Diana P.O.V Hari itu, mendung menggantung di langit Jakarta. Udara lembap dan berat, seakan ikut menyesakkan d**a. Aku melirik arlojiku yang menunjukan pukul 09.12 pagi. Di kursi tunggu Polres Metro Jakarta Pusat, Sarah duduk di sampingku. Jemarinya menggenggam ujung lengan blazernya sendiri, berusaha menyembunyikan gemetar yang tak bisa dia kendalikan. Dia baru beberapa hari jadi klienku. Seorang pelayan yang aku tau kalau dia cerdas dan cekatan. Tapi hidupnya berubah seketika sejak sebulan lalu, ketika seorang laki-laki mulai mengiriminya pesan bernada ancaman dan intimidasi agar dia membayarkan sejumlah uang. Hari ini adalah awal langkah hukum yang kami tempuh. Kami akan melapor secara resmi. Aku tahu betul, tidak semua laporan berakhir dengan keadilan. Tapi aku juga tahu: tak semua

