Azzam mengusap peluh di keningnya. Dia menghela napas panjang lalu berdiri. Sekarang dia sedang berada di salah satu toko perkakas. Dia sibuk mengatu barang-barang yang baru saja datang. Dia melihar arloji di tangannya, satu-satunya barang berharga yang Nadhifa belikan untuknya. Azzam merasa bebannya lebih ringan setelah menatap arloji itu, membayangkan kebahagiaan istri dan anaknya di rumah sudah sangat melegakan untuknya. Semua terjadi sejak tiga bulan berada di Amerika. Teman kamar yang merupakan juniornya dulus elama di kampus saat kuliah. Azzam tidak pernah menduganya, dia percaya saja jika rumah yang dibiayai oleh pemerintah dipindahkan, mereka tinggal di rumah yang jauh dari layak dna tempatnya juga tidak bagus. Dia berusaha bertahan demi keluarganya. Tetapi, tepat tiga bulan kem

