Anak Mama

1024 Kata
Diana P.O.V Tatkala sedang ke toilet, aku mendengar isakan tangis dari salah satu bilik. Dengan penasaran, aku mendengarkan apa yang dibicarakan gadis di bilik itu. "Tolong, jangan sebarin foto itu. Saya masih proses mengumpulkan uang." "Tidak.. saya ga akan kabur kemana-mana. Tolong jangan sebar foto itu." Aku memilih diam menunggu gadis itu keluar dari bilik, benar saja tidak lama kemudian pintu bilik terbuka, terlihatlah seorang gadis dengan mata sembab mendekat ke washtafel. "Ini kartu nama saya, saya akan membantu kamu sebisa mungkin. Kamu jangan takut, selalu undur orang itu, akan saya selidiki. Kamu tau siapa dia?" tanya ku. "Tidak, saya tidak bisa mengenali suara nya. Dia memakai pemalsu suara." jawab gadis ini. "Saya Diana." ujarku. "Saya Sarah." sahut gadis ini. Kami berjabat tangan, aku bisa melihat kalau sebenarnya dia cukup pendiam dan bisa dibilang jarang bertemu dengan orang asing. Tangannya bergetar saat kami bersalaman. "Saya akan mencaritahu siapa orang itu. Kamu jangan takut, berapa yang dia minta?' tanya ku. "Seratus juta, eeuumm.." Melihat kegundahan dari Sarah, aku rasa dia bingung harus memanggilku apa. "Panggil aja Mbak Diana.. ibu saya orang Jawa kok." ujarku membuatnya tersenyum kecil. "Dia minta seratus juta mbak." sahut Sarah. "Okay, kamu kirim dua puluh juta ke dia. Bilang sisanya akan menyusul dalam sebulan." suruhku. "Mbak, ini banyak banget!" tolaknya. "Yaudah kirim lima belas aja berarti." bujuk ku. "Tapi saya pasti lama mbak ngembaliin uang nya." ujar Sarah. "Kamu tenang aja, ini salah satu cara buat nangkap dia." sahutku dengan senyuman kecil dan dia mengangguk. "Kenapa kamu enggak cari pengacara aja?" tanya ku. "Saya orang ga mampu, mbak. Kerja aja saya harus ngehidupin adik-adik saya yang lain." jawabnya. "Okay, ayo ikut saya ke meja!" ajak ku. Kami berdua kembali ke meja dimana disana masih ada kedua orangtua dan keempat sahabatku yang sedang bercanda dengan Jasmine. "Princess? Siapa ini?" tanya papa. "Calon klien ku, pa.. papa ada kenalan orang cyber? Kayaknya aku perlu ngelacak seseorang." jawabku. "Papa ada teman yang orang cyber. Tapi kenapa? Apa ada sesuatu?" tanya Papa yang ku jawab anggukan. Aku mulai menceritakan semua nya ke papa dan dia mengangguk. "Kamu tenang aja sayang, papa juga bakalan ngebantu kamu." ujar papa. "Dengan ngasih tau orang cryber aja udah sangat ngebantu pah." sahutku. "Akan segera papa hubungi dia." ujar papa. "Loh? Diana?" Kami semua menengok mendengar seseorang memanggilku, ternyata Justin. "Justin?" ujarku memastikan. "Astaga, kebetulan banget kita ketemu. Oh Tuan Harrington, apakah anda klien dari Nona Diana?" tanya Justin yang membuat ku memutar mata malas. "Come on, anda tau kalau nama keluarga kami sama. Dia papa ku." ujarku dengan malas membuatnya tertawa dan mengangguk. "Iya, aku mengingatnya. Maafkan candaan ku tadi, tuan!" ujar Justin. Papa mengangguk, "Apakah anda mengenal anak saya, Tuan Justin?" tanya Papa. "Iya, saya mengenal Nona Diana karna saya salah satu kliennya." jawab Justin. "Ouh, senang mengetahuinya." sahut papa. "Apakah kamu ada pertemuan disini, Justin?" tanya ku. "Engga kok, kebetulan aku memang mau makan siang disini." jawab Justin. "Kalau begitu, gabung saja di meja kami!" ajak mama membuat Justin tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Maaf, Nyonya Harrington. Saya sudah memesan satu meja disana, mungkin lain kali kita akan bertemu dan makan malam bersama. Oh iya, Diana? Saya ingin mengundang kamu ke acara kantor saya dengan Prestige Hotel, mungkin kamu berminat. Kita bisa pergi bersama!" ujar Justin. "Tuan Justin, apakah acara nya itu di Bandung?" tanya Riana. "Eh? Nona Riana? Anda disini juga? Maaf saya baru sadar." tanya Justin. "Iya, Riana adalah anak dari salah satu sahabat saya. Dia juga sahabat dari Diana." jawab mama. "Betul sekali, Nona Riana. Bagaimana? Apa sahabat anda ini mau menerima ajakan ku?" tanya Justin membuat Riana menatapku. "Eeumm, kalo gw sih mau aja tapi Jasmine harus ikut sama gw." bisik ku ke dekat Riana. "Tuan Justin, sahabat saya mau tapi dia harus membawa anaknya." jawab Riana. "Sure, it's not a big deal!" sahut Justin dan akupun menganggukan kepala setuju. Akhirnya Justin pergi ke meja yang sudah dia pesan, aku kembali fokus ke Sarah yang masih menundukan wajahnya. "Papa, segera kabari aku ya kalau teman cyber papa itu udah setuju!" pintaku. "Sure, princess!" sahut papa. "Sarah, kembali bekerja.. kita bertemu nanti okay!" ujarku. Dia mengangguk dan pamit pergi pada kami semua. Jam menunjukan pukul 12.30 yang artinya sudah waktunya aku kembali ke kantor tapi aku masih menggendong Jasmine yang tertidur di dalam dekapanku. "Princess, udah setengah satu. Kamu mau balik ke kantor jam berapa?" tanya papa menyadari aku menatap jam di pergelangan tanganku. "Mungkin barengan sama papa dan mama." jawabku sembari menggendong Jasmine. "Om, tante.. kami izin ya mau balik ke kantor!" ujar Citra. "Oh iya iya, maaf ya jadi nyita waktu kalian. Makasih loh udah datang!" sahut mama. "Ih kita justru yang bilang makasih, tan.. makasih loh udah diajak makan siang bareng." kata Elysa. Keempat sahabatku pamit, akupun menciumi wajah Jasmine lalu memberikannya pada mama. "Aku juga balik ya ma, pa.." pamitku. "Eitsss, kita turun barengan. Ayo!" ajak mama sembari menggendong Jasmine. Namun anak ku itu malah terbangun dan menangis. "Anak mama nangis ya tau mama nya mau kerja." ujar mama menggendong Jasmine berharap agar anak ku itu kembali tenang tapi Jasmine masih menangis sehingga akupun kembali menggendongnya. Ajaibnya, anak ku ini langsung terdiam. Akupun tersenyum tenang, kami memilih berjalan bersama. "Sini sayang, biar mama yang gendong Jasmine!" pinta mama. "Nanti aja ma, di basement aja." tolak ku dengan halus. "Saya ingin membayar pesanan atas nama Harrington.." ujar papa. "Maaf tuan, pesanan anda sudah dibayar oleh Tuan Markham.." sahut Kasir yang membuat kami saling bertatapan dan mengangguk. "Kalau boleh tau, jadi berapa ya?" tanya ku dengan tenang. "Ini bill nya, nona." jawab pegawai kasir membuatku melihat berapa total keseluruhan, ternyata hanya sekitar 1,5Jt. "Terima kasih ya.. ini tip untuk kamu." ujarku memberikan dua lembar seratus ribuan. Kami segera turun menggunakan lift, Jasmine yang mulai terlelap membuatku lega. Ting! Lift terbuka di basement, aku menyerahkan Jasmine agar kembali digendong mama tapi bayi kecil ku ini kembali menangis. "Astaga... dia mau sama mama nya aja berarti." ujar papa. Akupun menghela nafas dan kembali menggendong Jasmine. "Yaudah, pa.. ma.. aku bawa Jasmine ke kantor aja." putusku. "Are you sure?" tanya mama. "Yeah, i'm sure." jawabku. "Biar papa bilang ke Pak Nas." ujar Papa yang ku setujui.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN