11

1801 Kata
 Aku tidak memintamu untuk ini dan itu sebagai syarat aku mencintaimu. Asal hatimu tertulis atas namaku, sudah cukup. _Ali *** Ali keluar kamar. Ali berjalan ke ruang keluarga lalu merebahkan tubuhnya di sofa. Ia menggapai remote dan menyalakan televisi. Namun ia tidak menontonnya. Ia malah melamun. Pikirannya tidak sedang kosong, melainkan ia sedang berpikir tentang masalah dirinya yang akhir-akhir ini terasa ada yang aneh. Mulai dari merasakan sakit kepala yang luar biasa, ia juga mimisan, dan kadang-kadang pandangannya jadi buram. Dulu Ali juga pernah mengalami hal sama seperti itu. Tapi sudah lama sekali. Waktu ia masih kecil. Sekitar sepuluh tahunan, kalau enggak salah. Apa mungkin ia bakal seperti dulu lagi? Tidak, semoga jangan. Ali gak mau hal buruk terjadi lagi seperti di masa kecilnya. Gak mungkin ia bakal seperti dulu lagi. Ia 'kan sudah dinyatakan sembuh. Masa iya, penyakitnya kambuh lagi. Tidak mungkinlah. Ali meyakinkan dirinya. Ia harus berfikir positif. Gak boleh mikir yang aneh-aneh. Ali merogoh saku celananya mengambil HP. Ia pun main game untuk menghilangkan pikiran negatifnya. Lebih baik ia senang-senang dari pada sibuk memikirkan masalah yang belum jelas adanya. Lima menit kemudian. Aisyah datang menghampiri Ali. Aisyah mendudukkan dirinya di sofa yang sama dengan Ali, tapi ia berjarak jauh. Ia duduk di ujung sofa sebelah kanan. Sedangkan Ali di sebelah kiri. Aisyah melihat Ali sibuk bermain ponsel. Ia gak suka melihat Ali asyik dengan HP terus. "Selesai mandi sibuk main HP terus," sindir Aisyah. Ia kesal Ali sibuk sendiri dan mengabaikannya. Ia datang, tapi Ali tidak menyapanya. Boro-boro menyapa, senyum juga enggak. Bahkan gak melihat kehadirannya. Ali tidak merespon ucapan Aisyah. Cowok itu masih asyik sendiri dengan HP. Aisyah otomatis makin kesal dengan Ali yang cuek dengannya. Setiap orang juga bakal kesal jika ada di posisi Aisyah. Siapa juga yang tahan jika dicuekin. "Ali," tegur Aisyah. Ali tetap tidak menanggapi. Ali tetap fokus ke layar HP-nya. Sibuk main game membuatnya jadi enggak dengar ada yang menegurnya. "Ali!" teriak Aisyah. Ali menoleh memandang istrinya yang duduk di ujung sofa sebelah sana. "Apa?" balas Ali tak sadar akan kesalahannya. Sumpah, ia benar-benar enggak tahu. "Kamu lagi ngapain sih, sibuk banget, sampai-sampai cuekin aku?" "Lagi main HP, aku gak tau kalau kamu ada di sini." "Alesan." "Enggak kok." "Kamu sayang aku atau HP kamu itu?" tanya Aisyah dengan raut wajah yang masam. "Sayang kamu lah," jawab Ali sambil meletakkan HP-nya di atas meja. "Terus, ngapain dari tadi kamu mengabaikan aku?" "Aku gak mengabaikan kamu. Cuma, aku gak sadar aja sama kehadiran kamu. Habisnya, kamu duduk di situ. Sini duduk dekat aku," pinta Ali. Aisyah pun menggeser posisi duduknya mendekati Ali. Sampai di samping Ali, ia langsung dirangkul sama Ali dan mendapatkan ciuman di pipi. "Sayang ..., banget sama kamu. Jangan marah ya," ucap Ali gemas sambil mencubit pelan pipi Aisyah. Kalau udah diginiin sama Ali, mana bisa Aisyah marah. Ia malah jadi tersipu. Aisyah menggigit bibir bawahnya. Ia senang banget Ali ngomong sayang kepadanya. Jika