Aku Mulai Menikmatinya

3228 Kata
Aku menggenggam tangan Centia erat saat kami keluar dari kamar mandi. Uap masih menempel di kulit kami, dan kami hanya memakai handuk. Kalung di leherku ikut bergerak setiap kali aku melangkah. Rasanya berat—bukan karena bentuknya, tetapi karena apa yang baru saja terjadi dan perubahan yang akan menyusul. Aku memandangi punggung Centia yang berjalan di depanku. Dia terlihat tenang, seperti sudah tahu apa yang harus dilakukan. Suara lonceng dari kalung kami yang berdenting bersamaan membuat suasananya terasa aneh, tetapi juga akrab. Aku masih gugup, tetapi ada bagian diriku yang ingin dipandu, yang tidak ingin melangkah sendirian. Perlahan, langkahku mulai mengikuti langkahnya. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa siap menghadapi apa pun yang menunggu di depan. Saat kami kembali ke kamar, Jo sedang duduk di tepi ranjang sambil memainkan ponselnya. Ia mengangkat kepala ketika mendengar langkah kami. Aku mengikuti Centia dan berhenti beberapa langkah dari Jo. Suasananya tenang, tetapi membuat dadaku terasa sesak. Jantungku berdebar cepat saat Jo berdiri dan berjalan perlahan mendekat. Matanya bergantian menatap aku dan Centia—tenang, tetapi tajam. Ia sedikit mengangkat daguku, dan aku langsung tahu bahwa aku harus diam. “Centia,” katanya tegas. “Buat dia pakai baju pelayan. Waktu aku selesai mandi, dia harus udah siap.” Aku jadi terdiam. Baju pelayan? Yang terbayang di benakku adalah seragam hitam-putih sederhana dengan celemek kecil. Banyak pertanyaan muncul di kepalaku—sejak kapan mereka menyiapkan ini, kenapa seragamnya ada dua, apakah semuanya sudah direncanakan—tapi aku bahkan tidak berani bertanya. Jo tidak menunggu jawaban. Ia berjalan melewati kami menuju kamar mandi dan menutup pintunya. Aku menatap Centia. Ia tersenyum kecil, seolah sudah tahu apa yang harus dilakukan. Kami berjalan menuju lemari kayu di sudut kamar. Centia membuka pintunya, dan terlihat dua set seragam yang sama—hitam di luar, putih di depan, dengan celemek berenda. Melihat semuanya sudah tersusun rapi, aku kembali ingin bertanya… tapi lagi-lagi, aku tidak berani. Aku terdiam saat Centia mengambil satu set seragam dan menyerahkannya padaku. Tanganku bergetar ketika menerimanya. Kainnya lembut, tapi rasanya asing dan membuatku tambah gugup. Aku melihat pantulan diriku di cermin—kalung di leherku, seragam di tanganku, dan pintu tertutup tempat Jo berada. Suara air dari kamar mandi terdengar semakin jelas, seakan mengingatkanku bahwa waktuku tidak banyak. Aku terdiam saat Centia mengambil satu set seragam dan menyerahkannya padaku. Tanganku bergetar ketika menerimanya. Kainnya lembut, tapi rasanya asing dan membuatku tambah gugup. Melihat aku ragu, Centia mendekat dan bicara pelan. “Tenang. Aku bantu.” Aku mengangguk pelan, napasku masih berat. Tanganku gemetar memegang seragam itu, tetapi sentuhan Centia—lembut dan meyakinkan—membuat kegelisahanku sedikit berkurang. “Pertama kali memang yang paling berat,” bisiknya dengan senyum kecil. “Tapi nanti… kamu akan merasa nyaman.” Kedengarannya aneh, tapi juga menarik. Seperti sesuatu yang besar sedang dimulai, dan aku—masih setengah telanjang dengan handuk hampir jatuh—berada tepat di depan pintunya. Centia mendekat dan menyentuh kalung di leherku sebelum membantu menurunkan handuk. “Lihat cermin,” katanya pelan. “Kamu cantik. Sepertinya kamu sudah mulai terbiasa..” Aku mengikuti ucapannya dan melihat pantulan diriku. Bayangan itu terasa asing—kalung yang mengilap, seragam yang tampak pas di tubuhku. Centia membantuku mengenakan baju