Aku masih menatap Jo saat ia perlahan tersenyum, senyum kecil yang baru muncul setelah semua yang terjadi.
“Sekarang,” katanya pelan sambil berdiri, “kita makan dulu, ya?”
Aku sempat mengerjap.
“Makan?”
Jo mengangguk, lalu berdiri dan melangkah ke meja kecil di sudut kamar.
“Kamu pasti lelah dan lapar. Aku juga, sebenarnya.”
Baru saat itu aku sadar betapa kosongnya perutku. Dari tadi aku terlalu sibuk menahan napas dan perasaan, sampai lupa kalau tubuhku juga butuh diisi. Jo membuka kantong kertas di tangannya, dan aroma yang langsung kukenal pun tercium—wangi khas nasi cuka dan ikan segar. Sushi.
Aku menatapnya heran.
“Kamu beli sushi?”
Jo menoleh, tersenyum kecil.
“Iya. Aku tahu kamu nggak suka makanan berat pagi-pagi. Jadi aku beli sushi box dan kopi favoritmu.”
Ia menata semuanya di meja: dua kotak sushi dengan sumpit kayu, dan dua gelas kopi—satu dengan tutup berwarna krem, milikku. Dari aromanya saja aku tahu rasanya. Aku hampir tak percaya.
“Kamu sempat beli ini semua?” kataku pelan.
Jo mengangguk sambil duduk di sampingku di tepi ranjang.
“Tadi aku agak lama karena waktu antar Centia pulang dan nunggu kendaraan datang, sekalian aku pesan sushi dan es kopi kesukaanmu. Kupikir kamu bakal butuh sesuatu yang bisa bikin tenang.”
Aku diam, menatap dua gelas kopi di meja itu. Hal sederhana, tapi entah kenapa membuat dadaku hangat.
“Aku kira kamu nggak bakal balik,” ucapku pelan.
Jo menatapku, matanya lembut tapi serius.
“Aku janji, Ra. Aku pasti balik. Selalu.”
Aku menarik napas panjang, lalu tersenyum kecil.
“Terima kasih, Jo.”
Ia ikut tersenyum.
“Makan, yuk. Yang ini salmon favorit kamu.”
Aku membuka kotak sushi itu perlahan. Aroma segar langsung memenuhi ruangan. Potongan ikan salmon berbaris rapi dengan jahe muda dan sedikit wasabi di sampingnya. Jo duduk dekatku, menatap dengan tenang.
“Coba yang ini,” katanya sambil mengambil sepotong sushi dengan sumpit, lalu mengulurkannya ke arahku.
Aku berkedip, agak terkejut.
“Kamu mau nyuapin aku?”
Jo tersenyum tipis.
“Iya. Kamu masih kelihatan gemetar. Biar aku bantu.”
Nada suaranya lembut. Aku sempat ragu, tapi akhirnya membuka mulut perlahan. Sushi itu menyentuh bibirku, dan rasa asin lembut dari ikan serta nasi hangat langsung menyebar di lidah.
“Enak?” tanya Jo sambil tersenyum kecil.
Aku mengangguk pelan.
“Hmm… iya. Enak banget.”
“Bagus,” katanya.
“Aku tahu kamu suka yang salmon duluan.”
Ia mengambil potongan lain, kali ini dengan sedikit jahe di atasnya.
“Pelan-pelan aja, Ra. Nikmatin dulu.”
Aku menatapnya, lalu tertawa kecil, meski suaraku masih serak.
“Kamu kayak takut aku bakal kabur.”
Jo tersenyum lembut.
“Bukan takut kamu kabur. Aku cuma mau pastiin kamu baik-baik aja.”
Kata-katanya sederhana, tapi cukup untuk membuat dadaku terasa hangat. Aku membiarkan dia menyuapiku beberapa potong, sesekali menyeruput kopi dingin di tanganku. Setiap suapan terasa seperti cara Jo meminta maaf tanpa harus mengucapkannya. Saat kotak sushi hampir kosong, aku menatapnya dengan senyum kecil.
“Sekarang gantian,” kataku pelan, mengambil sumpit dari tangannya.
“Aku juga mau nyuapin kamu.”
Jo tertawa kecil, matanya menatapku lembut.
