"Lo gak mau nyamperin cowok lo, Ra?" Fanya menarik rambut Elara yang sekarang sedang duduk di sampingnya setelah bertanya seperti itu. Sedang Tiffany yang duduk di hadapan mereka memilih untuk membalas chat dari kakak kelas yang memang sedang dekat dengannya.
Elara langsung mengalihkan pandangan pada snack di tangannya dan melihat Ardi yang sedang duduk sendirian di kantin lantai satu ini. Terlihat begitu sibuk bermain ponsel, padahal teman-temannya sedang berkumpul di meja yang tidak jauh dari Elara. SMA Pertiwi memang baru saja membunyikan bel istirahat pertama mereka. "Gue belum cerita ini ya? Semalem Ardi jemput gue dan gue langsung balik. Sori ya gue gak ngabarin kalian. Gue langsung tidur juga."
Mendengar itu, Fanya memutar kedua bola matanya. "Sampe chat di grup aja lo belom baca sampe sekarang, njir!" sunggutnya.
"Maaf kali. Besok-besok gak kayak gitu lagi deh. Janji." Elara memperlihatkan senyum lebarnya ke arah mereka berdua.
Fanya akhirnya tertawa. "Tadinya gue mau diemin lo, tapi gak jadi. Gak bisa." Dan memeluk Elara dengan kedua tangannya.
"Eh, Ra. Kak Ardi itu blasteran Indo sama apa deh? Gue lupa mau nanya ini terus." Tiffany akhirnya meletakkan ponselnya itu ke atas meja. Menoleh juga ke arah Ardi di belakangnya yang masih terlihat memainkan benda pipih itu di sana.
Elara melepaskan pelukan Fanya dan memilih untuk menyandarkan kepalanya pada bahu gadis itu. "Australi, Tif. Tumben juga lo nanyain itu." Tangan Elara lalu meraih botol air mineral di atas meja dan menyeruputnya dengan sedotan yang sekarang sedang Elara gigit.
"Dari nyokapnya ya?" celetuk Fanya dan pandangannya juga ke arah Ardi.
Kepala Elara mengangguk. "Iya, dari Tante Reika." Mamahnya Ardi.
Tiffany manggut-manggut. "Pantes aja." Saat mengatakan itu, ia sudah melihat ke arah teman-temannya.
"Jangan bilang lo suka sama Kak Ardi ya, Tif?" Kedua mata Elara menyipit.
Mendengar itu, mau tidak mau Tiffany tertawa. Fanya juga. "Gue lagi suka sama temennya bukan sama dia. Kak Ardi kan udah ada pawangnya. Takut gue."
"s**l! Awas aja kalo suka sama Ardi." Dan Elara langsung bangkit dari tempat duduknya. Meninggalkan teman-temannya yang pasti sudah tahu Elara akan ke mana.
"Kenapa semalem lo ninggalin gue sih? Gue kira lo bakalan jadi nginep."
Alis Ardi terangkat sebelah. Di depan Ardi kini sudah ada Elara yang datang-datang menemuinya, memasang wajah kesalnya itu.
Niat Ardi memilih meja paling pojok di kantin lantai satu ini sebenarnya ia ingin sendiri juga. Tidak ingin berbaur dulu dengan teman-temannya di sana. Lalu, Ardi melihat ke arah Elara sebentar lalu berkutat lagi dengan ponsel hitamnya.
Elara yang melihat itu tentu saja semakin geram. Tangannya bergerak dengan cepat untuk menutupi layar ponsel Ardi. "Ar, jangan cuekkin gue bisa?"
Mendengar ucapan Elara barusan, Ardi menarik napas pelan. "Emangnya siapa yang bilang gue bakalan nginep di rumah lo?" sahutnya kemudian. Pelan, nyaris berbisik.
"Tapi kan semalem—"
"Gue gak nge-iyain omongan lo, Elara. Mending sekarang lo duduk sana sama temen-temen lo. Gue males diliatin anak-anak kayak gini," tukas Ardi cepat dan memainkan kembali ponselnya. Mengetikan pesan singkat yang Elara tidak tahu itu untuk siapa.
Elara langsung memperhatikan sekitar. Benar ternyata. Murid-murid Pertiwi banyak yang memperhatikan ke arah mereka dengan berbagai macam pandangan. Elara sudah tahu apa yang mereka pikirkan.
"Gue mau makan bareng sama lo. Lo mau makan apa, Kak?"
Terlihat kepala Ardi menggeleng dua kali.
Tingkat cuek kakak kelasnya ini benar-benar bisa menaik drastis. Itu salah satu hal yang Elara tidak suka. Maka, demi merebut perhatian Ardi kembali, Elara bangkit dan memilih duduk di sebelah laki-laki itu.
Memandang Ardi dengan dagu yang Elara sanggah pada tangan kirinya. Memperhatikan laki-laki yang masih saja belum bisa ia lupakan. Gadis itu pertama melihat ke arah rambut gelap Ardi yang sudah sangat lama ia tak pernah sentuh lagi. Elara suka mengacak-acak rambut itu lalu ia rapikan kembali saat Ardi sedang fokus bermain dengan games atau membaca buku—mengabaikan Elara hingga gadis itu kesal sendiri tetapi akhirnya Ardi memeluknya juga sepanjang melakukan kegiatannya itu.
Lalu, Elara melihat ke arah netra cokelat terang milik Ardi. Elara rindu juga mata itu menatapnya lalu menyipit saat tertawa. Bagaimana mata itu berbinar saat melihat sesuatu yang Ardi suka. Dan Elara juga suka saat menantikan kedua mata itu terbuka perlahan-lahan dan langsung melihat ke arahnya.
Semuanya itu berputar diingatan dan pikiran Elara sekarang.
"Kak Ardi," panggil Elara pelan. Ia ingin mengatakan sesuatu jika saja ucapan-ucapan di sampingnya tidak terdengar ke telinganya itu.
Elara sama Ardi beneran putus gak sih?
Seharusnya Kak Ardi emang harus putusin tuh cewek. Gak ada pantes-pantesnya pangeran sama bawang merah!
Elara tuh—
Ardi yang juga bisa mendengar celotehan-celotehan itu dan melihat Elara yang sudah akan bangkit dari persinggahannya, langsung saja mencekal pergelangan tangan Elara. Karena Ardi tahu pasti Elara akan menghampiri perempuan-perempuan yang berbicara tadi dan sudah dapat dipastikan juga apa yang akan terjadi selanjutnya.
Aksi Ardi kali ini berhasil membuat Elara melihat ke arahnya, sepenuhnya. Ardi melonggarkan tangannya itu dan mengatakan, "Ayo kita makan bareng."
...
"Gimana sama tuh anak macan semalem? Udah bisa dijinakkin?"
Satu pertanyaan langsung didapat oleh Ardi saat dirinya baru saja memasuki kelas XII. IPS 5, kelasnya. Lalu, ia mendudukkan bokongnya di atas meja. "Seharusnya itu yang jadi tugas lo sekarang, njing!" jawab Ardi.
Dimas—laki-laki yang bertanya tadi, segera ikut duduk di samping Ardi. "Gue belom ahli dalam hal menjinakkan anak macan, Ar." Setelah mengatakan itu, Dimas tertawa.
"Lo serius gak sih sama Elara sebenernya?"
"Dua rius gue sama dia! Dan tenang aja, gue bakalan buat dia move on dari lo," jawab Dimas dengan cengiran bodohnya itu. Tetapi, memang benar. Dimas itu benar-benar serius dengan ucapannya tadi; mendekati Elara dan membuat gadis itu melupakan sahabatnya. Seutuhnya.
Karena sebagai sahabat yang baik, Dimas pasti akan membantu Ardi.
Tekad Ardi memang sudah bulat. Walaupun dirinya tidak sepenuhnya menginginkan hal itu terjadi, tetapi memangnya ia bisa berbuat apa sekarang. Jika dapat diumpamakan, saat ini Ardi sedang ada di ujung jurang sedangkan Elara ada di bawah sana. Jika Ardi menginginkan mereka untuk bersama, dirinya harus melompat, dan kemungkinan ia akan mati atau menyakiti dirinya sendiri.
Namun, Ardi tahu masih banyak cara untuk menemui gadis itu. Tetapi resikonya juga sama besarnya dengan melompat.
Ardi mengerjap, ia mengembuskan napas pendek. Laki-laki itu tidak ingin menyahuti ucapan Dimas tadi, kepalanya ia tengokkan ke belakang. "Si Reza mana?" tanyanya dan melihat ke arah Dimas yang kini bermain dengan ponselnya.
"Si curut ya ke mana lagi kalo bukan pacaran," jawab Dimas tanpa memandang lawan bicaranya. Fokusnya kini sudah teralih dengan game yang akan ia menangkan sebentar lagi.
Di antara mereka bertiga—Ardi, Dimas dan Reza—yang sudah mempunyai pacar ya hanya Reza. Dan seingat Ardi, pacarnya Reza itu anak kelas XII. IPA 1. Ardi langsung menepuk bahu Dimas. "Siapa tuh nama ceweknya Reza?" tanya Ardi.
"Viorent!"
"Ah iya, Viorent. Absurd banget tuh cewek sama kayak pacarnya anjir!" ujar Ardi. Ia ingat sekali bagaimana jika Reza dan Viorentina sedang bersama, couple yang satu itu memang cocok dari segi mana pun.
"Hahaha emang juga, Ar. Klop banget tuh duo curut. Gue gak nyangka juga mereka berdua udah satu tahunan lebih. Gile kan? Reza si cowok ecek-ecek bisa setia juga."
"Gak kayak lo ya, Dim!"
"s****n lo! Ngaca sinih di kaca spion motor gue, nying!"
Ardi yang ingin membalas ucapan Dimas harus ia tunda karena Reza terlebih dahulu menyelanya. Laki-laki itu datang dengan wajah berkeringat dan memerah.
Panjang umur nih anak! batin Dimas.
"Lo tau kagak?" tembak Reza langsung.
Mereka berdua lantas menggeleng. Reza dengan cepat mengelap cairan yang keluar dari hidungnya dengan punggung tangan kirinya yang bebas, tangannya yang satu memegang plastik. Warna merah khas saus itu terlihat begitu jelas.
"Bentar dah. Anjir, ini cilok bener-bener pedes, bangciat emang!" Reza segera meletakkan bungkus plastik itu di atas meja.
Reza, sekali lagi, mengusap hidungnya. Mulutnya terbuka dan tertutup. Persis seperti ikan. "Ada PR Bahasa Arab!"
Mendengar itu, Dimas langsung melihat ke arah Reza secepat kilat. "Dih, ngaco aja lo! Seinget gue gak ada dah." Dimas yang lebih dulu menyahut. Wajahnya sudah benar-benar ketakutan.
PR. Bahasa Arab. Pak Surya.
"Gue nguping tadi pas gue ngantri buat beli nih cilok. Si Sarah yang ngomong, katanya ada PR Bahasa Arab. Harus dikumpulin, terus maju atu-atu."
"Anjir! Gue belom ngerjain sama sekali. Lo udah kan, Za?" tanya Dimas yang sudah mulai gelisah. Bagaimana nasibnya nanti bila ia ketahuan belum mengerjakan tugas oleh Pak Surya, guru dengan tingkat kekejaman di atas rata-rata.
"Gue aja baru tau tadi, monkey!"
"Kalo lo, Ar?" Dimas beralih melihat Ardi yang sedang bermain dengan ponsel hitamnya.
Yang ditanya malah diam saja. Jari-jarinya dengan cepat mengetikan balasan dari pesan singkat yang Sydney kirim. Dan tanpa berpikir lebih lama lagi, Ardi langsung mengambil tas dan jaketnya. "Gue cabut!"
Ardi berlari keluar kelas. Wajahnya terlihat begitu cemas. Reza dan Dimas memandangnya aneh.
"Woy, Ar. Seenggaknya kalo lo mau bolos gue minjem dulu buku Arab lo. Buru keluarin!" teriak Dimas yang masih di dalam kelas.
Tanpa diduga Dimas sebelumya, Ardi muncul di depan pintu dan memberikan buku bersampul cokelat itu dan langsung diterima oleh Dimas yang memang belum siap. "Astagfirullah. Untung gue tangkep nih buku," kata Dimas dan langsung menempelkan buku itu ke bibir dan dahinya sebanyak tiga kali.
...
"Astaga, Sydney!"
Ardi panik, tentu saja. Yang ia lihat di depannya kini seorang gadis sedang menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya. Tubuhnya bergetar, Ardi tahu sekarang Sydney sedang menangis. Gadis itu juga terlihat sangat ketakutan. Banyak barang-barang juga yang berserakan di dekatnya.
Setelah mendapatkan pesan singkat dari Sydney yang bertuliskan ia takut—entah karena apa, Ardi langsung saja menemuinya.
Dengan cepat Ardi ikut duduk di samping gadis itu dan membawa Sydney ke dekapannya. Memberikan satu tindakan langsung agar gadis itu merasa sedikit lebih tenang. Ia menundukkan kepalanya. "Sydney," bisik Ardi. Pelukannya mengerat. Tubuh gadis itu masih saja bergetar. Sydney meronta di pelukan Ardi.
"Ini gue Ardi. Sydney, buka mata lo. It's okay," katanya masih saja berbisik. Tangannya bekerja dengan cepat mengusap-usap punggung bergetar gadis itu. "Jangan takut. Gue ada di sini."
Dan selama beberapa menit posisi mereka masih tetap sama dan Ardi membisikkan sesuatu untuk menangkan gadis itu. Sesaat kemudian, Ardi merasa Sydney kini sudah mulai tenang. Napasnya juga sudah mulai teratur. "Lo mau buka mata lo sekarang?"
"Aku takut, Ar." Suara gadis itu masih saja terdengar serak.
"Gue tau, tapi kan gue udah ada di sini. Di deket lo. Jadi lo gak perlu takut lagi."
Ardi merasakan perlahan-lahan Sydney mulai menjauh dari tubuhnya. Gadis itu menghapus sisa air mata di kedua pipinya. "Aku tadi abis dari supermarket di—"
"Lo ke supermarket? Ngapain lagi sih? Kan gue udah bilang jangan keluar dari sini. Bahaya tau gak? Kalo lo mau ke mana-mana mending lo suruh gue aja." Ardi dengan cepat memotong ucapan gadis itu. Ia tentu saja begitu khawatir mendengar Sydney pergi ke luar sana. Sendiri.
"Iya, aku tau. Aku minta maaf karena itu."
Mendengar permintaan maaf gadis itu, Ardi mencoba menahan amarahnya. Bukan apa-apa, Ardi hanya begitu cemas dengan segala hal yang menyangkut gadis itu. Ia lalu mengembuskan napas beratnya. Dibawanya tangan Sydney ke genggamannya. "Inget ya, Sydney. Jangan pernah lo ninggalin nih apartemen kalo gak sama gue. Lo ngerti, kan?"
Sydney mengangguk. "Aku tadi ke supermarket buat persediaan makan juga. Kulkas kamu tuh udah gak ada isinya."
Ardi tersenyum tertahan. "Oh ya?" tanyanya. Ia baru ingat ini sudah akhir bulan. Laki-laki itu belum membeli persediaan makanan.
Dulu, sebelum ada Sydney di apartmennya ini, Ardi memang tidak pernah memikirkan hal-hal seperti itu. Ia selalu makan di luar atau dibawakan makanan oleh Elara.
"Iyaa. Liat aja sendiri. Maaf juga udah berantakkin kamar kamu," jawab Sydney dan melihat barang-barang yang ia beli di supermarket tadi kini sudah berserakan di lantai marmer hitam itu.
Ardi juga melihat ke arah pandang Sydney, dan bergantian melihat ke arah gadis itu. "Nanti gue yang beresin," kata Ardi dan memperlihatkan senyuman tipis, Sydney membalasnya. "Mm, lo mau makan atau mau langsung istirahat?"
"Aku mau tidur aja. Aku capek."
"Oke. Ayo gue temenin." Ardi perlahan membantu Sydney untuk bangkit.
Sydney sudah berbaring di tempat tidur. Ardi dengan telaten menyelimuti tubuh yang meringkuk itu hingga leher. Lalu, ia ikut berbaring. Kini mereka terlihat berhadap-hadapan. "Lo mau gue maatin AC-nya atau kayak gini aja?" Suara Ardi terdengar kembali.
"Kayak gini aja," jawab Sydney. Matanya masih juga belum tertutup. "Tadi tuh aku ngeliat—"
"Gak usah cerita dulu. Lo mending sekarang istirahat aja, ya?"
"Oke. Maaf ya udah buat kamu khawatir gini," sahut Sydney. Ardi mengangguk. Memberitahukan gadis itu bahwa memang tidak apa-apa. Dan kini ia mulai merasakan tangan dingin Ardi mengusap lembut lehernya. Begitu menenangkan. Sydney lamat-lamat menutup kedua matanya.
Ardi mengusap leher gadis itu tepat di mana tatonya berada—salah satu kebiasaan Sydney yang Ardi ketahui selama sebulan ini jika gadis itu ingin tertidur.
Tato yang bertuliskan S Y D N E Y, itu sebabnya Ardi memanggilnya dengan sebutan Sydney. Karena Ardi belum tahu siapa nama asli gadis yang sekarang sudah terlelap itu. Begitupun Sydney sendiri. Ia belum tahu.
Perlahan Ardi mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu dan berbisik, "sleep tight, Sydney."