hitam itu perlahan. Tangannya cekatan, mengancingkan satu per satu, seolah memastikan aku harus terlihat sempurna. Demi Jo. Ketika aku sudah hampir selesai mengenakan seragam, Centia melangkah mundur sedikit dan mengambil set seragam satunya. Tanpa banyak bicara, ia mulai bersiap juga. Gerakannya teratur—seperti ritual yang sudah sering ia lakukan. Ia mengaitkan kancing, lalu mengikat celemeknya dengan simpul rapi. Aku memperhatikan lewat cermin. Melihat kami berdua berdiri berdampingan dengan pakaian yang sama membuat dadaku terasa aneh—hangat, tegang, dan penuh antusias. Centia menangkap tatapanku. “Kita sama sekarang,” katanya lembut. “Dan Jo akan suka melihat ini.” “Jangan khawatir,” bisiknya sambil merapikan celemek kecil di depanku. “Ini cuma peran baru yang sebenarnya sudah lama kamu mau.” Aku menatap matanya melalui cermin. Ada kehangatan di sana—dan sesuatu yang dalam, seperti ia mengerti betapa campur aduk perasaanku antara takut dan ingin. “Mulai sekarang,” katanya pelan, “jangan tanya dirimu siapa aku. Tapi tanyakan, Jo mau aku jadi seperti apa?” Belum sempat aku menjawab, pintu kamar mandi terbuka perlahan. Udara tiba-tiba terasa lebih dingin meski kamar tetap hangat. Jo keluar hanya dengan handuk putih melilit pinggangnya. Kulitnya masih basah, berkilau lembut di bawah cahaya lampu. Tetes air ada di rambut gelapnya yang sedikit berantakan setelah mandi. Jo berjalan maju tanpa suara, seperti predator yang sudah menemukan mangsanya. Ia tidak perlu banyak bicara—tatapannya saja sudah cukup. Beberapa langkah di depan kami, ia berhenti dan menatap tajam sebelum bicara. Suaranya dalam dan tenang, tapi setiap katanya tegas. “Aku senang lihat kalian udah siap, pelayan-pelayanku.” Aku hanya bisa menunduk, menahan rasa gugup bercampur bahagia. Itu pertama kalinya Jo memanggilku pelayan. Aku tahu sebutan itu bukan sekadar panggilan, tapi identitas baru. Sekarang, aku adalah milik Jo. Jo melangkah lebih dekat. Tangannya yang kasar turun perlahan, menyentuh daguku. Ia mengangkat wajahku hingga mata kami sejajar. Gerakannya tenang, tapi jelas menunjukkan kendali. Aku menatapnya dalam-dalam, merasakan hangat napasnya. Ia tidak melepaskan pandangannya, membuatku tak bisa bergerak atau berpaling. Jo menarik napas pelan sebelum berkata, “Kamu kelihatan jadi lebih cantik pakai seragam baru itu .” Wajahku langsung memanas mendengarnya. Aku tidak bisa menahan rasa malu yang tiba-tiba menyerang. Napasku tertahan, jantungku berdegup kencang saat ujung jarinya menyentuh leherku—pelan, seperti sedang merasakan detak nadiku yang tidak bisa kusembunyikan. “Kamu gemetar,” bisiknya dengan senyum tipis di sudut bibir. “Tapi kamu tetap di sini. Itu bagus.” Tanpa sadar, mataku berkaca-kaca. Bukan karena sedih, tapi karena semuanya terasa begitu nyata. Sentuhannya seperti bentuk pengakuan. Panggilan pelayanku menjadi tanda ikatan. Dan aku… aku tidak ingin lari lagi. Jo melepaskan handuk perlahan. Kain putih itu jatuh ke lantai tanpa suara. Ia duduk tenang, telanjang di antara kami, dengan tatapan tajam seolah sedang menguji kesiapan kami. Ia menarik napas pelan sebelum berbicara dengan suara rendah namun tegas: “Kalian berdua, berlutut.” Centia langsung menuruti perintah itu; ia berlutut di sisi depan Jo dengan gerakan halus dan teratur. Punggungnya tegak, kepalanya tertunduk, terlihat sangat terbiasa. Aku menatapnya, berusaha menenangkan detak jantungku yang terasa semakin cepat. Aku pun menurunkan tubuh perlahan, mengikuti posisi Centia. Lantai yang dingin menyentuh lututku, dan aku mencoba mengatur napas agar tetap tenang. Jo menatap kami lama tanpa berkata apa pun. Hening yang menggantung terasa berat—hanya terdengar detak jam dan napas pelan yang teratur. Akhirnya, Jo mengalihkan pandangannya ke Centia. “Ajari Rara,” ucapnya tenang. “Pastikan dia siap.” Centia menunduk patuh, menunggu sejenak memastikan Jo memperhatikannya, lalu mulai berbicara dengan suara lembut namun tegas. “Rara,” ucapnya pelan. “Dengerin baik-baik semua yang Jo bilang. Dia cuma mau kamu siap dan bisa ngikutin semua arahannya.” Aku mengangguk pelan tanpa mengangkat kepala. Lututku masih menempel di lantai, napasku terasa berat. Dalam hati aku tahu, ini bukan sekadar latihan—ini awal dari sesuatu yang lebih besar. Aku hanya perlu mendengar, memahami, dan menurutinya. Entah kenapa, muncul keinginan aneh: keinginan untuk diterima. Aku menelan ludah dan menunduk lebih dalam. “Siap, Tuan Jo,” bisikku lirih. Senyum tipis muncul di wajah Jo. Ia tidak berkata apa-apa, hanya memberi isyarat lewat tatapan—dan itu sudah cukup membuat kami mengerti. Tangannya terulur, menyentuh kepala Centia dengan gerakan singkat. Setelah itu, ia mengangguk pelan, memberi tanda berikutnya kepada Centia. “Sentuh kakinya,” bisik Centia sambil menoleh kepadaku. Dada terasa sesak karena jantung berdetak cepat. Tatapan Jo tetap tertuju padaku— tenang, tapi membuatku tidak bisa berpaling. Aku menarik napas pendek lalu maju perlahan sampai ujung jariku menyentuh kakinya. Jo tetap diam saat aku mulai mengusap kulitnya pelan, dari tumit sampai ke betis. Aku tahu ini bukan tentang kesenangan semata, tapi tentang pengabdian. Untuk pertama kalinya, aku melakukannya tanpa ragu. Tanganku masih gemetar saat terus mengusap betisnya. Rasanya begitu kuat—aku sadar ini bukan sekadar perintah, tapi tanda bahwa aku sudah sepenuhnya berada di bawah kendalinya. “Mulut dan lidahmu,” bisiknya pelan. “Pakai itu juga.” Aku menahan napas. Sebelum sempat berpikir, Centia berbisik di sampingku, “Lakuin aja… jangan mikir kamu pantas atau nggak. Kamu cuma perlu nurut.” Aku menunduk, lalu maju dengan lebih mantap. Lidahku perlahan menyentuh ujung telapak kaki Jo. Sentuhan pertama terasa aneh—asin dan hangat, sisa dari air mandi yang belum kering. Aku terus menjilat pelan, dari tumit naik ke punggung kaki, seolah mencium sesuatu yang hanya boleh kusentuh sendiri. Aku tetap melanjutkan, lidahku bergerak perlahan tanpa rasa malu. Tak ada lagi keraguan, hanya keinginan untuk melakukan yang terbaik. Setiap gerakan terasa seperti janji baru—aku siap menjalankan peranku dengan sepenuh hati. Napasku mulai berat, tapi pikiranku justru tenang. Ketika lidahku menyentuh punggung kakinya sekali lagi, Jo menarik kakinya dan mendesah pelan. “Bagus…” bisiknya. “Kamu cepat belajar.” Kata-kata itu membuat dadaku terasa sesak—bukan karena takut, tetapi karena bangga dianggap mampu, dan dipercaya. Sesaat, aku hanya bisa mengangguk pelan sambil mencoba menenangkan diri, membiarkan perasaan hangat itu mengalir. Perasaan itu membuatku semakin yakin pada langkah yang sedang kuambil. Jo bersandar di tepi ranjang, menatapku dengan pandangan tajam tapi tenang. “Sekarang, angkat wajahmu,” katanya pelan. Aku menuruti ucapannya. Pandangannya menembus mataku, seolah ingin memastikan aku benar-benar siap. Setelah beberapa detik hening, ia kembali berbicara, suaranya tegas tapi lembut: “Mulai sekarang, kamu bukan Rara yang dulu.” Ia berhenti sebentar agar kata-kata itu melekat. “Kamu pelayanku.” Entah kenapa, kalimat itu terasa seperti janji—sesuatu yang mengubah diriku. Rasa takut dan ragu yang sempat ada perlahan memudar. Untuk