“Boleh.”
Aku mengambil satu potong sushi dan mengulurkannya padanya, sama hati-hatinya seperti yang ia lakukan padaku tadi. Ia membuka mulut perlahan, dan untuk sesaat, semuanya terasa sederhana—hanya dua orang yang mencoba menemukan kedamaian setelah badai.
Di antara aroma kopi dan sisa rasa sushi di lidah, aku menyadari satu hal: kebersamaan seperti ini, sesederhana apa pun, adalah cara kami saling menguatkan.
Setelah selesai makan, kami lalu membereskan sisa bungkus makanan dan menaruhnya di tempat sampah. Suasana kamar kembali tenang. Aroma kopi masih samar, bercampur dengan wangi pengharum ruangan.
Jo lalu bergeser dengan gerakan pelan, seolah takut membuatku kaget.
“Ra,” katanya lembut, “ayo mandi bareng. Sekalian biar tubuh kita lebih segar lagi.”
Aku mengangguk lemah, tubuhku masih terasa lemas. Jo membantuku turun dari ranjang, tangannya meraih tubuhku yang masih telanjang dengan hati-hati sebelum menuntunku menuju kamar mandi.
Sebelum masuk, Jo melepas pakaiannya—bukan dengan gerakan tergesa, tapi lebih seperti memastikan semua tetap nyaman untukku. Setelah itu, ia kembali mendekat dan menuntunku masuk bersama.
Begitu kakiku menjejak lantai kamar mandi, hawa hangat dari uap yang mulai memenuhi ruangan langsung menyentuh kulitku. Lampunya tidak terlalu terang—cukup lembut untuk membuat semuanya terasa tenang. Jo menutup pintu perlahan di belakang kami, lalu memutar keran shower.
Aku berdiri di dekatnya, masih merasakan sedikit gemetar yang belum sepenuhnya hilang. Jo memperhatikan itu; matanya sempat melihat tanganku yang bergetar sebelum kembali menatap wajahku.
“Kamu masih gugup?” katanya pelan, hanya mencatat, tidak menyalahkan.
Aku menarik napas, mencoba menstabilkan ritmenya.
“Iya… sedikit.”
Jo lalu mendekat, cukup dekat hingga hangat tubuhnya bisa kurasakan. Ia menarik tanganku dengan perlahan. Aku membiarkan, dan ia menggenggamnya—genggaman mantap yang membuat bahuku sedikit lebih rileks.
“Masuk sini,” ucapnya lembut.
Kami melangkah perlahan ke bawah shower. Air hangat mengenai punggungku lebih dulu, membuatku tanpa sadar menghembuskan napas panjang. Separuh keteganganku hilang dalam satu hembusan. Jo memperhatikan reaksiku, lalu menggeser posisinya supaya air jatuh merata di bahuku.
Aku memejamkan mata. Suara air, udara hangat, dan kehadirannya membuat dadaku terasa lebih ringan.
Jo mengusap pelan lengan atasku dengan telapak tangan—gerakan sederhana, tidak tergesa, hanya memastikan aku tetap tenang. Sentuhannya seperti melepaskan otot yang terlalu lama menegang.
“Kamu mau mandi sendiri, atau aku bantu?”
Pertanyaannya sederhana, tapi cara ia bertanya… lembut dan memberi ruang. Bukan sebuah paksaan—lebih seperti tawaran yang bisa kutolak kapan saja. Aku menghela napas, masih merasakan getaran kecil di bahuku.
“Bantuin… minta tolong,” jawabku pelan.
Ia mendekat, lalu mengangkat tangan untuk menyentuh rambutku—pelan, memastikan aku tidak keberatan. Sentuhannya terasa seperti seseorang yang merawatku saat aku sedang rapuh. Hangat dan stabil.
Air mengalir turun lewat rambutku dan mengenai kulitku dengan lembut. Aku kembali memejamkan mata, tubuhku perlahan melepaskan ketegangan halus yang sejak tadi kutahan.
“Apa airnya terlalu panas?” tanya Jo.
Aku menggeleng.
“Pas kok.”
Ia mengangguk, lalu dengan hati-hati mengambil sabun cair, menuangkan sedikit ke telapak tangan, dan meratakan busanya di bahuku. Gerakannya ringan. Air hangat membuat busanya perlahan hilang, sementara Jo tetap dekat tanpa mendesak. Setiap sentuhannya seperti pengingat bahwa aku tidak sendirian.
Aku membuka mata dan melihatnya. Alisnya sedikit berkerut—ekspresi fokus yang jarang ia tunjukkan, biasanya muncul saat ia ingin memastikan semuanya berjalan lembut.
“Terima kasih ya, Jo,” ucapku, lebih pelan dari yang kusadari.
Jo berhenti sejenak, lalu menurunkan tangannya. Ia menatapku lembut sebelum menjawab,
“Sama-sama, Ra. Aku di sini buat kamu.”
Aku mengangguk pelan, membiarkan air mengalir dari rambut ke punggungku, membiarkan Jo merawatku dengan tenang dan sabar. Di bawah cahaya lembut kamar mandi, uap hangat membungkus kami—dan untuk pertama kalinya sejak tadi, aku merasakan tubuhku benar-benar mulai pulih.
Air hangat terus turun di sekitar kami. Jo meraih sampo dan mulai mengurutnya ke rambutku. Telapak tangan dan jemarinya menelusuri tiap helai dengan gerakan lembut. Aku menarik napas dalam ketika Jo melanjutkan mengusap sampo itu, merasakan ketegangan di bahuku perlahan melunak. Air hangat yang mengalir dari atas membuat tubuhku lebih rileks, sementara kehadirannya meredakan gejolak di dalam dadaku.
Aku menatap Jo dengan mata yang masih sedikit merah, tapi tidak lagi diselimuti rasa takut. Air hangat dan sentuhannya membuat napasku kembali stabil.
“Kamu… benar-benar nggak akan pergi kan?” tanyaku pelan, suaraku masih serak tapi lebih tenang.
Jo mengangkat wajahnya, matanya langsung bertemu dengan milikku—tegas dan penuh keyakinan.
“Nggak akan.”
Ia kembali merapikan busa di kulitku seperti biasa, lalu menambahkan bisikan pendek,
“Aku janji. Selama kamu selalu setia dan memenuhi segeala keinginanku.”
Aku mengangguk pelan, sudah terbiasa dengan cara Jo menekankan setiap kata. Ia bahkan terlihat lebih tegas dari biasanya saat mengucapkan janji itu. Aku tahu itu lebih baik daripada membantah. Sebagai tanda bahwa aku telah mengerti, aku menggenggam lengannya sedikit lebih erat. Jo memberi senyum tipis saat melihatnya, lalu kembali fokus membilas sisa sabun dari tubuhku.
Aku tidak tahu sejak kapan, tapi aku sudah menempel lebih erat padanya. Sebagian tubuhku bersandar pada d**a Jo. Aku bisa merasakan ritme detak jantungnya—tenang, tapi sedikit lebih cepat, menunjukkan bahwa ia juga merasakan sesuatu di antara kami.
Aku mengeratkan lengan di tubuhnya, lebih erat dari sebelumnya. Sekarang aku tahu apa yang aku mau—bukan hanya kebutuhan, tapi keinginan yang jelas.
Aku mendongak sehingga bisa melihat matanya dengan jelas. Jo menunduk sedikit, membuat wajah kami semakin dekat hingga hidung kami hanya berjarak beberapa sentimeter. Napas kami saling bertemu—hangat, cepat, tapi tetap terkendali. Keinginannya terlihat jelas di matanya, dan aku tahu aku merasakan hal yang sama. Aku melingkarkan lengan di lehernya tanpa melepaskan tatapannya. Aku ingin lebih dekat.
Aku tidak tahu siapa yang bergerak lebih dulu, tapi aku tahu Jo membiarkanku mengambil langkah itu. Tatapan kami hanya bertahan sebentar sebelum bibir kami bersentuhan dalam ciuman lembut yang intens.
Aku tidak bisa fokus pada apa pun selain sentuhan bibirnya dan tangan besarnya yang melingkari pinggangku. Suhu tubuhnya yang hangat terasa jelas menembus kulitku, membuatku ingin lebih dekat. Aku ingin merasakan kehadirannya sepenuhnya, seakan tidak ada ruang tersisa di antara kami. Rasa ingin itu tumbuh karena aku tahu sentuhan ringan ini tidak akan pernah cukup bagiku.
Aku tidak tahu apakah aku atau Jo yang memulai, tapi tiba-tiba posisi kami sudah berubah. Sekarang aku tertahan di dinding, dengan Jo di depanku. Aku mendongak menatap wajahnya. Tatapannya tidak lagi lembut; kini matanya menyala dengan intensitas yang sulit diabaikan, penuh dorongan nafsu dan keinginan yang jelas. Aku tahu apa yang ia inginkan. Dan aku ingin menjawabnya.
Aku mengangguk cepat, napasku tersendat saat tangannya meremas p******a ku dengan kasar. Aku tahu Jo suka begini—kurang sabar, tapi penuh tekad. Dan aku juga menikmatinya.
"Silakan... Pakai aku sepuasmu Jo," desisku serak sambil mengepalkan tangan di punggungnya.
Jo dengan cepat membalikkan tubuhku agar menghadap dinding kamar mandi. Air hangat masih mengalir di atas kami ketika ia berdiri dekat di belakangku, tubuhnya hampir menempel pada punggungku.
"Kamu pasti udah basah banget ya?" godanya sambil salah satu tangannya meraba ke bawah perutku.
Aku menggigit bibir dan mengangguk, napasku terasa berat. Kata-kata terasa terlalu kecil untuk menjelaskan seberapa kuat keinginanku—yang jelas hanyalah bahwa aku ingin bercinta lagi dengannya. Jo tersenyum dan mencium tengkuk leherku. Ia tahu dengan baik apa yang ingin ku maksud. Ia sangat pandai dalam hal ini.
"Kamu siap?" tanyanya dengan suara pelan.
Aku mengangguk mantap. Tubuhku sudah siap menerima apa pun yang akan ia berikan.
Ia mendekatkan wajahnya, mencium daun telingaku dengan lembut sebelum berbisik:
"Aku bakal buat kamu merasakannya sampai puas "
Jo menarik tubuhku dengan keras hingga aku mengerang, dorongan penisnya masuk ke vaginaku yang sudah basah—begitu dalam hingga membuat seluruh tubuhku menegang. Air shower yang masih mengalir membuat kulitku semakin sensitif setiap kali ia menghantam dari belakang.
“Ahhh Jo… penuh banget…” erangku, jemariku mencengkeram dinding marmer yang dingin untuk bertahan.
Jo menahan senyum, genggamannya pada pinggulku semakin mengunci seakan ia tidak membiarkanku lari.
“Aku mau kamu ingat ini sampe besok,” ucapnya, kasar namun rendah, suaranya bergetar di telingaku.
Ia mulai menggerakkan penisnya dengan ritme cepat namun tetap teratur, seakan memahami persis bagaimana membuatku kehilangan kendali. Setiap hentakan membuat dadaku bergetar, jari-jari kakiku menegang, dan napasku pecah menjadi desahan pendek yang tak mampu kutahan. Rasa hangat dari tubuh Jo kontras dengan dinginnya ruangan, menciptakan campuran sensasi yang membuat peganganku melemah.
“Jo! A-Ah!! Ini enak banget!” desahku lebih keras.
Jo tidak merespon, seakan menikmati bagaimana aku semakin kehilangan kuasa atas tubuhku sendiri.
Ia mempercepat ritme, setiap dorongannya membuat tubuhku melengkung ke depan. Air shower yang hangat terus mengalir di punggungku sementara Jo menancapkan penisnya di vaginaku lebih dalam lagi.
“Kamu suka kan?” godanya, suaranya serak dan rendah—terlalu dekat di telingaku.
Tangannya menyapu rambut basahku, lalu menggenggamnya perlahan, menarik kepalaku ke belakang hingga leherku terekspos. Aku mengangguk cepat, mencoba menahan suara yang ingin pecah dari tenggorokanku. Tapi genggamannya menguat, menarik erangan panjang dariku tanpa bisa kucegah.
“A-Ah!! Iya Jo, aku suka banget!!!” seruku, suara bergetar tanpa kendali.
Jo lalu merubah ritmenya—lebih liar, seperti seseorang yang akhirnya berhenti menahan diri.
"Dasar perempuan jalang," bisiknya kasar sambil tangan satunya mencubit p****g kananku keras-keras.
Air shower masih memercik saat tubuh kami kembali saling menghantam, suara air dan napas kami memenuhi ruangan itu. Segalanya menyatu—panas tubuh, dinginnya marmer, dan ritme Jo yang semakin tak terkendali. Ia seakan tidak peduli apakah desahanku terdengar seperti kesakitan atau kenikmatan; justru setiap kali ia mendengarnya, gerakannya menjadi lebih liar, lebih dalam, seakan mengejar sesuatu yang hanya ia tahu.
“Jo! A-Ah! Kamu... terlalu dalam!” rintihku, suaraku pecah seperti setengah menangis.
Jo tertawa pendek, napasnya panas di telingaku.
“Terlalu dalam? Kita aja baru mulai main.”
Genggamannya naik ke tengkukku, lalu ia menunduk dan menggigit bagian belakang leherku—cukup lama hingga kulitku merasa panas. Sensasi itu menjalar cepat, membuatku hampir kehilangan keseimbangan.
Jo tidak memberiku kesempatan menjawab. Dengan gerakan kuat, ia membalikkan tubuhku lagi ke arahnya dan menekanku ke dinding kamar mandi. Air shower mengalir deras di atas kepala kami, menambah panas yang sejak tadi sudah menempel di kulitku. Dalam satu tarikan, ia mengangkat salah satu kakiku dan menyandarkannya di pinggulnya, membuat vaginaku terbuka seluruhnya di bawah kendalinya.
Ia menarikku lebih dekat, mendesak masuk dengan gerakan yang lebih dalam dan kuat daripada sebelumnya. Tubuhku tersentak, tangan otomatis mencengkeram bahunya erat-erat, mencari pegangan.
“Buka lebar,” perintahnya—suara rendah dan penuh tuntutan yang membuatku menelan napas.
Aku mengikuti perintahnya tanpa ragu, membuka kedua kakiku lebar-lebar sambil menatap Jo dengan mata yang masih berkaca-kaca. Air shower memenuhi seluruh ruangan, tapi suaraku tetap terdengar jelas saat ia kembali mendorong masuk ke dalam vaginaku—lebih keras kali ini.
"J-Jo!!!" teriakku, kepala terlempar ke belakang karena hentakan itu.
Tanganku mencengkeram erat pinggulnya untuk mencari pegangan. Jo hanya tersenyum dingin sambil terus menggerakkan tubuhnya dengan ritme brutal. Setiap dorongan membuat badan kami saling bertabrakan keras di bawah air yang masih mengalir deras.
Aku bisa merasakan tubuh Jo menegang, napasnya berat di telingaku. Gerakannya—meski cepat dan intens—membuat seluruh tubuhku bereaksi, seolah menyesuaikan diri dengan ritmenya.
“Ah! J-Jo!” seruku tanpa mampu menahannya.
Kepalaku terjatuh lemas sementara air shower terus mengalir di rambutku. Tanganku mencengkeram bahunya agar aku tetap seimbang. Jo menggeram rendah saat merasakan reaksiku. Pegangannya di pinggangku semakin kuat, seolah ia ingin menahanku tetap dekat dengannya.
“Kamu mau keluar juga kan?” bisiknya kasar, suaranya serak dan penuh gairah.
Gerakannya kemudian menjadi makin cepat dan tidak beraturan—lebih didorong oleh intensitas momen daripada kontrol. Yang tersisa hanya dorongan kuat seorang pria yang sepenuhnya larut dalam keinginannya untuk tetap berada sedekat mungkin denganku. Setiap sentuhan panjang di punggungku membuatku gemetar dari ujung tulang belakang hingga naik ke leherku, membuatku sulit bernapas dengan teratur.
Ia merasakan tubuhku menegang, setiap otot di dalam vaginaku mencengkeram erat penisnya. Jo mengerang kasar saat merasakannya—seperti seseorang yang akhirnya dapat apapun yang ingin ia ambil.
“Rara… vaginamu enak banget…” ucapnya serak, gerakannya menjadi jauh lebih tergesa dan intens.