saat ini orang bilang hatinya sedang berbunga-bunga. Maka yang dikatakan orang itu adalah sebuah kebenaran. "Kamu sayang gak sama aku?" tanya Ali. Aisyah mengangguk. "Aku sayang kamu." Ali tertawa kecil. "Dalam satu hari kamu sayang aku berapa kali?" "Setiap saat." "Beda sama aku." "Emangnya kamu sayang aku berapa kali dalam sehari?" "Aku mana bisa sayang kamu hanya dalam sehari. Bisanya seumur hidup." Ali tersenyum dan senyumnya dibalas. Ia yakin pasti Aisyah senang dengan perkataannya barusan. Perempuan mana sih yang gak suka diberi kalimat romantis. Pasti semua wanita di dunia ini akan suka dan malah ketagihan. Aisyah memeriksa jidat Ali. "Kamu udah gak panas." "Artinya aku udah sembuh," balas Ali. "Kamu gak mau periksa ke dokter kenapa kamu mimisan?" "Kamu 'kan calon dokter. Jadi buat aku aku pergi ke dokter." "Aku 'kan calon dokter kandungan. Bukan dokter umum." "Ya gapapa. Sama aja 'kan, sama-sama dokter." "Beda Ali." "Apa bedanya?" "Dokter kandungan memeriksa ibu hamil. Kalau dokter umum periksa orang sakit." "Kamu hamil atau belum?" tanya Ali membuat Aisyah jadi bungkam. Seketika wajah Aisyah jadi muram gara-gara pertanyaan Ali barusan. Tak pernah-pernah Ali bertanya begitu. Membuat Aisyah jadi terpukul. Ia selama ini memang belum pernah hamil. Meski sudah menikah selama tiga tahun, ia gak pernah merasakan mengandung. Aisyah jadi sedih. "Kok kamu diam aja?" tanya Ali heran. Apalagi mata Aisyah berkaca-kaca dan jadi menekuk wajahnya. Ali langsung memeluk Aisyah. Ia tahu, istrinya saat ini sedang sedih. "Kamu kenapa?" tanya Ali dalam dekapannya. "Maaf, aku belum bisa mengandung anak kamu. Hiks ...." Tetesan air mata Aisyah pun tumpah. Ia tidak kuat menahan kesedihannya. Sebagai seorang wanita pastilah ia sangat sedih karena belum bisa merasakan menjadi wanita seutuhnya, jika belum merasakan mengandung seorang bayi. Ali mengusap kepala Aisyah untuk menenangkan. Ia melepaskan pelukannya, lalu memegang pundak Aisyah. "Kenapa kamu sedih?" tanya Ali sambil mengusap air mata Aisyah dengan jemarinya. Aisyah tak menjawab, ia hanya terus menangis di hadapan Ali. Membuat Ali jadi merasa bersalah karena pasti penyebab Aisyah menangis adalah pertanyaannya yang menyinggung perasaan Aisyah. Ali memeluk Aisyah lagi. "Jangan sedih ya. Aku gak suka melihat kamu menangis. Aku gapapa kok kalau kita gak punya anak. Kita berdua aja udah cukup. Aku terima kamu apa adanya. Kamu jangan sedih lagi ya. Aku sayang kamu." Ali mengecup kening Aisyah dengan hangat dan memeluk Aisyah lagi sambil mengusap kepala Aisyah. "Cinta aku tanpa syarat apapun. Dan tidak akan pernah berkurang sedikitpun," tambah Ali. Aisyah diam, ia hanya semakin mempererat memeluk tubuh Ali. *** Jam dinding menunjukkan pukul 9 malam. Rumah besar yang hanya dihuni sepasang suami-istri ini terlihat sunyi. Ali dan Aisyah kini sudah masuk ke dalam kamar. Mereka berdua sedang duduk di atas tempat tidur. Dan sedang berbincang. "Ali, aku mau tanya sama kamu," ujar Aisyah sambil menggenggam tangan Ali. "Apa?" "Kamu cemburu ya sama Andra? Aku perhatikan kamu sengaja manas-manasin Andra?" tanya Aisyah. Ia pengen banget tahu jawaban Ali. Siapa tahu Ali benar-benar cemburu. Buktinya Ali tampak kesal saat bertemu Andra. Ali menggeleng. Tanda ia tidak merasa cemburu sedikit pun dengan cowok yang bernama Andra. Ia hanya kesal dengan Andra dan bukan cemburu. "Kamu gak cemburu? Tapi kenapa seolah-olah kamu gak suka sama dia?" tanya Aisyah. Heran dengan sikap Ali. Apa memang Ali adalah manusia yang tidak kenal dengan kata cemburu? Entahlah, Aisyah juga enggak tahu. "Emang aku gak suka sama dia. Dia 'kan laki-laki. Masa aku suka dia. Gak normal dong kalau gitu," jawab Ali seadanya saja. Ia menjawab secara logika aja sih. "Maksud aku, kenapa kamu gak respect sama dia?" "Ohh, ya karena, dia suka sama kamu. Aku gak suka," jawab Ali dengan menatap Aisyah. "Artinya kamu cemburu." "Aku gak cemburu. Aku cuma gak suka." "Udah deh ngaku aja." "Gak ada yang perlu diakuin. Yang harus kamu tau itu adalah, aku cinta kamu. Selamanya." "Makasih udah cinta aku." "Sama-sama." Ali menggapai wajah Aisyah. Perlahan Ali mengusap pipi Aisyah dengan lembut. Lalu Ali lebih mendekatkan wajahnya pada Aisyah. Ia kemudian menatap Aisyah dengan amat dalam. "Aku sayang kamu," bisik Ali dengan mesra di telinga Aisyah. Aisyah hanya tinggal pasrah dan merasakan jantungnya yang berdetak semakin cepat saat ini. Aisyah tahu apa yang Ali inginkan darinya. Yaitu, dirinya. Dan sudah sepantasnya ia menerima keinginan Ali. Wajah Ali hampir menyentuh wajah Aisyah. Hembusan nafas Ali yang beraroma mint dan menyegarkan dapat Aisyah rasakan. Aroma tubuh Ali yang maskulin dan menenangkan juga dapat tercium dengan jelas. Aisyah pun dengan perlahan menutup matanya saat bibir Ali ingin menyentuh bagian wajahnya. Drip ... drip ... drip ... Baru aja Ali mau melaksanakan kewajibannya sebagai seorang suami. Berbunyi pula hendphonenya, benar-benar saat yang tidak tepat. Entah siapa yang meneleponnya itu. Namun yang pasti orang itu sangat menyebalkan. Ali tidak memperdulikan HP-nya, ia tetap ingin melanjutkan aksinya. Aisyah membuka matanya. "Ali, HP kamu bunyi," ujarnya. Aisyah kira Ali tidak mendengar suara HP berbunyi. Ali menghembuskan nafasnya jengah. Ia menunda dulu niatnya. Ali mengambil HP-nya. Ia berangsur turun dari tempat tidur. Lalu menempelkan HP yang ia pegang ke telinganya. "Hallo," ucap Ali. "Hai Li," sahut seorang wanita dari seberang sana. Wanita yang sedang mondar-mandir di kamar, sambil mengobrak-abrik lemari untuk mencari baju yang ingin dia pakai di party kampus malam ini. Ali melihat nama kontak yang meneleponnya. Dan bertulis: Keisya. Pantas suara yang berbicara sangat tak asing. Rupanya orang yang meneleponnya si wanita yang suka membuat ia naik pitam. Dasar curut, batin Ali. "Ngapain lo nelpon gue malam-malam? Ganggu tau gak," kesal Ali. Gimana ia gak kesal. Wanita yang meneleponnya sekarang ini sudah merusak suasana romantisnya. "Gak usah marah-marah dong. Biasa aja kali. Gak usah ngegas juga. Emangnya lo lagi ngapain sih, sampai-sampai marah gue telpon?" "Perlu gue jelasin?" "Gak perlu deh. Gue udah tau, pasti lo lagi ingin berkembang biak. Iya 'kan? Ha ha ha." "Sok tau lo!" "Ha ha ha." Ali berjalan ke luar kamar. Ia gak mau istrinya