* "Itu, ya ... itu emh ... Yang selalu dilakuin di malam pertama," kata Dwika tertahan, setengah berbisik, takut-takut suaranya kencang dan terdengar sampai ke bawah. "Ki-ta?" Dwika mengangguk membenarkan pertanyaan Moody. Moody menggeleng cepat sambil menyilangkan kedua tangan di dadanya,"Ya nggaklah!" "Yakin nggak?" "Nggak! Kalo aku bilang nggak ya nggak!" sembur Moody panik. Wajahnya memerah bak kepiting rebus. Ya pasalnya sekarang Dwika sedang hilang ingatan, Moody bukan berhadapan dengan Dwika yang sudah mencintainya melainkan Dwika masa lalu yang masih mencintai Retha. Maka dari itu ia harus bertahan, jangan sampai lalai dan menyakiti hatinya sendiri nanti. "Oke, oke. Aku lega," begitu katanya. Namun kenapa hatinya cenat-cenut mendengar Dwika bilang kalau ia lega? "Aku