Air shower terus mengalir, membuat kulit kami semakin hangat dan memerah. Tanganku terangkat spontan, mencengkeram rambut basah Jo dan menarik wajahnya mendekat. Bibir kami saling menabrak dalam ciuman yang liar dan penuh napas berat, bercampur rasa air yang mengalir dari shower.
“A-Ah! J-Jo! Aku mau keluar!!!” rintihku, suaranya parau dan terputus-putus di antara ciuman itu.
Jo hanya memberikan senyum sebelum meningkatkan ritmenya dengan dorongan yang lebih cepat dan intens, membuat tubuhku terpental ringan ke dinding marmer setiap kali kami bergerak semakin dekat satu sama lain.
Ia menggenggam pahaku erat, menarik tubuhku lebih dekat sampai tidak ada jarak sama sekali di antara kami. Gerakannya kini dalam, mantap, dan tepat—seolah ia tahu persis bagaimana membuatku kehilangan kendali.
“Udah nggak bisa nahan lagi ya?” godanya dengan suara serak, bibirnya menyentuh telingaku yang basah.
“Aku mau liat kamu lepas.”
Tanganku mencengkeram rambut Jo lebih kuat, mengikuti ritme intens yang ia buat, tubuhku bergerak menyesuaikan dengan setiap dorongannya.
“A-Ah! J-Jo… aku… AKU KELUAR!!!” jeritku pecah, suaranya menggema di ruang mandi ketika sensasi itu menghantam seluruh tubuhku sekaligus. Tubuhku menegang keras, menarik dirinya lebih dekat saat gelombang itu menyapu dari ujung kaki hingga kepalaku, membuatku kehilangan napas untuk beberapa detik.
Jo tidak mengubah posisiku; ia tetap menahan tubuhku dekat dengannya, membuatku hampir tidak bisa berdiri tegak karena intensitas momen sebelumnya. Napasku masih berat, lututku lemah, dan tubuhku gemetar karena semuanya terasa berlebihan. Ia tidak berhenti—gerakannya semakin liar, dorongan terakhir yang dalam dan tegas sampai ke ujung vaginaku. Tubuhku masih menggigil di tengah o*****e saat Jo mengangkat kepalaku dengan kasar, memaksakan mataku terbuka untuk menatapnya.
"Lihat aku," perintahnya—suara serak namun tetap penuh kekuatan.
Ia akhirnya melepaskan penisnya dari vaginaku dengan satu gerakan pendek, masih menjaga genggamannya di pinggangku agar aku tidak jatuh. Air shower turun deras, menabrak bahuku dan membuat rasa hangat di tubuhku bercampur dengan dinginnya lantai di bawah kakiku.
“Turun,” perintah Jo rendah, suaranya serak dan penuh tekanan emosional yang tidak ia sembunyikan.
“Jongkok.”
Napas tercekat di tenggorokanku. Tubuhku masih belum stabil, tapi aku mengikuti perintahnya perlahan, menurunkan tubuh hingga lututku menyentuh lantai basah. Mataku mendongak ke arahnya, menunggu instruksinya yang berikutnya, sementara air shower terus mengalir di antara kami, menambah berat suasana.
Air shower masih jatuh deras di tubuhku ketika Jo menatap mataku tanpa berkedip. Tubuhku masih gemetar, entah karena suhu air atau karena intensitas yang ia tunjukkan sejak tadi.
Ia mendekat dan meraih rambut basahku, menariknya ke belakang hingga leherku terekspos. Gerakannya tegas, familiar, dan membuatku kembali merasa seluruh fokusnya terkunci padaku.
"Buka mulutmu," katanya, suaranya rendah dan tidak memberi ruang untuk menolak.
Jari-jarinya menyentuh bibirku dengan cara yang membuatku tersentak kecil sebelum ia mendorong penisnya ke dalam mulutku—tidak sepenuhnya kasar, tapi tetap penuh kendali. Ketegasannya membuat mataku sedikit berair, tetapi bukan karena sakit. Justru sebaliknya—refleks itu membuatku menggenggam pahanya lebih erat, memberi tanda bahwa aku mengikutinya, bukan menolak.
Jo menarik napas dalam, matanya gelap dan penuh dorongan saat ia memperhatikan reaksiku. Jemarinya yang besar membelai rambutku, genggamannya menguat seolah meminta agar aku tetap fokus padanya.
"Pelan-pelan, Jo," bisikku dengan suara serak yang bergetar.
Tanganku mencengkeram pahanya untuk menjaga keseimbangan sementara aku mencoba menyesuaikan diri dengan ritmenya. Setiap kali ia bergerak mendekat, tubuhku menegang sejenak sebelum perlahan mengikuti arah gerakannya. Napasku keluar melalui hidung—cepat dan tidak teratur karena berusaha menyesuaikan diri.
Jo mengerang rendah saat melihat mataku mulai berair tapi tetap berusaha bertahan.
"Dasar perempuan manja… kalau nggak minta pelan-pelan gitu, bisa?" godanya, suaranya berat dan dingin meski tangannya sempat membelai pipiku kasar namun penuh maksud.
Gerakannya penisnya menjadi semakin tak terkendali seiring intensitas emosi yang terus meningkat.
Tubuhku menegang saat Jo mempercepat ritme, membuatku berusaha mengikuti setiap dorongan penisnya. Air shower terus membasahi wajah dan tubuh kami, namun semuanya terasa percuma—yang jelas hanya tekanan keras di bagian leher dan rahangku yang membuat pikiranku kacau.
"Jo... tolong..." rintihku pelan, suaraku parau karena terlalu didesak.
Tanganku mencoba mendorong pahanya perlahan untuk memberi isyarat bahwa aku mulai kesulitan. Namun Jo hanya tersenyum dingin sebelum menekanku lebih kuat ke arahnya.
"Tahan, sebentar lagi…" bisiknya kasar sambil salah satu tangannya menarik rambutku dengan keras.
Jemari-jemarinya yang besar mencengkeram daguku, membelainya sekilas sebelum memaksakan gerakan kepalaku naik turun dalam tempo cepat—seolah ia sepenuhnya mengendalikan arah dan ritmenya.
Jo menggeram kasar saat aku berusaha menyesuaikan diri dengan dorongannya yang semakin tidak teratur. Tanganku mencengkeram pahanya erat-erat, jari-jariku menekan kulitnya karena aku berusaha tetap bertahan.
“Ah! J-Jo… pelan…” rintihku sambil mataku mulai berkaca-kaca.
Gerakan Jo kini berubah jauh lebih brutal—tanpa kontrol, tanpa ritme, hanya desakan liar dari seseorang yang benar-benar kehilangan kendali. Air shower membuat setiap sentuhan dan gesekan terasa semakin intens.
Aku merasakan tubuhnya menegang kuat ketika ia menutup mulutnya sendiri untuk menahan erangannya.
“A-Ah!! Rara…!” jeritnya serak sebelum akhirnya seluruh ketegangan itu meledak.
Air shower terasa masih deras mengalir saat Jo menancapkan penisnya dalam-dalam ke mulutku tanpa ampun. Tubuhnya seketika menegang, dan genggamannya di rambutku semakin keras, membuatku sulit bergerak. s****a hangat dari penisnya mengalir begitu saja ke mulut dan tenggorokanku.
“Telan semua,” ucapnya perlahan.
Suaranya berat, penuh tekanan, seolah tak memberi ruang bagi penolakan. Aku menelan spermanya tanpa sisa. Aku sempat tersedak, tapi tidak punya pilihan selain menurut. Sensasi hangat yang tiba-tiba mengalir membuatku terkejut, mataku membesar, sementara air shower membasahi wajahku yang memerah. Tubuh Jo tetap tegang beberapa detik di depanku—otot punggungnya mengeras sebelum perlahan mulai mereda.
Saat tubuhnya yang menegang akhirnya melonggar, wajahnya terlihat lebih rileks, matanya mengerjap lemas, dan nafasnya keluar lebih halus, seolah semua ketegangan dan dorongan yang sebelumnya ada telah lenyap, hanya meninggalkan kepuasan yang dalam.
Jo mengeluarkan penisnya dari mulutku dengan lembut, menarik tubuhku sehingga kami duduk bersebelahan dengan hanya sedikit jarak di antara kami. Ia tidak melakukan apa-apa, hanya duduk disana dengan mata terpejam dan napasnya yang perlahan berangsur pulih.