"Iya, cuma aku nggak tahu kalau dia belikan kamu gaun dan kasih perhiasan itu. Tapi percayalah itu bukan perhiasan baru, itu perhiasan Mama." Mendengar itu Jesyca menunduk, menatap lekat pada kotak perhiasan yang masih dia pegang. "Oh, bukan perhiasan baru?" "Perhiasan Mama Syca," ucap Arron. Jesyca pun berdecak, ternyata sama saja ibu dan anak, hadiah perhiasan, tapi bekas. Bukan baru, begitu pikir Jesyca. "Sayang, kenapa diam?" tanya Arron. "Nggak, baru mikir aja, ternyata kamu sama Mama kamu, mirip, sama-sama pelit, masa kasih hadiah bekasan," gerutu Jesyca. "Hei Sayang, meskipun itu bukan perhiasan baru, tapi itu justru lebih berharga, Mama mungkin memberikan kamu perhiasan kesayangannya, atau turun temurun, itu sebagai tanda Mama merestui kita," ujar Arron. Jesyca semakin ter

