Diana P.O.V Mentari siang menelusup lembut melalui jendela kaca besar ruang kerjaku di lantai lima Nasution Law Firm. Kota mulai menggeliat dengan hiruk pikuknya, tapi ruanganku tetap terasa tenang walau dalam ketenangan ini, sudah menumpuk berkas yang menantiku sejak pagi. Aku baru saja kembali dari pengadilan. Kasus Sarah sedang memasuki babak awal, dan tekanan dari luar pun belum mereda. Namun pekerjaan tak pernah menunggu. Hari ini, aku harus fokus pada perkara baru yang sudah menungguku sejak minggu lalu. “Kasus warisan?” gumamku sambil membuka folder berwarna coklat tua. “Ah, ini yang waktu itu diserahkan langsung oleh Pak Nasution.” Adi, sekretarisku yang setia dan terorganisir, masuk dengan membawa dua gelas teh hangat. “Mbak, ini kasus yang cukup rumit. Ada potensi konflik kel