nanti dengar percakapannya dengan Keisya. Nanti Aisyah jadi salah paham. Keisya adalah cewek yang kalau ngomong gak disaring dulu. Ngobrol dengan Keisya Ali gak pakai aku-kamu, tapi lo-gue. Karena bagi Ali Keisya itu beda dari perempuan normal pada umumnya. Maklum, cewek itu cara bicaranya ceplas-ceplos. Ali kebetulan sekampus dengan Keisya. Dan sekelas pula. Nasibnya miris ketemu sama Keisya. Kenapa hidup dunia ini sempit? Sampai ia harus ketemu lagi dengan cewek bernama Keisya. Cewek tomboy yang dulu pernah jadi teman sebangkunya saat waktu SMP selama tiga tahun. Dan sekarang ketemu lagi. Sungguh menyebalkan. Meski sekarang Keisya tumbuh menjadi wanita seutuhnya dan gak tomboy lagi. Tapi tetap saja sikap cewek itu tidak berubah. "Alasan lo nelpon gue apa?" tanya Ali yang kini berada di depan pintu kamar. "Mau ngasih tau. Malam ini kampus kita ngadain party. Gue mau lo dateng dan jemput gue di rumah." "Ogah. Gue gak mau!" "Pokoknya lo harus mau. Kita itu raja dan ratunya kampus. Masa! Lo gak mau dateng. Pokoknya lo harus dateng! Jam 10, party dimulai. Lo jemput gue. Kalau lo gak pergi, gue sumpahin skripsi lo gagal! Titik." Tut ... Keisha menutup teleponnya. "Di sumpahin lagi, dasar curut!" celetuk Ali kesal. Ali masuk kembali ke dalam kamar dan mendudukkan dirinya sambil menyimpan HP-nya ke atas meja samping tempat tidur. "Siapa Li?" tanya Aisyah. Melihat ekspresi Ali yang kesal membuat Aisyah jadi penasaran dengan orang yang menelepon suaminya itu. "Si curut," jawab Ali. "Si curut? Siapa itu?" "Gak usah dibahas, gak penting." "Kok gak penting?" "Emang dia gak penting." "Dia itu siapa?" "Teman kampus." "Cewek atau cowok." "Kedua-duanya." "Hah! Dia waria?" "Pokoknya dia gak jelas." "Gitu yah." "Iya." Ali mengubah posisinya jadi menghadap Aisyah. Ia pun mulai menatap Aisyah. Terus menatap sampai Aisyah merasa gak nyaman karena Ali terus-menerus menatapnya. "Kamu ngapain sih Li?" tanya Aisyah. "Natap kamu." "Biar apa?" "Gak biar apa-apa. Cuma mau aja." "Aku tidur dulu." Aisyah merebahkan tubuhnya dan menarik selimut. "Ngantuk yah?" tanya Ali sambil merebahkan tubuhnya. "Iya," jawab Aisyah. Ali memiringkan posisinya menghadap Aisyah. Aisyah ikut memiringkan badannya juga menghadap Ali. Mereka saling pandang satu sama lain. Jarak mereka amat dekat dan hampir dempetan. Ali bisa merasakan hembusan nafas Aisyah dan begitu juga dengan Aisyah yang merasakan hembusan nafas Ali. Mata hitam terang Ali tak lepas dari wajah Aisyah. Ali menggapai pipi Aisyah dan mengusapnya dengan lembut. Melihat Aisyah dari jarak dekat membuat Ali semakin jatuh hati. Bibir Aisyah yang pink jambu, hidung kecil yang mancung, bulu mata yang lentik alami, dan alis tebal yang tampak seperti alis wanita arab. Sungguh, Aisyah sangat cantik. Ia semakin jatuh cinta pada istrinya itu. Ali melingkarkan tangannya di tubuh Aisyah. Ia terus mempererat pelukannya. Ia juga lebih mendempetkan tubuhnya ke Aisyah. Sampai-sampai hidung mereka bertemu. Ali memejamkan matanya saat ia ingin menyentuh bagian sensitif di wajah Aisyah. Perlahan Aisyah ikut memejamkan matanya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN