Keramaian

1029 Kata

Agnetha telah pergi sejak pukul tujuh pagi. Kini, Pricilla sedang menikmati embun pagi yang perlahan mengering karena sinar matahari. "Pris, kita harus memikirkan nasib kedepannya. Bagaimanapun, kehidupan kita tetap berjalan," kata ibu yang masih berdiri di ambang pintu bersandar pada kusen. Pricilla yang masih setia duduk di kursinya pun menghela napas. Mencari sebuah ketenangan yang sudah sering kali dicarinya, namun tidak pula memberi kenyamanan permanen. "Pris, kamu dengar nggak?" tanya ibu penuh dengan penekanan. Pricilla mengangguk dan memberi sebuah senyuman. Sesuatu yang sederhana, namun membuat hubungan semakin lengket. "Dengar, Ma. Nanti kita pikirkan lagi. Sekarang, aku mau siap-siap buat pergi," kata Pricilla dengan begitu lembut. Tidak disangka, ibu justru marah be

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN