngapain, kan? Gak bisa berbuat apa-apa lagi?"
Elara menoleh ke arah Ardi yang sudah lebih dulu melihatnya. Lama. Dan Ardi yang pertama berpaling, tetapi Elara langsung menahannya dengan tangan kirinya yang berada di sisi wajah Ardi. "Sori juga udah cuekkin lo tadi, jangan marah sama gue ya?" bisik Elara dengan ekspresi bersalahnya.
Mendengar itu, Ardi mengangkat kedua sudut bibirnya dan mengangguk pelan. Lalu, terlihat tangan kanan Ardi mengambil tisu basah di atas nakas dan diraihnya tangan Elara yang berada di pipinya itu. "Gue bersihin sini. Tangan lo bener-bener kotor banget, kayak abis mulung." Terdengar kekehan pelan dari Ardi lagi. Tangannya mulai mengusap-usapkan tisu itu ke tangan Elara yang banyak sekali noda hitam bekas spidol.
"Gue abis presentasi, Ar."
"Oh ya? Lo nulis apa emang sampe tangan lo kotor banget kayak gini? Dan lo megang-mengang muka gue lagi."
Elara langsung melihat ke arah pipi Ardi. "Gak ada apa-apanya kok di pipi lo. Gue bukan nulis tadi, gue gambar."
Ardi langsung mengalihkan pandangannya dari tangan Elara ke mata gadis itu seraya menaikkan sebelah alisnya tinggi-tinggi. Seakan mengatakan; sejak-kapan-lo-bisa-gambar?
"Gak usah ngeremehin gue deh! Gue bisa gambar tau. Ini tuh gara-gara si Gilang yang gak mau disuruh gambar, apalagi si Fahrul!" Mengingat kedua nama temannya itu—yang sialnya satu kelompok dengan dirinya, membuat Elara geram sendiri.
"Temen lo yang lain?" tanya Ardi dan melanjutkan kembali dengan kegiatannya untuk membersikan tangan kanan Elara.
"Nitha, ah dia gak bisa gambar sama sekali. Malu duluan kalo gambarnya jelek. Yaudahlah mending gue aja."
"Gambar apa emangnya sampe pada gak mau?" tanya Ardi lagi.
"Ya, padahal cuma gambar terumbu karang doang. Emang tuh anak pada nyusahin gue banget! Tapi, untung gue bisa," kata Elara dengan bangganya itu. Ardi yang mendengar penuturannya tadi, tidak bisa untuk tidak mengeluarkan senyumannya.
Saat semuanya kembali seperti dulu lagi, semuanya juga akan berubah lagi, kan? Mungkin ini bukan sesuatu yang tepat, tetapi untuk membuat semuanya terlihat baik-baik saja—sebelum akhirnya akan hancur juga, bukankah mereka harus menikmatinya?
"Kita beneran balikan, Ar?"
Pertanyaan Elara barusan, menyentak kesadaran Ardi kembali. Ia kemudian menoleh ke arah gadis itu. Lalu, dengan ringan, Ardi menganggukkan kepalanya.
"Elara sama Ardi bener-bener balikan?" tanya Elara sekali lagi.
Ardi tersenyum walau tipis. "Iya. Elara Cassandra bener-bener balikan sama Ardi, seneng?"
"Banget."
...
"Lo mau gue ceritain dari awal kenapa lo bisa ada di sini? Mungkin lo bakalan sedikit-sedikit inget?"
Ardi berkata dengan sangat hati-hati. Sydney di depannya yang sedang menuliskan sesuatu di scrapbook-nya itu, menghentikan kegiatannya. Gadis itu menyelipkan rambut panjangnya yang ia biarkan tergerai ke belakang telinga. "Dari awal banget?"
Kepala Ardi mengangguk. "Ya, dari awal banget," jawabnya dan meletakkan ponselnya di atas meja. Kedua kakinya yang ia naikkan ke sofa, ia tekuk.
Malam ini Sydney merasa Ardi lebih sering memamerkan senyumnya, entah ketika sedang melakukan hal apa pun. Tetapi yang paling sering ialah saat Ardi memainkan ponselnya yang terus-terusan berdering—yang Sydney yakini adalah chat dan entah dari siapa.
Lalu, dengan gerakan cepat Sydney menutup bukunya itu dan meletakkannya di atas meja. "Oke, aku udah siap buat dengerin," kata Sydney, ia juga melipat kedua kakinya di atas sofa dan menopang dagunya dengan tangan kanannya itu. Memperhatikan Ardi di depannya.
Sebelum Ardi bercerita, ia berdeham pelan dan menghela napas pendeknya. "Mm, ini mungkin salah gue. Pas itu gue lagi buru-buru banget mau nemuin temen," kata Ardi mengawali ceritanya. Jeda sebentar, lalu laki-laki itu melanjutkan, "kebiasaan gue, gue maen hape gak liat tempat. Dan pas itu gue lagi di jalan.
Gue yang lagi mau nyebrang malah fokus ke hape bukannya ngeliat kanan-kiri. Dan kalo gak ada lo Sydney, mungkin—entahlah mungkin gue udah gak ada di sini karena ketabrak mobil. Ya, kayak malaikat yang dateng tiba-tiba lo ngedorong gue dan malah ngorbanin diri lo sendiri." Ardi membasahi bibir atasnya dan menyisir rambut ke belakang dengan jarinya. "Dan lo tau akhirnya, kita berdua jatuh ke pinggir jalan tapi sialnya kepala lo malah kebentur trotoar dan ya... elo yang malah jadi gak inget apa-apa kan sekarang."
Ardi memperhatikan ekspresi Sydney yang masih belum bisa ditebak oleh dirinya, tetapi tak lama gadis itu mengernyitkan dahinya seraya tertawa kaku. "Aku baru tau kalo aku ternyata seberani itu." Sydney melihat ke arah Ardi lagi sekarang.
"Ya, gue juga heran kenapa lo seberani itu," sahut Ardi. Laki-laki itu lalu menghela napas panjang. Kepalanya ia letakkan di sandaran sofa. "Sebenernya banyak banget yang gue pengen tanyain. Gue gak nemuin kartu identitas lo atau apa pun itu yang buat gue tau siapa elo. Dan itu yang bikin gue bingung sendiri."
Sydney yang mendengar itu menahan napasnya. Jika bisa pun gadis itu akan memberitahukan Ardi, tetapi sesuatu—layaknya pembatas transparan, hanya dapat membuat Ardi menerka-nerka.
"Nama lo aja gue gak tau. Tapi emang bener kali ya nama lo itu sebenernya Sydney. Gue sempet mikir gitu." Suara Ardi terdengar kembali.
Sydney di depannya yang mendengar itu, lagi-lagi menunjukkan ekspresi bingungnya. "Kok?"
"Karena tato di leher lo," jawab Ardi langsung. Kedua matanya lalu terarah pada tato yang Ardi yakini adalah nama gadis di depannya sekarang.
Sydney. Gadis dengan tawa yang membuat siapa pun tidak ingin mengalihkan pandangannya saat melihat itu. Gadis dengan mata terangnya yang selalu terlihat sendu.
"Oh. Ya, mungkin aja." Sydney langsung mengusap lehernya, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya samar dan mencoba untuk mementalkan hal-hal yang tidak ingin ia pikirkan untuk saat ini.
"Atau juga lo pernah ke Sydney dan punya banyak kenangan di sana sampe-sampe lo buat tato itu biar bisa inget apa pun yang berkaitan sama tuh kota?"
"Yaa, bisa jadi kayak gitu," sahut Sydney pelan.
Ardi bergerak untuk menurunkan kedua kakinya dan matanya melihat ke arah scrapbook di atas meja. "Jadi, apa aja yang lo udah tulis di sini? Gue liat boleh?" tanya Ardi dan belum sempat laki-laki itu meraih buku bersampul hitam itu, Sydney yang lebih dulu mengambilnya.
"Jangan! Mm, maksud aku—ini tuh tulisan gak jelas semua." Kegugupan Sydney, berhasil gadis itu samarkan dengan kekehannya. Buku itu ia peluk dengan erat.
Ardi mengangguk-anggukan kepalanya. "Emang lo nulis apa sampe gue gak dibolehin liat?" tanyanya dengan senyum jail yang tercetak jelas di wajahnya itu.
Sydney hanya menjawabnya dengan gumaman. Ardi menaikkan salah satu alisnya tinggi-tinggi, masih menunggu apa yang akan dijawab oleh gadis di depannya itu.
"Oke, aku kasih tau. Salah satunya tentang kamu," jawab Sydney akhirnya. Ia menggigit bibir bawahnya setelah mengatakan itu.
"Lo gak jelek-jelekin gue kan? Makanya gue gak boleh liat?" Ada nada bercanda yang terselip saat Ardi mengatakan itu.
Sydney menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. "Mana mungkin aku jelek-jelekin kamu sih!"
"Ya, bisa aja kan. Karena gue juga pernah gak ada pas lo lagi butuh-butuhnya seseorang. Atau karena gue—"
"Enggak, Ar. Semua yang kamu pikirin tentang diri kamu itu gak ada di sini," potong Sydney meyakinkan.
"Kalo misalnya ada hal yang gak lo suka dari gue, entah sikap atau apa pun itu bilang langsung aja ya, Sydney."
Dengan pelan, nyaris berbisik Sydney menyahut, "Sayangnya, aku belum nemuin hal yang buat aku gak suka sama kamu."
"Oh ya?" Ardi mengeluarkan smirk-nya kali ini.
Sydney mengangguk mantap. Dan dilihatnya kini Ardi mengambil ponselnya di atas meja. Ah, senyum itu lagi yang Ardi keluarkan saat membaca pesan singkat di benda pipih hitam itu. "Yaaa, jadi... siapa yang udah buat seorang Ardi gak bisa berenti senyam-senyum sendiri?"
Dengan senyum yang berusaha Ardi sembunyikan, tetapi akhirnya gagal. Laki-laki itu menggelengkan kepalanya dan beranjak dari sofa. Menjauh dari Sydney untuk menerima panggilan masuk.
Dan samar-samar Sydney dapat mendengar Ardi dengan nada riangnya berkata, "Halo, Ra!"
Namun sepertinya, lebih baik untuk tidak mencari tahu lebih jauh saat jawaban yang ada, malah berbalik menyakiti diri sendiri.
Dan Sydney, akan mengingat itu lain kali.