“Cukup! Maaf, a-aku tidak bisa terlalu jauh.” Tuan Muda menarik diri dan duduk di pinggiran kasur. Kedua telapak tangannya ditangkupkan ke wajah. Bilven bangkit dan beringsut mendekatinya.
“Kenapa?” tanyanya, jari-jarinya terulur menyentuh bahu bidang milik Tuan Muda.
Tuan Muda menurunkan tangannya dan menelengkan wajahnya. “Istirahatlah. Besok kamu bakalan sibuk lagi.” Dia bangkit dan berdiri di hadapan Bilven yang duduk bersimpuh menengadah memandangnya.
“Percayakah kamu jika kukatakan satu hal?” tanya Tuan Muda sambil menunduk dan menyentuh dagu Bilven.
“Ap-apa?”
“Aku mencintaimu,” jawabnya seraya mengecup bibir Bilven lembut. “Selamat tidur, Sayang. Bermimpi indah dan ingatlah.”
Bilven termangu mendengar pernyataan cinta Tuan Muda. Dia masih termangu meski Tuan Muda telah meninggalkannya cukup lama.
***
Gavin melepas topeng yang melekat erat di wajahnya karena keringat. Rasanya dia ingin mengakhiri permainan ini. Pencariannya usai sudah. Sambil menyadarkan punggungnya di kursi, dia tersenyum bahagia. Sebuah ketukan di pintu terdengar lembut, tak perlu menjawab untuk mengetahui siapa yang datang. Kiro, orang kepercayaannya masuk ke ruang pribadinya dengan sebuah nampan di tangan.
“Tuan keluar lebih cepat lagi. Apa kali ini juga bukan? Apa perlu saya hilangkan gadis ini seperti gadis-gadis yang lain?” tanyanya sambil meletakkan nampan di atas meja. Harum camomile membuat perasaan Gavin menjadi nyaman.
Dia mengingat cumbuannya tadi pada Bilven. Gadis itu masih belia sekali, tapi terlihat sangat dewasa. Ketika gadis lain berteriak ketakutan saat Gavin mendekati mereka, Bilven sebaliknya. Dia terlihat tenang, malah membalas cumbuan Gavin. Apa Bilven seorang player? Rasanya tidak mungkin. Kiro sudah memberikan detail gadis itu sebelum menyodorkan Bilven padanya. Dan dia percaya pada Kiro. Pemuda yang pernah dia selamatkan nyawanya dan bersumpah akan setia seumur hidup itu tidak akan pernah membohongi dan mengkhianatinya.
“Kita sudah kehabisan gadis di desa. Rasanya ini yang terakhir. Jika pun ada usianya sangat muda sekali dan itu tidak akan sesuai dengan gambaran Tuan. Selain itu warga desa juga sudah mulai resah. Anak gadis mereka tak kembali setelah datang ke rumah ini.”
Gavin membuka matanya yang tadi setengah menutup, dia memandang Kiro dan menyunggingkan senyum bulan sabitnya.
“Kamu tak perlu khawatir. Dia gadis yang tepat, kita bisa melanjutkan rencana.”
“Apa artinya permainan ini berakhir? Topeng itu. Anda tidak harus mengenakannya sepanjang hari.”
Mendengar pernyataan itu, Gavin tertawa cukup keras. Untung saja ruang kerjanya berperedam sehingga dia tidak perlu takut akan terdengar sampai keluar.
“Tidak. Tentu saja tidak. Aku mulai menyukai permainan ini meski kuakui, yah ..., sedikit tidak nyaman menggunakan topeng ini ke sana kemari.”
“Orang-orang berpikir Anda kena kusta.”
Kembali Gavin tergelak. “Hahaha. Seperti Raja Baldwin 4, maksudmu? Memangnya aku hidup di masa perang salib, di mana kusta nggak ada obatnya?” ujarnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Aku belum mau mengakhiri permainan ini. Masih ada yang harus aku pastikan.”
“Kalau begitu Anda harus bergegas. Karena Nyonya besar akan kembali,” kata Kiro sambil memandang langsung ke mata Gavin. Membuat Gavin menyipitkan matanya.
Jika ibu tirinya itu kembali ke rumah ini, dia pasti akan membuat kekacauan. Gavin mengeluarkan geraman rendah. Entah bagaimana lagi dia harus mengatasi istri kedua ayahnya itu, karena menurut surat wasiat ayahnya, Gavin harus tetap menjamin hidup ibu tirinya sampai akhir hayat. Itu tidak mudah, karena ibu tirinya yang rakus selalu berusaha mengatur hidupnya dan berusaha menguasai Gavin.
