* Ya Tuhan! Dwika mengutuk dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia semudah itu? Bagaimana mungkin ia bisa melakukan hal yang... Dwika berdecak, mengingat kejadian subuh tadi membuatnya girang tapi sekaligus khawatir. Bagaimana kalau Moody ngambek dan parahnya tak mau disentuh? Dwika menggeleng kencang dan mengacak rambutnya sendiri. Sudah susah payah Dwika berbaikan dengan gadis itu bahkan dia bisa menyentuh Moody sampai level cium-lumat. Aarrgghhh! Suara ketukan di pintu membuyarkan impiannya yang kandas seiring begitu melihat siapa sosok yang kini masuk dan berdiri di depannya. Nanda. "Hai, Nda." Dwika ingat Tika dan Egi memperingatinya tentang makhluk satu ini. Perempuan itu ternyata tak menyerah. Dwika mengira kalau Nanda sedang memanfaatkan kabar tentang amnesianya, hingga dia berani