pertama kalinya, aku mulai menikmati peranku. Ada ketenangan saat aku tahu di mana posisiku, dan ada kebanggaan kecil karena aku merasa berguna. Dalam diam, aku sadar— mungkin ini awal dari diriku yang baru. “Ya, Tuan Jo…” Aku berbisik pelan, suaraku bergetar tapi tulus. Kalung di leherku bergetar ringan—ting… ting…—seolah ikut menggemakan tekad yang baru saja kuucapkan. Mataku masih berkaca-kaca, tapi kali ini bukan karena takut. Ini air mata penerimaan. Aku tidak sekadar menerima peran ini—aku mulai menemukan diriku di dalamnya. Jo tersenyum kecil mendengar jawabanku. Tatapannya tetap fokus, memperhatikan setiap gerak dan ucapanku. Ada kepuasan di matanya—seperti seseorang yang akhirnya menemukan apa yang ia cari. Ia kembali bicara dengan suara tegas tapi tenang. “Ini baru permulaan. Masih banyak hal yang bakal kamu lakuin nanti. Aku cuma berharap kamu terus mau belajar dan berubah… buat kesenanganku. Karena sekarang, kamu punyaku.” Aku mengangguk pelan, mencoba terlihat yakin meski masih gugup. “Ya, Tuan Jo,” gumamku pelan. “Aku siap buat apa pun yang kamu mau.” Jo menatapku dengan cukup tajam, seolah ingin memastikan aku benar-benar siap untuk langkah berikutnya. Tak lama kemudian, ia bicara lagi dengan nada yang tetap tegas tapi lebih tenang. “Aku mau kamu lakuin sesuatu buat aku, pelayanku.” Aku langsung menegang setelah mendengar ucapannya. Aku tahu masih banyak yang akan terjadi, tetapi aku tidak ingin mengecewakannya. Aku ingin membuktikan bahwa aku siap menghadapi apa pun. “Siap, Tuan,” bisikku pelan. “Bilang aja, aku harus ngelakuin apa.” Aku menatap Jo dengan rasa penasaran. Aku ingin tahu apa tugasku selanjutnya. Aku akan melakukannya sebaik mungkin, karena sekarang aku sudah jadi pelayannya—miliknya. Jo tersenyum tipis, menatapku tajam seolah bisa melihat sampai ke dalam diriku. Ia terdiam sebentar, menikmati ketegangan di antara kami, lalu perlahan mengulurkan tangan. “Sini mendekat,” katanya pelan. Aku maju merangkak. Tubuhku menunduk saat mendekati tangannya yang terbuka. Nafasku mulai cepat— bukan karena takut, tapi karena sadar ini bagian dari hubungan baru kami. Jari-jarinya menyentuh bibirku. “Buka,” katanya datar. Aku menurut, membuka mulut seperti yang ia minta. Ia lalu memasukkan dua jarinya ke dalam mulutku. “Hisap.” Aku menggigit ujung jarinya pelan. Hangat, asing, tapi terasa pas di momen itu. Lidahku bergerak lembut mengikuti perintahnya—bukan hanya patuh, tapi juga menandakan aku siap tunduk padanya. Jo mendesah pelan saat aku menjilat jemarinya dengan lebih berani. Lalu ia tiba-tiba menarik tangannya keluar. Aku mengerjap, mencoba menenangkan napas. Sedikit air liur masih terasa di bibirku, meninggalkan sisa rasa dari apa yang baru saja terjadi. Aku menatap Jo, menunggu perintah berikutnya. Ia memperhatikan ekspresiku dengan tatapan puas. Sebuah senyum tipis muncul di wajahnya. “Bagus, pelayanku.” Aku tersenyum kecil. Ada rasa bangga mendengar itu, tapi juga keinginan kuat untuk melakukan lebih banyak. Aku ingin menunjukkan bahwa aku benar-benar miliknya. Jo terlihat menikmati semangatku; ia tahu aku siap mengikuti apa pun yang ia minta. Ia menarik napas pelan sebelum berbicara lagi. “Buka mulutmu, lebih lebar, lalu julurkan lidahmu.” Aku menahan napas, lalu perlahan membuka mulut lebih lebar. Lidahku terjulur dan diam di bawah bibir. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi aku ingin menunjukkan pada Jo bahwa aku patuh—aku miliknya. Cahaya redup membuat bayangan di sekitar tampak lebih dalam dan nyata. Aku menatap tanpa berkedip, menunggu. Jantungku berdetak pelan—bukan karena takut, tapi karena perasaan hangat yang penuh harap. Jo memandangiku seolah sedang menilai hasil kerja yang memuaskan. “Bagus,” katanya pelan. “Sekarang tahan seperti itu. Jangan bergerak.” Aku tetap diam. Dalam keheningan itu, aku merasa benar-benar terlihat. Bukan lagi sebagai diriku yang dulu—ragu dan tidak pasti—tapi sebagai pelayannya. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa cukup. Aku menunggu, bibir tetap terbuka dan lidah terjulur. Tiba-tiba, Jo mendekat. Napasnya yang hangat menyentuh kulitku sebelum lidahnya menyatu dengan lidahku. Tidak lembut, namun juga tidak terlalu kasar. Ia menciumku tanpa ragu, seolah itu memang haknya. Jo menghisap lidahku dalam-dalam, seolah mencicipi kepatuhanku. Aku tidak melawan—aku menerima begitu saja, membiarkan dia mengambil kendali penuh. Setiap gerakannya terasa kuat dan penuh makna. Air liur kami bercampur; napasku mulai pendek seiring detak jantung yang makin cepat. Aku merasa dikuasai sepenuhnya, dan aku menyukainya. Ciuman itu berlangsung lama. Ia mengatur ritmenya sendiri, membuatku belajar bernapas lewat isyaratnya. Tangannya bergerak ke leherku, jemarinya menyentuh kalung di dadaku, sebelum akhirnya ia melepaskan ciuman itu perlahan. Tangannya lalu terangkat, mengelus rahangku dengan lembut. Ia tampak sangat puas, seolah benar-benar menikmati hasil dari semua pelatihannya. Jo menarik napas pelan, pandangannya tetap tertuju padaku. Ia berdiri lebih dulu, langkahnya tenang namun tegas. Dengan gerakan kecil dari tangannya, ia memberi isyarat agar aku ikut berdiri. Aku bangkit perlahan. Kakiku sempat gemetar, tetapi aku berusaha tetap tegak. Seragam pelayanku masih rapi, dan apron kecil di depanku tetap terpasang—tanda bahwa aku kini menjadi bagian dari dunianya. Setelah aku berdiri, Jo sedikit membuka jarak yang sebelumnya sangat dekat. Tanpa berkata apa-apa, ia menatapku dari kepala hingga kaki. Pandangannya tajam dan tenang, tetapi ada rasa memiliki di dalamnya. “Aku mau kamu lihat ini,” katanya pelan. “Lihat aku baik-baik… terus ingat.” Aku tidak berkedip. Pandanganku mengikuti setiap lekuk tubuhnya. Semuanya memancarkan kendali tegas. “Kamu punya siapa?” tanyanya lagi. “Punya Tuan Jo,” jawabku mantap. Senyum tipis muncul di wajahnya. “Dan kamu di sini untuk apa?” Untuk pertama kalinya, tanpa ragu, aku menjawab, “Untuk Tuan Jo… apa pun yang Tuan inginkan.” Jo tersenyum tipis, seolah menghargai jawabanku. Ia melangkah mendekat dan kembali menyentuh rahangku. Aku menahan napas, menunggu. Ia mengangkat kepalaku perlahan hingga mataku sejajar dengan matanya. “Kamu tahu konsekuensinya, kan?” bisiknya lembut. Aku mengangguk pelan, tanpa berani melawan. Aku siap menghadapi apa pun. Aku miliknya. Jo kembali tersenyum melihat kepatuhanku. Tangannya masih bergerak lembut di rahangku. Wajahnya tampak tenang, tapi jelas ia memegang kendali penuh—seolah sudah tahu apa yang akan terjadi. Ia bergeser sedikit, berdiri tepat di depanku. Tatapanku terkunci pada matanya, tak berani berpaling ketika ia kembali bicara. “Aku mau kamu tahu,” katanya pelan, “apa artinya jadi punyaku.” Aku diam, mendengarkan. Aku bisa menebak arah ucapannya, tapi tetap menunggu. Aku tahu risikonya, dan aku menerimanya dengan sepenuh hati. Aku sudah menjadi miliknya—tubuhku, pikiranku, dan perasaanku. Sekarang aku hanya menunggu ia melanjutkan. Aku menahan napas sejenak, jantungku berdegup kencang mendengar pertanyaannya. Tapi kali ini bukan karena takut, melainkan karena tekad yang makin kuat. Aku tahu arah pembicaraan ini, dan aku memilih untuk tidak mundur. Perlahan, aku mengangguk. “Ya, Tuan Jo,” bisikku mantap. “Aku siap… buat apa pun yang kamu mau lakuin ke aku.” Mataku tidak berkedip menatapnya, menyerahkan semua keputusan padanya. Kalung di leherku bergetar halus saat dadaku naik turun perlahan. Ting… ting… bunyinya terdengar lembut, seirama dengan detak jantungku: milikmu, milikmu, milikmu. “Bukan cuma badanku,” bisikku pelan, “tapi juga pikiranku… jiwaku. Semuanya punya Tuan.” Aku menunggu dengan penuh kepercayaan, penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku sudah berjanji, dan aku akan menepatinya—apa pun yang ia minta. Sekarang aku tahu, aku sepenuhnya miliknya; tubuhku tunduk pada kehendaknya. Perlahan, aku mengangkat kepala, menanti instruksi berikutnya. Jo tersenyum puas mendengar pengakuan itu keluar dari mulutku. Ia bisa melihat dengan jelas kepatuhanku, dan tahu aku sudah menyerahkan diri sepenuhnya. Perlahan, ia mendekat dan meraih kalung di leherku. “Bagus,” katanya pelan. “Kamu memang pelayanku yang sempurna.” Jari-jarinya menyentuh kalung itu, memainkan rantainya perlahan—seolah mengingat janji yang sudah kubuat tanpa harus diucapkan. Lalu ia melepaskan pegangannya dan berkata, “Sekarang… kamu bakal nunjukin seberapa setia kamu.” Jo menatapku, lalu mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah ranjang—sebuah isyarat yang kupahami. “Naik,” katanya tenang. “Tidur terlentang. Tangan di atas kepala.” Aku langsung menurut. Langkahku mantap menuju ranjang. Saat aku berbaring seperti yang diperintahkan, kain seragam pelayanku sedikit bergeser, tapi aku tak peduli. Yang penting hanyalah mematuhi perintahnya. Punggungku menyentuh seprai halus, napasku mulai melambat meski jantungku masih berdetak cepat. Jo berjalan mendekat dengan langkah tenang, seperti bayangan yang tak bisa dihindari. Matanya menatapku—memeriksa kesiapan, ketundukan, dan mungkin sedikit rasa ingin tahu di balik pandanganku. Ia duduk di tepi ranjang. Jemarinya menyentuh ujung apronku, lalu mulai membuka satu per satu kancing blus hitam-putihku dengan gerakan perlahan. “Diam,” bisiknya lembut sambil tersenyum tipis, melihat dadaku yang naik turun cepat. “Biarkan aku yang atur semuanya.” Jo menatapku tanpa berkata-kata. Aku bisa merasakan tatapannya, tapi tak berani membalas. Dengan satu gerakan tangan, ia memanggil Centia. “Kamu juga, Centia,” katanya datar. “Naik ke ranjang. Lakuin hal yang sama.” Centia menurut tanpa banyak bicara. Ia berjalan pelan ke ranjang di sebelahku, lalu berbaring. Gerakannya rapi dan terkontrol, seolah sudah terbiasa mengikuti perintah semacam ini. Seragamnya masih tertutup rapat, tapi ekspresinya menunjukkan kepasrahan. “Tahan napas,” ucap Jo pelan sambil membuka kancing bajuku satu per satu. Aku menurut. Dadaku terasa sesak karena menahan udara terlalu lama. Jo lalu berpindah ke sisi Centia dan melakukan hal yang sama—membuka kancing bajunya dengan tenang. Tak ada suara selain detik jam di dinding dan gesekan kain. Kami berdua diam, menunggu. Saat kedua apron dilemparkan ke lantai dan semua blus terlepas, Jo akhirnya berdiri di antara kami, memandangi dua sosok pelayannya yang pasrah di bawah cahaya redup. Ia terdiam, seperti sedang menikmati hasil kerjanya. Aku dan Centia memperhatikan dengan hati-hati, masih menahan napas. Tatapan Jo sulit dibaca, tapi jelas ia menikmati situasinya. Ia punya kendali penuh atas kami—dari pakaian yang kami pakai sampai cara kami bergerak. Ia benar-benar memegang kendali, dan kami hanya bisa pasrah. Ia tahu kami tidak akan melawan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN