Jarak yang tak pernah diinginakan

2300 Kata

"Kak Dimas?"   Yang dipanggil langsung menoleh ke arah sumber suara. Koridor rumah sakit di lantai dua jam sembilan lewat ini sudah mulai terlihat sepi. Dimas berhenti melangkah. Ekspresinya dibuat sesantai mungkin. "Fanya? Ngapain lo di sini?" tanyanya dan mendekat ke arah adik kelasnya itu yang sedang berdiri di depan sana.   "Lo lagi pengen jenguk kak Ardi ya?" Fanya bertanya balik. Kertas di kedua tangannya gadis itu lipat hingga terlihat kecil.   Mendengar itu, Dimas mengkerutkan dahinya. "Jenguk Ardi? Dia kenapa emangnya?" tanyanya lagi. Raut wajahnya terlihat masih sama.   Fanya di tempatnya berdiri, mengembuskan napas pelan. Dimas belum tahu ternyata, jika temannya itu mengalami kecelakaan. "Kak Ardi itu tabrakan, Kak. Tapi untungnya sekarang dia udah sadar."   "Ardi tabr

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN