M&M: Part 1

1914 Kata
"MARSITA!" teriakan itu menggema di ruangan kantor utama di lantai 10 itu hingga terdengar ke seluruh penjuru lantai. Gadis yang bernama Marsita itu menutup mata dan menahan nafas. Perlahan keningnya berkerut dan mulutnya mengerucut kesal. Ini sudah kelima kali namanya diteriaki oleh bos baru mereka. Dan kesabarannya sudah habis. Sita membuka mata dan menghela nafas kasar sebelum melihat tatapan iba pegawai lain padanya. "Sabar ya, Sit. Lu harus kuat." Ujar teman semejanya, Linda. Sita mengangguk dan tersenyum tipis. "Harus, Lin." Gumam Sita pasrah dan kembali berjalan ke ruangan utama dimana orang yg menjadi manusia yg paling dibencinya berada. Sita mengetuk pintu itu dengan 3 ketukan sebelum suara deep itu terdengar. "Masuk." Dengan hati sedikit gugup, Sita berjalan mendekat dan menghampiri pria yg kini terlihat sangat kesal. Lengan kemeja putih yg ia kenakan sudah di gulung hingga ke siku. Seakan sengaja memperlihatkan otot - otot atletis yg ia miliki. Sesaat Sita terdiam, memperhatikan pria itu dengan menilai. Tidak bisa ia pungkiri, sosok pria di hadapannya memang menarik perhatiannya dari awal pertemuan mereka. Namun, mengingat betapa buruk peringai pria itu membuat Sita jengah dan tanpa sengaja mendengus hingga membuat Mahesa memicingkan matanya ke arah Sita. "Hmm, ada apa ya, pak?" Sedikit panik, Sita mencoba mencairkan suasana mengerikan itu. Mahesa berhenti membolak - balikkan kertas di hadapannya dan meraih berkas yg ada di sebelah kanan nya. Dengan tidak berperasaan, ia membuang berkas itu hingga terjatuh tepat di depan Sita. "Aku tidak butuh sampah seperti itu. Cepat perbaiki dan berikan aku anggaran pengeluaran dari 2 tahun kemarin." Gumam Mahesa dingin, sebelum kembali menekuni lembaran - lembaran kertas lain. Diam. Sita masih mencoba untuk menerima kenyataan. Hasil kerja kerasnya diperlakukan seperti sampah. Tidak, bukan diperlakukan tapi memang dianggap sampah. Mengingat bagaimana ia mati - matian mengerjakan laporan itu membuatnya sakit hati. Tapi, ia tidak bisa apa - apa. Ia hanya seorang karyawan biasa yg tidak memiliki pengaruh apapun. Sehingga amarah yg sudah berkumpul di dirinya harus ia redam. Sita menarik nafas panjang, dan menghembusnya perlahan. Ia lalu membungkuk untuk mengambil berkas itu dan memeluknya erat. "Apa yg menurut anda kurang, pak?" Tanya Sita masih mencoba sopan. "Semua." "Tapi, saya sudah mengerjakannya sesuai dengan contoh laporan tahun kemarin." Lanjut Sita masih mencoba untuk sopan. "Aku tidak peduli kau mau meng-copy paste pekerjaan orang lain. Yang kubutuhkan adalah kejelasan dari laporanmu. Aku sama sekali tidak bisa mengerti apa yg kau kerjakan. Aku tidak menggajimu hanya untuk mendapatkan sampah. Sekarang lebjh baik kau memperbaiki laporan itu sebelum aku memintamu untuk mengundurkan diri." Jelas Mahesa panjang lebar tanpa niat untuk menoleh sedikitpun. Hampir saja Sita melempar berkas yg ada ditangannya tepat ke wajah pria itu. Jika ia tidak berjuang menahan amarahnya, mungkin sekarang ia akan benar - benar harus mengundurkan diri. "Baik, pak." Akhirnya kata - kata itu yang berhasil keluar dari bibir wanita itu sebelum meninggalkan ruangan dengan emosi yang bercampur aduk. Langkah kaki Sita terdengar begitu mengerikan saat berjalan menuju meja kerjanya. Ditambah dengan tubuhnya yg diatas rata - rata membuat suara yg ditimbulkan sepatu berhak rendah itu semakin berisik. "Sit?" Suara Linda terdengar takut saat menyapa Sita yg datang dengan wajah seakan ia bisa memakan siapapun yg menganggunya. Sita tidak langsung menoleh ataupun mengeluarkan suara. Ia berulang kali mengatur nafasnya hingga dadanya terlihat naik-turun dengan cepat. Menghilangkan emosi dalam dirinya merupakan hal yg sulit. Disamping marah, ia juga merasa sedih. Sejujurnya, Sita ingin menangis. Meneriaki pria b******k itu dengan kata - k********r, namun ia tidak bisa. Jadi ia melampiaskan semua dengan menggigit bibir bawahnya hingga memerah. "Eh! Eh! Sit! Bibir lu berdarah! Eh!" Seru Linda panik dan dengan cepat meraih tisu di depannya sebelum memberikannya pada Sita yg akhirnya tersadar. "Ah, maaf Lin. Gua ga sadar. Duh, pantes perih." Gumam Sita menekan lukanya dengan tisu. "Pantes perih gimana?! Lu sendiri yg gigit itu bibir! Kebiasaan lu ga bagus banget. Ini! Tuh kan masih berdarah. Duh, tunggu gua ambilin es." Linda yg masih panik segera berlari menuju counter minuman mereka yg berada tidak jauh dari meja mereka dan kembali dengan segenggam es yg di bungkus tisu. "Nih kompres dulu tuh bibir, biar darahnya berhenti." "Aelah, Lin. Ini mah pake ludah juga berhenti." Ujar Sita seakan tidak merasa sakit. Lalu pukulan ringan di kepalanya membuat Sita meringis. "Berhenti darimana? Itu aja masih ngalir gitu." "Iye iye, aduh jangan di tampol dong. Sakit nih." Rengek Sita. "Jadi, lu abis di apain sama si bos? Kayanya berat banget. Muka lu sampe kaya kudanil gitu. Serem." Ujar Linda setelah akhirnya pendarahan pada bibir Sita berhenti. Mendengar pertanyaan itu, Sita menghela nafas lagi dan memutar matanya kesal. Ia kembali teringat dengan kata - kata pria b******k itu. "Gila gua lama - lama Lin. Kayanya dia dendam kesumat deh sama gua. Benci banget dia sama gua, coy. Bayangkan! Laporan yg uda gua perbaikin sampe puluhan kali ini masih belum bener juga! Lu juga denger kan kata - kata pak Emil yg uda menyatakan bahwa laporan gua ini telah lulus tata tulis yg benar? Pak Emil lho! Pak Emil uda meng - ACC laporan gua! Tapi, si d***o tetep aja.. Aiiih!! Pengen gua teriak tapi tak bisa!" Geram Sita sembari mengepalkan kedua tangannya dan menggertakkan giginya. "Sabar! Sabar! Lagian lu sih, pake marah - marahin dia. Baru juga pertama jumpa, uda lu marah   - marahin. Gua salut sih sama keberanian lu. Tapi, ya gimana ya. Tetep aja, dia atasan kita." Ujar Linda mengingatkan kembali peristiwa memalukan yg telah dilakukan Sita di hari pertama bertemu dengan bos nya sendiri.                                                                            Flashback "Kerja bagus, Sita. Sekarang tolong bawa berkas - berkas ini ke ruang pak Mahesa. Beliau akan mulai masuk hari ini, jangan sampai telat." Ujar bu Rimba, selaku kepala bagian pemasaran. Sita mengangguk senang karena pujian yg diberikan bu Rimba. Sebelum mengambil berkas - berkas yg diserahkan bu Rimba. "Pak Mahesa direktur utama kita, bu? Beliau sudah kembali dari Sydney?" Bu Rimba mengangguk. "Iya, kemarin beliau mengatakan hari akan mulai masuk. Sekarang cepat letakkan berkas - berkas itu. Dia sangat membenci keterlambatan." Jelas bu Rimba mengingatkan betapa perfeksionis atasan mereka itu. Sekali lagi Sita mengangguk dan segera berlari menuju ruang direktur mereka. Dengan langkah terburu - buru gadis itu menuju ke lift utama dan menunggu lift tiba di lantai dasar. Sesaat semua terasa damai, hingga terdengar suara teriakan. "WHAT THE F!!" Teriak seorang pria bertubuh tinggi dan bersuara rendah itu marah. Kerumunan orang perlahan berkumpul dan membuat Sita penasaran dengan apa yg terjadi. Pelan, Sita berjalan mendekat dan mengintip. Ia melihat seorang wanita terlihat panik dan berusaha membersihkan kopi panas yg ia tumpahkan. Dan tidak sengaja mengenai baju pria yg mengumpat tadi. Wajah pria itu terlihat kesal, ia melepas jas yg ia kenakan dan menatap wanita yg menyebabkan hal buruk itu terjadi. "Dimana kau letakkan matamu? Apa kau tidak bisa melihat jika ada yg berjalan di depanmu?!" Bentak pria itu lagi dan menbuat wanita itu menangis. "Ma.. ma.. maaf.." isak wanita itu namun sekali lagi pria itu memarahi dirinya. Tidak ada satu orang pun yg membela. Mereka semua hanya melihat, menonton dan membiarkan wanita itu menjadi pusat perhatian dan dipermalukan. Membuat Sita yg melihat merasa iba sekaligus kesal. Entah keberanian darimana, Sita refleks berkata. "Maaf, pak siapapun anda. Tapi, menurut saya anda sudah keterlaluan." Kata - kata itu keluar begitu saja dan menjadikan dirinya pusat perhatian. Seluruh mata memandang dirinya, dan jujur Sita seketika merasa ingin menghilang saat itu juga. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Ia hanya melanjutkan dan berjalan mendekati wanita yg masih menangis itu. "Dia tidak sengaja menabrak anda. Seharusnya, tidak perlu sampai seperti ini. Ayo, mbak bangun." Gumam Sita sekaligus membantu wanita itu berdiri. Membuang rasa takutnya, Sita mendongak untuk menatap pria yg kini juga menatapnya tajam. "Hanya karena bercak sekecil upil, anda sampai memarahi begitu hebat. Tolong, jangan permalukan diri anda. Malu sama umur." Lanjut Sita yg menimbulkan kericuhan para karyawan. Beberapa saat keheningan menyelimuti, hingga akhirnya pria di depannya itu mengeluarkan suara. "Siapa kau?" Tanya pria itu. "Marsita. Saya salah satu karyawan disini. Jika urusan anda sudah selesai, silahkan per--" ucapan Sita terhenti saat wanita yg ia tolong menarik lengannya. Sita menoleh dan melihat wajah wanita itu sudah berubah pucat dan menggeleng. "Ada apa?" Tanya Sita bingung. "Di... dia.. dia direktur kita. Pak Mahesa Ananda Yahya." Gumam wanita itu yg dengan cepat menghancurkan seluruh kepercayaan diri Sita. "Anjir.."                                                                          End Flashback Begitulah sekilas ingatan buruk mengenai pertemuan mereka. Rasanya, jika ia bisa memutar balikkan waktu, maka ia hanya ingin mengacuhkan kejadian itu dan memilih naik ke lift.                                                                                ********* "Sit, gua balik duluan ya? Udah jam 9. Gerbang kosan gua tutup bentar lagi." Ujar Linda yg buru - buru membereskan barang - barangnya. Sita disampingnya mengangguk. "Iya, iya. Hati - hati ya, Lin. Maafin gua gabisa nganter." Jawab Sita masih fokus pada layar persegi di depannya. "Gaya lu nganterin, pake busway sama aja gua pergi sendiri. Lu juga jangan kemaleman, Sit. Bahaya jam segini tuh. Lanjut lagi besok." Linda menepuk bahu Sita hingga gadis itu menoleh dan kembali mengangguk. "Iya, iya. Tenang aja, mau malem juga gabakal ada yg mau nyulik gua. Gabakal sanggup mereka ngasi gua makan. Tenang lu." Jawaban Sita berhasil mendapatkan pukulan keras di lengannya. "Aduh! Sakit Lin." Ringis Sita kesakitan dan mengelus lengannya yg terasa terbakar. "Lu kalo ngomong suka lupa baca bismillah emang ya. Sembarangan aja lu. Mau gimana juga fisik lu, tetep aja namanya penjahat bakal beraksi. Lu kira--" "Aduuh! Iya iya! Gua paham! Udah buruan sana lu balik! Uda lewat 15 menit ini, ntar lu beneran jadi gembel baru tau lu. Ga mau gua jemput!" Seru Sita memotong perkataan Linda yg akan menceramahinya panjang lebar. Terpaksa, karena mengejar waktu, Linda akhirnya menyerah dan pergi meninggalkan Sita sebelum memberikan ultimatum terakhir dan tamparan manis di lengan wanita gemuk itu lagi. Setelah kepergian temannya, Sita kembali melanjutkan pekerjaannya hingga tanpa sadar jam sudah menunjukkan pukul setengah 11 malam. "Neng, belum pulang?" Suara itu mengagetkan Sita yg sesaat melamun mengistirahatkan matanya. Saat melihat siapa yg menyapanya, Sita tersenyum dan menggeleng kepada satpam kantor yg sudah berusia tua itu. "Belum pak. Tapi sebentar lagi. Bapak uda mau ngunci pintu ya?" Tanya Sita sopan. Satpam itu mengangguk. "Iya neng. Neng Sita pulang dijemput kan? Udah malem jangan pulang sendiri neng, bahaya." Ujar satpam itu lagi. Sita tersenyum dan mengangguk. "Iya pak. Tenang aja." Jawab Sita berbohong. Tidak lama, terdengar suara dari arah kanan. Suara pintu terbuka dan juga langkah kaki seseorang. Sontak Sita maupun satpam menoleh bersamaan dan mendapati bahwa Mahesa baru saja keluar dari ruangannya. 'Lah, dia belum pulang?' Batin Sita dalam hati. "Bapak Mahesa, anda belum pulang?" Sapa pak satpam sopan. Sama sekali tidak menyangka, Sita terdiam saat melihat pria dingin nan b******k itu tersenyum dan menggeleng. "Ini saya baru mau pulang. Bapak uda meriksa semuanya? Aman?" Tanya Mahesa dengan suara lembut. Membuat Sita untuk kedua kali terpesona. 'Kan bener gua bilang. Dia tuh kalo baik, bener - bener ganteng. Sayang banget personality buruk. Kalo engga gua sikat juga kan.' Batin Sita lagi, diam - diam menilai musuhnya. Merasa diperhatikan, Mahesa menoleh dan menatap Sita yg seketika mengalihkan wajahnya. 'Mati gua mati. Aduh ketauan lagi. b**o banget lu, babon.' Maki Sita pada diri sendiri. Dengan canggung, Sita membereskan barang - barangnya dan mengabaikan Mahesa. "Laporan uda selesai?" Pertanyaan itu tidak salah dan tidak bukan memang ditujukan pada Sita, yg kini membeku. "Eh, iya pak. Belum. Besok saya--" "Jam 8. Saya mau laporan itu sudah ada di meja saya jam 8 pagi." Potong pria itu tanpa menerima bantahan dan perasaan. Meninggalkan Sita yg kembali diam, terbengong dan bingung. "Sialan." Sekali lagi Sita mengumpat sebelum akhirnya membatalkan niatnya untuk pulang dan melanjutkan pekerjaannya. TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN