Aku dan Jo masih berdiri telanjang di balkon apartemen. Angin hangat sore itu mengenai kulitku tanpa halangan apa pun. Sensasinya aneh—membuatku gugup tapi juga membuat jantungku berdetak lebih cepat. Rasanya seperti seluruh dunia bisa melihatku, meski aku tahu balkon kami ada di lantai yang cukup tinggi. Ada sedikit rasa takut, tapi justru itu yang membuat tubuhku bereaksi lebih kuat.
Jo memperhatikanku dengan tatapan gelap, seolah menelan setiap gerakan yang kulakukan. Tangannya turun perlahan, jempolnya menyentuh vaginaku. Sentuhannya ringan tapi jelas ingin menyampaikan sesuatu.
“Masukin?” katanya sambil mendekatkan wajahnya sampai napasnya bercampur dengan milikku.
“Kamu harus lebih spesifik.”
Plakk!
Jo menepuk pantatku dengan tangannya—lumayan keras, cukup membuatku tersentak dan menggigit bibir. Tubuhku langsung menegang. Dia menggeser tangannya sedikit, cukup membuatku kehilangan fokus sejenak.
“Ahh! J-Jo—please masukin penismu...”
Suaraku pecah, lebih karena ketegangan yang menumpuk daripada apa pun yang benar-benar dilakukan.
“Good girl,” desisnya sambil mendorong tubuhku pelan ke pagar kaca.
Dengan satu gerakan mantap, ia menancapkan p***s kerasnya dari depan—tanpa peringatan, tanpa ampun. Aku berteriak kecil dan meremas pagar kaca erat-erat saat dorongan pertamanya menyentuh ujung rahim.
“A-Ah… J-Jo…”
Dia tidak berhenti di sana.
Plakk! Plakk! Plakk!
Setiap dorongan brutal membuat tubuhku tersentak ke belakang lalu ditarik kembali oleh dekapan tangannya. Napas Jo berat di telingaku saat ia berbisik,
“Kamu lihat? p*****r nakal bisa minta baik-baik juga.”
Aku hanya bisa mengerang pelan—suara yang kutahan dengan menutup mulut sendiri. Aku berusaha tetap diam, meski emosi dalam tubuhku terus naik turun tak teratur. Dalam hati, aku berharap aku bisa melepaskan lebih banyak dari yang bisa kutahan. Jo mendekatkan wajahnya ke telingaku, napasnya berat dan panas.
“Lihat dirimu sendiri,” bisiknya serak.
Ia menarik tubuhku lebih dekat ke kaca, membuat bayangan tubuhku terlihat jelas—dadaku naik turun cepat, kulitku memerah karena campuran malu dan sensasi yang bercampur. Tangannya yang bebas menyentuh sisi tubuhku dengan tekanan yang membuatku tersentak, kemudian mendorongku semakin dekat ke kaca.
Angin sore menyapu kulitku yang panas oleh peluh dan ketegangan. Mataku sendiri terlihat berbeda dalam pantulan kaca: lebih lebar, pupil membesar, tak yakin apakah aku takut terlihat… atau justru ingin terlihat.
Tepat saat aku merasa semuanya akan meledak, Jo berhenti.
“J-Jo—”
Suaraku pecah dalam helaan frustrasi, tapi tangannya menutup mulutku perlahan.
“Shhh…”
Ia menunduk, menggigit lembut bahuku, meninggalkan tanda yang langsung membuatku kehilangan kata. Tubuhnya menempel erat di belakangku—hanya mendekat namun cukup untuk membuatku menggigil. Jari-jarinya kemudian bergerak lagi—cukup dekat untuk membuatku menahan napas. Kali ini gerakannya lebih perlahan, seolah ia sedang mencoba sesuatu… atau menguji bagaimana aku bereaksi. Dan aku bereaksi.
“Kalo mau keluar, say that like a good girl.”
Suaranya terdengar rendah—lebih rendah daripada biasanya, hampir seperti geraman. Kata-katanya langsung membuat tubuhku menegang. Keinginanku naik terlalu cepat, sampai aku hampir tidak bisa bernapas.
“Say you like it.”
Aku menelan ludah. Di kepalaku cuma ada satu pikiran: menyerah.
“I want it Jo, I like it!!”
Aku mencoba menangkap pantulan mataku di cermin sebelum memutar wajah untuk melihat Jo.
“Please, I want you to finish it, Jo.”
Ia mengangkat daguku dari belakang, membimbing pandanganku ke cermin supaya aku benar-benar melihat diriku sendiri. Ia tampak puas—bahkan bangga—dengan jawabanku.
“Then beg, just like you mean it, princess.”
“Please, Jo,” bisikku lirih.
Suaraku terdengar rapuh, tapi cukup jelas.
“Please, please, please!”
“Good girl,” ucapnya—lebih lembut, tapi tetap mengandung sesuatu yang membuatku gemetar.
“But tell me, princess,” katanya sambil menurunkan suaranya.
“You like it, don't you? Being seen like this.”
Jo mendengus pelan—seperti binatang yang baru saja menemukan mangsa terlalu mudah.
“Kamu suka ditonton, kan?” geramnya di telingaku.
Tangan kirinya menggenggam pahaku, kuat, menahan gerakanku. Dan aku hanya bisa mengangguk pelan.
“Suara manismu langsung berubah kalau kamu ngerasa ada yang bisa lihat, ya?”
Sentuhan dan kata-katanya membuatku menempel lebih erat ke kaca yang dingin. Bukan karena didorong secara kasar—tapi karena tubuhku sendiri menolak menjauh. Pantulan wajahku terlihat jelas: pipi merah, bibirku terbuka, mataku hampir berair karena campuran malu dan sensasi yang tak bisa kujelaskan.
Tangan Jo naik ke payudaraku, menggenggam dengan tekanan yang membuat napasku tertahan. Bukan sekadar meremas, tapi menguasai, seolah ingin memastikan aku tahu persis siapa yang memegang kendali.
“J-Jo…!”
Suaraku pecah ketika ibu jarinya menyentuh p****g payudaraku—tempat yang selalu membuatku kehilangan kontrol jika ia menyentuhnya. Ia tertawa pendek, suara dingin tapi genit yang kurasakan membuatku luluh.
“Udah deket banget ya? Mau keluar depan semua orang gini?”
Napasku pendek, tubuhku tegang, dan sensasinya seperti gelombang yang siap menelan seluruh pikiranku.
"J-Jo… please, I'm close, I'm so close—"
Aku mencoba memberi jeda dalam tiap kalimatku, tapi suaraku terdengar putus-putus saat tubuhku gemetar. Jo menahan tubuhku erat di samping kaca, tidak memberi sedikit pun ruang untuk mundur. Kedekatannya membuat napasku semakin pendek, seakan seluruh kontrol yang tersisa dalam tubuhku perlahan ditarik dariku oleh caranya memegang dan membimbingku tanpa berkata banyak.
Aku hanya bisa menggeliat di tempat. Tubuhku terasa seperti kawat yang ditarik terlalu kencang—siap putus kapan saja. Tanganku mencengkeram pagar kaca. Di pantulan kaca, wajahku terlihat asing bagiku sendiri: mata terbelalak dengan campuran takut dan keinginan, bibirku bergetar tanpa kendali.
Jo menarik napas panjang dari belakang leherku sebelum menggigit markah lembut di sana—bukan untuk menyakitiku tapi sebagai tanda kepemilikannya.
“Say it,” desisnya.
“Say you want to come in front of the whole city.”
Aku merasakan gerakannya—cukup dekat untuk membuatku menggigil. Ia mengatur tubuhku, menuntunku lebih dekat ke tepi balkon, membuat jarak antara kami hampir tidak ada lagi.
Tubuhku bergetar hebat ketika tekanan dan ritme halus itu semakin mengacaukan fokusku. Sensasinya seperti gelombang yang hampir mencapai puncaknya, tapi masih ditahan tepat di ujung.
“A-Ah… J-Jo…” Suaraku pecah, air mata mulai mengumpul di sudut mata, tetapi belum jatuh.
Seakan ingin memastikan betapa terdesaknya aku, ia justru menarik tubuhku lebih dekat ke ujung balkon. Suaranya terdengar rendah—seperti sengaja mengabaikan betapa rapuhnya tubuhku ketika dalam dekapannya. Ia tetap tegap, tenang, seolah tahu betapa mudahnya aku jatuh ketika dia memegangku seperti ini.
“Say. It.”
Aku tidak kuasa menahan tangis lagi ketika air mata mulai turun. Cengkeramanku di pagar kaca mengeras, mencoba mencari pegangan, tapi jauh di dalam hati aku tahu tidak ada jalan keluar. Jo sudah tahu jawabannya. Aku mencoba menahan suara yang keluar, namun tetap saja terdengar bergetar ketika aku bergumam lirih,
“P-Please… I want to… I want to come… in front of the city…”
Jo mengerang rendah, puas mendengar kata-kata yang ia tunggu. Tangannya yang menahan pinggangku tiba-tiba menekan lebih dalam—menarik tubuhku ke belakang dengan kasar sementara tangan lainnya meremas payudaraku sampai aku menjerit.
“Ahhh… Jo!!”
“Mau teriak sekeras itu, biar mereka dengar kamu?” bisiknya, suaranya parau namun terkontrol.
Air mataku mengalir deras saat ia kembali mengarahkan tubuhku, gerakannya cepat dan tanpa memberi waktu bagiku untuk menenangkan napas. Setiap dorongan brutal membuat tubuhku tersentak keras di depan kaca—cukup untuk membuat lututku terasa lemas dan napasku jadi berantakan. Pantulan wajahku tampak jelas: mulut ternganga, mata berair, terlalu kacau untuk bisa menyembunyikan apa pun.
“Say it again.”
Ia menekan wajahnya ke bahuku, menggigit pelan sambil memperdalam penetrasinya, mendorong penisnya secara kasar hingga aku hampir tidak bisa bernapas. Tekanan dari tubuhnya membuatku sulit bernapas jernih.
“Tell the whole city who owns this pretty little—”
Kata terakhirnya sempat menghilang, suaranya merendah tepat sebelum ia mengucapkannya, diganti dengan desahan berat yang lebih terkendali namun sama menusuknya:
“—who owns this pretty little slut.”
Tangannya langsung mencengkeram daguku, memaksaku menatap pantulan kami di kaca.
“Lihat,” geramnya.
“Lihat bagaimana kamu jadi milikku.”
Ia menurunkan suara di telingaku, nada rendah yang nyaris menelan seluruh kesadaranku.
“Rasain ini!”
Dengan satu dorongan—dia menancapkan diri sampai ujung penisnya menyentuh titik terdalam rahimku. Yang kurasakan hanyalah dorongan kuat yang membuat napasku terhenti sejenak, tubuhku melengkung, dan rasanya seolah seluruh pusat gravitasi direnggut dari dalam diriku.
“Ohh!! God... Jo..!!!”
Tangannya yang bebas meremas payudaraku keras-keras sambil dia mulai bergerak lagi—cepat, tanpa ampun. Ritmenya semakin brutal, semakin memaksaku mengikuti alurnya tanpa bisa melawan. Airmataku mengalir semakin deras ketika tubuhku dipaksa mendekati titik yang membuatku sulit bernapas.
“Come on then..”
Ia menekan daguku lebih dekat ke kaca.
“Show them how pretty you look, ketika kamu mendesah seperti p*****r kecil.”
Cengkeramannya di dadaku tiba-tiba berhenti, digantikan dengan tekanan jempolnya di vaginaku, tepat di titik yang membuat seluruh tubuhku menegang dan napasku terpotong. Gerakannya perlahan, namun terukur—tepat seperti yang bisa membuatku kehilangan kendali lebih cepat.
“Jo.. Please… Faster!!” pintaku perlahan.
Seolah menuruti keinginanku, ia kembali mempercepat ritme gerakannya—dorongan tubuhnya yang kuat dan berulang membuatku tersentak, terasa sampai ke otot-otot yang gemetar di kedua kakiku. Setiap kali ia menarikku kembali ke arahnya, tubuhku memantul kecil, seperti tidak bisa mempertahankan keseimbangan.
Pantulan kami di kaca terlihat jelas: dirinya berdiri tegap, sepenuhnya mengendalikan keadaan, sementara aku bergetar tanpa bisa mengendalikan apa pun. Air mata dan liur menetes di daguku ketika mulutku terbuka, suara tertahan oleh ketegangan yang menekan dari seluruh arah.
“Look at you,” desis Jo, sambil menekan wajahnya ke bahuku dan menggigit pelan kulit di sana,
“My perfect little slut.”
Dan tepat di detik berikutnya, seluruh dunia di sekelilingku seperti pecah. Sensasi itu datang tiba-tiba—panas, menyapu habis, membuat lututku hampir runtuh sementara napasku tersengal. Dadaku mengembang, suara tercekat keluar tanpa bisa kucegah, dan tubuhku bergetar dalam gelombang yang tidak bisa aku tahan lagi.
“Ahhhh!!! Jo... I'm coming!!!!”
Aku jatuh sepenuhnya ke dalamnya—dalam pelepasan yang begitu kuat sampai aku merasa tubuhku benar-benar kosong dan ringan, seolah seluruh diriku pecah lalu menyatu kembali dalam satu tarikan napas.
Dan setelah semuanya mereda, yang tersisa di dadaku hanyalah kekosongan aneh, seperti ada ruang besar yang baru saja dikuras sampai hanya menyisakan lapisan tipis di dalamnya. Tubuhku langsung melemas, jatuh bersandar ke d**a Jo tanpa bisa menahan diri. Aku terlalu lemah untuk berdiri, apalagi mengatur napasku.
Jo segera menangkap tubuhku, menyangga seluruh beratku dengan kedua lengannya. Pegangannya tetap kuat, stabil, seolah apa pun yang baru saja terjadi tidak sedikit pun mengurangi ketenangannya. Ia masih tidak mengucapkan sepatah kata pun, tapi dari caranya memegangku—dari cara bahunya naik turun perlahan—aku tahu ia memperhatikanku dengan saksama, menunggu aku pulih dan kembali ke diriku lagi.
Setelah beberapa detik yang terasa sunyi, ia menurunkan kedua tangannya ke pundakku. Gerakannya pelan, tetapi tegas—tidak memaksa, hanya mengarahkan.
“Rara,” katanya akhirnya, suaranya rendah namun sangat jelas,
“Berlutut di depanku.”
Aku tidak melawan. Kaki lemahku meluncur turun, tenggorokanku tersengal dan bibirku bergetar, sampai akhirnya aku berlutut di hadapannya. Jo segera bergerak mendekat. Tangannya terangkat ke daguku, memaksaku menengadah sehingga tatapan kami bertemu. Aku masih tidak sanggup berbicara—seluruh tubuhku hanya mengikuti genggamannya yang tegas dan tak memberi ruang untuk mundur.
Tangannya lalu meraih rambutku, menarik kepalaku sedikit ke belakang; bukan menyakitkan, tetapi cukup kuat untuk mengikat fokusku hanya padanya. Matanya gelap, penuh intensitas yang sulit kutolak.
“Buka mulutmu,” katanya rendah dan berat.
Ia menekan bibir bawahku dengan jari telunjuk. Gerakannya pelan, terukur, namun terlihat penuh gairah. Dengan gerakan kasar tapi terkendali, Jo mendorong pangkal penisnya ke mulutku tanpa ampun—tidak memberi waktu untuk reflek menggigit atau tersedak.
Situasi itu membuatku kewalahan; tubuhku terlalu rapuh untuk menahan beban emosi dan ketegangannya.
“Dasar p*****r kecil... ini bukanlah akhir,” bisiknya, sambil mulai gerakan masuk keluar perlahan.
Ia meneruskan gerakannya dengan ritme yang membuat tenggorokanku terasa penuh. Tangannya masih mencengkeram rambutku dengan kuat dan terarah, mengarahkan dorongan mendalam ke ujung tenggorokan. Aku berusaha tidak tersedak, tapi suaraku keluar seperti desahan putus-putus saat napas ditahan.
“Lihat,” bisiknya serak sambil menarik kepalaku sedikit lebih ke belakang.
Dengan terpaksa aku membuka mata. Pantulan kami di kaca balkon tampak jelas—wajahku merah, basah oleh air mata yang terus mengalir, bibirku bergetar dalam upaya menahan isak yang tak kunjung berhenti.
Jo menggeram pelan, puas melihat kondisiku.
“Kamu cantik banget waktu begini…”
Pegangannya semakin erat—tegas, cepat, tidak memberi kesempatan untuk mundur. Seluruh tubuhku otomatis menyesuaikan gerakannya. Mulutku terbuka, bibirku gemetar dan basah. Napasku belum stabil, tapi aku berusaha mempertahankannya sambil menatap Jo dengan keinginan yang sulit dijelaskan.
Jo mengamati reaksiku dengan senyum puas. Tangannya lalu turun ke bawah, menggenggam sisi wajahku, ibu jarinya mengusap ringan daguku seolah memastikan aku tetap fokus padanya.
“Tahan ya, Ra,” bisiknya, suaranya serak dan berat.
Saat jari-jarinya meninggalkan kulitku, gerakannya berubah lebih cepat. Ia memegang rahangku dengan kedua tangan—ia langsung mendorong penisnya masuk lebih dalam dari yang kuduga.
“A-Ahh—!” suara itu keluar begitu saja dari mulutku ketika kepalaku terdorong sedikit ke belakang.
Jo tertawa rendah, napas hangatnya menyentuh pipiku.
“Shhh… jangan melawan,” gumamnya sambil menekan daguku lebih keras, memaksaku membuka mulut lebih lebar meski tidak ada yang masuk ke sana.
“Fokus sama aku.”
Tekanannya makin kuat ketika aku mulai batuk kecil karena napas yang tertahan. Ia menahan kepalaku tetap di sana—tidak menyakitkan, namun menegaskan bahwa ia sepenuhnya mengendalikan situasi. Setiap kali ia mendorong kepalaku lebih dalam ke arah dirinya, tubuhku gemetar tak terkendali—tapi Jo tetap tidak peduli. Ia terus mengatur gerakanku dengan ritme yang semakin kasar.
“F-f**k…” desisnya sambil menatap wajahku yang basah dan bergetar.
Tangannya berpindah dari daguku ke belakang kepalaku, mencengkeram rambutku dengan kasar sehingga aku harus menunduk lebih dalam, menyesuaikan diri dengan arahannya. Ia mendorong sempurna sampai ujung penisnya menyentuh tenggorokan—satu gerakan brutal yang bikin napasku tercekat sepenuhnya. Refleks alami tubuhku membuat badan melengkung kecil sementara lututku lemas dan hampir jatuh ke lantai balkon.
Aku terkejut saat Jo tiba-tiba menarik diri dan mengocokkan penisnya di depan wajahku. Napasku belum stabil ketika dia mulai memompa keras—genggamannya kuat, gerakannya cepat.
“Lihat aku,” bisiknya dengan suara serak, hampir seperti ancaman manis.
Ia menggerakkan tangannya lebih rendah, jarinya menyentuh bibirku yang masih bergetar, seolah memastikan aku masih mengikuti arahannya. Saat pertama kali cairan putih itu keluar dari ujung penisnya dan mendarat di pipiku, aku terkejut—rasanya hangat... sangat hangat...
Jo menarik wajahku sedikit ke atas, ibu jarinya menahan daguku agar tetap terbuka. Dengan gerakan perlahan namun pasti, ia menumpahkan seluruh sisa spermanya yang sebelumnya tidak kusadari masih menyembur kuat dari penisnya—dan mengusapkannya ke wajahku.
Ia mengatur arahnya secara sengaja, menyapukannya ke kening, pipi, hingga ujung hidungku. Lalu, dengan tekanan lembut tapi tegas, ia menyeka sisa cairan itu ke bibirku, seakan menandai setiap inci wajahku.
“Buka,” perintahnya singkat.
Aku menurut. Dan ia memasukkan sisa cairan itu ke dalam mulutku dengan jarinya—perlahan, memastikan aku menerima semuanya, memastikan aku tahu bahwa ini bukan tentang apa yang ia lakukan… melainkan tentang bagaimana aku tunduk pada perintahnya. Setelah meratakan cairan itu di seluruh wajahku dengan telapak tangannya, Jo menepuk pipiku perlahan—bukan keras, tapi cukup untuk membuatku fokus padanya.
“Diam di situ,” katanya pelan namun tak terbantahkan.
“Jangan bergerak. Mengerti?”
Aku mengangguk kecil. Nafasku masih belum stabil, tapi aku tetap berlutut seperti yang ia minta. Jo hanya memandangku beberapa detik. Lalu ia berbalik dan berjalan masuk ke dalam kamar, meninggalkanku sendirian di balkon, lututku masih menempel pada lantai dingin. Angin sore menyentuh wajahku, membuat cairan yang menempel di kulitku terasa lebih dingin dari sebelumnya.
Aku mendengar suara laci dibuka, benda-benda bergeser… kemudian langkah kaki Jo kembali mendekat.
Saat ia kembali muncul, aku melihat ponselku ada di tangannya. Ia tidak meminta izin—bahkan tidak perlu. Dengan tenang, ia membuka layar ponselku, jari-jarinya bergerak seolah dia sudah tahu sandinya sejak lama. Tatapannya turun padaku lagi—masih dalam posisi berlutut, wajahku masih basah, tubuhku masih gemetar.
“Jangan ubah posisi,” ujarnya pendek.
Dan tanpa ragu, ia mengangkat ponsel itu dan—klik.
Layar ponsel berkedip sebentar. Ia mengambil foto itu. Diriku. Dalam kondisi rapuh seperti ini. Tanpa aku bisa melakukan apa pun untuk menghentikannya. Ketika ia selesai, ia tersenyum, menatap wajahku dari dekat.
“Good girl,” bisiknya lembut, nyaris terdengar seperti pujian yang hanya ditujukan untukku seorang.
“Kamu cantik banget dengan masker barumu.”
Aku menelan ludah perlahan, merasakan sisa cairan yang menempel di wajahku—hangat, tapi juga lengket, membuat kulitku terasa berbeda dengan setiap hembusan angin sore. Refleksku ingin mengusapnya, ingin membersihkannya, tetapi Jo menahan gerak tanganku sebelum sempat terangkat.
“Biarkan saja,” katanya pelan tanpa harus meninggikan suara.
“Tunggu sampai kering.”
Dan aku pun terdiam, membiarkannya mengering di kulitku—karena itu yang ia inginkan, dan aku menuruti.
Angin sore mulai terasa dingin di kulitku ketika Jo akhirnya menurunkan ponsel. Tatapannya tidak lagi setajam sebelumnya—ada sesuatu yang lebih lembut, hampir seperti… khawatir.
“Rara,” katanya pelan.
Nada suaranya berubah. Bukan lagi nada yang menuntut. Lebih seperti seseorang yang baru sadar bahwa aku mungkin sudah terlalu lama di balkon, terlalu lama menahan napas dalam ketegangan yang dia ciptakan.
Jo menggenggam tanganku pelan sebelum menarikku bangkit dari posisi berlutut.
“Udara di luar semakin dingin. Masuk dulu,” katanya sambil tersenyum kecil—senyum yang lebih lembut daripada sebelumnya, tapi tetap menyimpan godaan halus di ujungnya.
Aku menurut, melangkah masuk ke kamar. Suasana di dalam lebih hangat, lampunya temaram, membuat semuanya terasa… lebih tenang. Jo menutup pintu balkon tanpa terburu-buru, lalu berdiri di belakangku sejenak, seolah mengecek apakah aku baik-baik saja.
“Kita pulang sekarang. Sudah makin sore.”
Aku menoleh sedikit, memastikan aku mendengarnya benar.
“Pulang?” tanyaku pelan.
“Iya,” ia mencondongkan tubuh sedikit, nada bicaranya lembut tapi tidak memberi ruang untuk menolak.
“Kamu duduk dulu. Tunggu di situ.”
Aku langsung duduk di tepi tempat tidur. Jo tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya berjalan ke lemari, mengambil pakaiannya sendiri, lalu mulai mengenakannya dengan gerakan tenang.
Setelah itu, ia mulai membereskan semua perlengkapan yang kami gunakan sejak pagi—barang-barang yang tadi berserakan di ranjang ia rapikan dan masukkan kembali ke tas tanpa suara. Termasuk pakaian dalamku yang tadi ia ambil; semuanya disingkirkan satu per satu, seolah ia ingin memastikan tidak ada yang tertinggal. Yang tersisa di kasur hanyalah kaos putihku dan rok yang kupakai semalam.
Aku duduk diam, menunggunya. Jantungku mulai berdetak lebih pelan seiring kamar yang semakin rapi, suasananya terasa… menenangkan dengan cara yang sulit dijelaskan, meski bagian kecil dalam diriku masih tegang menunggu apa yang akan ia katakan selanjutnya.
Jo kemudian berjalan ke arah tempat tidur dan mengambil kaos putih yang kupakai semalam—kaos ketat berlengan panjang yang bahannya cukup tipis. Begitu melihatnya, dahiku sempat mengerut. Aku sudah bisa menebak arah pikirannya sebelum ia berbicara.
“Ra,” katanya sambil menatap kaos itu, lalu berjalan ke arahku, “pakai ini ya.”
Alisku terangkat sedikit.
“Tapi dalemannya?”
Aku memandang kaos itu. Bahannya tipis, nyaman… tapi aku langsung merasa ada sedikit ketegangan di d**a.
“Nggak usah.”
Aku spontan menundukkan kepala.
“Jo… itu ketat banget. Kalau aku pakai ini… tanpa apa pun di dalam… nanti kelihatan putingku. Aku malu.”
Jo tertawa pelan—bukan mengejek, tapi seperti seseorang yang sudah tahu persis reaksi itu yang akan muncul. Ia mendekat, menunduk sedikit agar bisa menatapku dari dekat.
“Tenang,” katanya sambil menunjuk rambutku, “rambutmu ini panjang banget. Nutupin semuanya. Nggak ada yang bakal lihat apa-apa, kecuali aku yang berdiri persis di depan kamu.”
Ia mengangkat satu helai rambutku, membiarkannya jatuh lagi.
“Malah bakal jadi lebih cantik. Natural. Seksi.”
Aku menggigit bibir, setengah percaya setengah ragu.
“Tapi nanti kalau aku jalan dan…”
Aku tak melanjutkan.
Jo terkekeh kecil—bukan menertawakan, tapi seperti seseorang yang dengan lembut memahami kegugupanku. Aku pun mengambil napas, memegang kaos putih itu. Jari-jariku sedikit gemetar—bukan karena takut, tapi karena malu yang terasa anehnya menyenangkan.
Jo menyandarkan bahu ke dinding, menyilangkan tangan, memandangku dengan tatapan yang jelas-jelas menikmati situasi ini dalam cara yang… menyenangkan.
“Kalau kamu mau, Ra,” katanya pelan tapi penuh keyakinan, “aku janji kamu bakal tetap merasa aman. Rambutmu kan nutupin semuanya. Dan kalau ada yang iseng lihat… aku ada di sebelah kamu.”
Aku menggigit bibir, menatapnya.
“Kamu yakin?”
“Yakin banget,” jawabnya sambil tersenyum miring.
Aku mengangguk pelan.
“Ya sudah… aku pakai.”
Jo mengangkat alis, senyum itu makin lebar. Ia memberikan kaos itu padaku, kali ini tanpa senyum nakalnya—hanya senyum lembut yang membuatku sedikit lebih tenang.
“Good girl,” katanya ringan.
Dan aku berdiri di sana, memegang kaos putih yang terasa jauh lebih menantang dari seharusnya… sambil merasakan kenyamanan aneh hanya karena dia yang memintanya dengan cara seperti itu.
Aku menatap kaos putih ketat itu di tangan sebelum memakainya. Bahannya lembut, dingin saat pertama menyentuh kulitku, lalu perlahan menghangat mengikuti suhu tubuhku. Tanpa bra, putingku tercetak jelas, membuat siluet tubuhku terasa… berbeda. Lebih jujur. Lebih berani dari biasanya.
Aku menarik napas sebelum mengambil rok hitam mini yang kupakai semalam. Rok itu jatuh tepat di atas lutut, memperlihatkan cukup banyak kulit sampai membuatku sadar betapa cerahnya kakiku di bawah cahaya. Saat aku berdiri penuh di depan cermin, aku sempat terdiam.
“Astaga…” bisikku pada diri sendiri.
Kaos putih ketat itu membingkai tubuhku dengan cara yang sederhana tapi mencolok. Rok miniku membuat kakiku terlihat lebih panjang—atau mungkin aku hanya merasa begitu karena aku jarang memandang diriku.
Rambut panjangku tergerai, menutupi bagian depan tubuhku dengan alami, memberi rasa aman yang cukup.
Aku terlihat… seksi. Seperti versi diriku yang selama ini takut muncul ke permukaan.
Aku menelan ludah.
“Ini aku?”
Waktu Jo melihatku, kepalanya langsung sedikit miring—tanda bahwa ia terkejut tapi jelas menyukainya.
“Wow.”
Hanya itu yang keluar dulu. Nada suaranya sepenuh itu. Aku memonyongkan bibir malu-malu.
“Jangan liatin gitu…”
“Terlambat.”
Ia tertawa kecil, langkahnya mendekat.
“Kamu kelihatan luar biasa, Ra.”
Pujian yang diucapkannya ringan, tapi seperti magnet yang menarik seluruh perhatianku kepadanya. Ia tidak menyentuhku—hanya berdiri cukup dekat untuk membuatku tahu bahwa ia mengamati.
“Gimana?” tanyanya sambil senyum miring.
“Masih nyaman? Atau mau ganti?”
Aku menggeleng cepat.
“Enggak. Aku… suka, ternyata.”
“Bagus.”
Jo mencondongkan kepalanya sedikit, matanya melembut.
“Soalnya aku juga suka. Banget.”
Aku tersipu.
“Jo…”
“Ayo,” katanya sambil melangkah ke sampingku, nada suaranya kembali ringan.
“Kita pulang. Hari sudah mulai gelap.”
Perkataan itu membuatku merasakan sesuatu di d**a—bukan gugup, bukan takut… lebih seperti antisipasi. Aku tahu ini bukan akhir dari yang terjadi antara kami. Bahkan bukan setengahnya. Aku tahu, ini adalah awal.
Pintu kamar terbuka dengan suara kecil klik, dan udara dari lorong menyambut kami—lebih sejuk, lebih sunyi, seperti ruang yang sengaja menahan napas menunggu langkah pertama kami keluar.
Aku berjalan setengah langkah di belakang Jo, rok mini hitamku bergerak pelan mengikuti setiap langkahku. Kaos putih ketat yang kupakai terasa membungkus tubuhku dengan cara yang membuat seluruh kulitku lebih sadar dari biasanya. Rambut panjangku jatuh menutupi bagian depan, memberi rasa aman.
Jo berhenti di ambang pintu, tapi tidak langsung melangkah keluar. Ia menoleh, menatapku dengan mata yang… sulit diterjemahkan. Ada kekaguman, ada kekhawatiran, ada sesuatu yang lebih rumit.
“Rara,” katanya pelan, hampir seperti rahasia yang ia bisikkan hanya untukku.
Aku mengangkat wajah. Jo mendekat setengah langkah. Tidak menyentuhku. Tapi jarak kami cukup dekat sehingga aku bisa merasakan hangat tubuhnya, seperti garis halus yang menarikku mendekat tanpa memaksa.
“Aku nggak pernah lihat kamu seperti ini…” katanya akhirnya.
Suaranya lebih rendah dari biasanya, nyaris bergetar. Aku menunduk cepat, jantungku memukul tulang rusuk.
“Kelewatan ya? Terlalu… berani?”
“Aku nggak bilang gitu.”
Jo melangkah mendekat, satu langkah perlahan, tapi mantap.
“Kamu kelihatan…” Ia berhenti, menarik napas pendek. “…luar biasa dan kuat.”
Kata itu mengguncangku—aku memang tidak melihat sosok yang lemah, malu, atau rapuh. Aku melihat seseorang yang sedang berubah, perlahan tapi pasti, melintasi garis yang sebelumnya bahkan tidak kusadari ada.
Jo mengangkat tangannya sedikit, seakan ingin menyentuh pipiku, tapi ia menghentikannya di tengah udara. Tangannya tetap menggantung di sana, dekat, namun tidak menyentuh apa pun—cukup untuk membuatku sadar betapa kuatnya efek kehadirannya tanpa perlu sentuhan.
Senyum kecil muncul di wajahnya. Lebih seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu yang besar.
Pintu kamar terbuka dengan suara kecil klik, dan udara dari lorong menyambut kami—lebih sejuk, lebih sunyi, seperti ruang yang sengaja menahan napas menunggu langkah pertama kami keluar.
“Rara,” katanya pelan, “sebentar.”
Aku menoleh.
“Kenapa?”
Jo tidak menjawab dengan kata-kata dulu. Sebaliknya, ia meraih tanganku—perlahan, tapi mantap—dan menggenggamnya dengan cara yang membuatku merinding halus. Pegangannya tidak kencang, tapi jelas. Seolah ia memberi tanda bahwa ia memimpin… namun tetap memintaku untuk ikut, bukan memaksa.
“Aku mau kita jalan bareng,” ucapnya akhirnya.
“Bukan kamu di depan, bukan kamu di belakang. Tapi, di sampingku.”
Tanganku masih di dalam genggamannya. Panas. Stabil. Dan anehnya… sangat menenangkan.
“Kenapa?” tanyaku, suaraku nyaris hilang.
Jo melirikku sekilas. Ada senyum kecil di sudut bibirnya—bukan nakal, bukan menggoda… lebih seperti senyum seseorang yang baru saja membuat keputusan penting.
“Supaya kamu tahu,” katanya pelan, “kalau aku ada di sini. Sama kamu. Setiap langkah.”
Ia memberi isyarat halus dengan sedikit menarikku—hanya setengah langkah, cukup untuk memberi tahu arah tanpa memaksa. Aku melangkah. Dan Jo berjalan di sebelahku, bahunya hampir menyentuh bahuku, genggaman tangannya stabil dan hangat, seolah ia menjaga ritme langkahku agar sejajar dengan langkahnya.
Lorong itu terasa berbeda ketika Jo berada di sisi seperti itu. Ada sesuatu pada cara ia menengok ke arahku sesekali—seperti memastikan aku baik-baik saja, tapi juga seperti menyimpan sesuatu yang ia belum siap ucapkan. Di ujung lorong, sebelum kami berbelok, Jo mempererat genggaman tanganku sedikit.
“Mulai dari sini,” katanya tanpa menoleh, “kamu nggak sendirian.”
Suara itu pelan, tapi cukup jelas untuk membuatku terus menatapnya. Ada sesuatu di dalamnya—bukan tekanan, bukan perintah—lebih seperti seseorang yang ingin memastikan aku tidak sendirian.
Aku menarik napas dan berjalan mengikutinya. Langkahnya biasa saja, tapi terasa cukup kuat untuk membuatku ingin percaya. Dan itu membuatku makin yakin, karena sudah lama aku tidak merasa seaman itu.
Tanpa dia perlu menambah kata apa pun, aku mengerti: Ini bukan cuma perjalanan pulang. Ini momen ketika aku harus mulai melihat diriku dengan jujur. Momen yang membuat dadaku terasa berat, tapi juga entah bagaimana jauh lebih lega. Seperti akhirnya aku berhenti lari dan memilih untuk menetap.
Ini awal dari babak yang baru—pintu menuju versi baru diriku. Versi yang tidak kusangka akan aku temui. Versi yang Jo lihat duluan—sebelum aku berani melihatnya.
----------Bersambung ke Rara Series 3—Intimate Partner----------