“Kapan dia akan kembali?” tanya Gavin kesal.
“Entahlah. Dalam minggu-minggu ini mungkin. Bisa jadi besok dia sudah tiba di sini. Anda tahu sendiri kalau dia selalu penuh kejutan. Dia mendengar kalau Anda menemukan gadis yang lain.”
“Sialan! Aku yakin ada mata-matanya di rumah ini.” Pemuda jangkung dan tegap itu berdiri dan mulai berjalan ke rak buku di sisi selatan ruangan. Berbagai buku terpajang di sana. Gavin suka sekali menghabiskan waktu luangnya dengan membaca macam-macam buku. Manajemen, psikologi, olahraga, juga buku-buku fiksi sains fiction. Dia mengambil satu buku, The Martian, dan mulai membolak-balik lembarannya.
“Kalau begitu kamu harus memastikan dia aman, Kiro. Aku hanya percaya padamu.” Gavin menutup bukunya dengan keras dan menatap tajam pada asisten pribadinya. Kiro membalas arahan Gavin dengan menundukkan kepala dan berjalan keluar ruangan.
Sepeninggal Kiro, Gavin memandang jam lonceng yang terpajang di atas pintu. Jarum pendeknya menunjukkan pukul satu. Belum terlalu larut apabila dia memutuskan untuk menyusup lagi ke kamar Bilven. Baru sebentar saja dia meninggalkan gadis itu hatinya sudah diliputi perasaan rindu. Gavin memejamkan mata, suara detik jam semakin jelas terdengar. Sambil berdiri dengan tangan kanan masih memegang buku, Gavin mengingat kembali apa yang di lihatnya tadi ketika mencumbu Bilven.
Ketika tangannya menyibakkan leher Bilven dan bibirnya sibuk menciumi gadis remaja itu, dia melihat tanda itu. Tanda lahir berbentuk hati tepat di tengkuk Bilven. Karena tanda itulah Gavin menyudahi percumbuannya. Hatinya diliputi perasaan lega dan juga bahagia. Apa yang dicarinya selama ini sudah dia temukan. Gadis itu, Bilven Aurellia adalah betul-betul pengantinnya.
***
Di keremangan malam, Bilven masih belum juga bisa memejamkan mata. Jam berdentang satu kali. Dia belum mengantuk. Dia masih membayangkan Tuan Mudanya. Apa yang dikatakannya tadi? Cinta? Tuan Muda mencintainya?
Belum pernah ada seorang pemuda yang menyatakan cinta padanya. Kata Papa, Bilven cantik seperti Mama. Begitu juga kata beberapa orang kenalan dan pekerja Papa. Melihat Bilven seolah melihat Mama hidup kembali. Namun karena Bilven sedikit urakan, membuat dirinya dijauhi lelaki seumurannya.
Bilven mengusap bibirnya yang tadi dicium Tuan Muda. Masih terbayang rasanya, harumnya juga sensasinya. Duh, kenapa bisa begini, sih? Kenapa Bilven yang kuat dan terkenal galak bisa tak berkutik di hadapan Tuan Muda yang tidak ketahuan mukanya?
Bagaimana jika ternyata Tuan Muda itu punya wajah jelek seperti Squidward makanya dia menyembunyikan wajahnya? Namun dia teringat pertanyaan yang diajukan ke pelayan yang tempo hari menolongnya. “Apa Tuan Muda jelek?”
Pelayan itu bilang dia belum pernah bertemu dengan Tuan Muda dalam keadaan tanpa topeng, tapi pelayan yang sudah puluhan tahun mengabdi di rumah ini bilang kalau sewaktu kecil, Tuan Muda adalah anak kecil paling tampan yang pernah ditemuinya. Setelah kematian ayahnya, Tuan Muda sekolah ke luar negeri dan ketika pulang ke rumah dia sudah mengenakan topeng. Mungkin di luar negeri sana sesuatu telah terjadi. Yang jelas, Tuan Muda tidak dilahirkan dengan kondisi wajah yang buruk atau cacat.
Bilven membalikkan tubuh, matanya menatap keremangan di sisi kirinya. Tirai-tirai yang berat, nakas yang memanjang, dan lampu meja yang dibiarkan menyala redup. Dia bukan gadis tujuh belas seperti kebanyakan gadis. Didikan Papa membuatnya dewasa sebelum waktunya. Dan Bilven bukan gadis tanpa rencana. Saat ini dia mungkin sudah terpikat kepada Tuan Muda tak peduli seperti apa wajahnya. Namun dia juga harus tahu, apa yang sedang terjadi di rumah ini.