Angkasa keluar dari kamar dengan tergesa-gesa, berharap kali ini yang menaiki tangga adalah Langit, dan sepertinya harapannya terkabul. Sudah sejak jam satu siang dia menunggu kepulangan Langit dari sekolah dan penantiannya berakhir di jam tiga.
Sosok pria tinggi dengan seragam wajib salah satu SMA bergengsi di Jakarta terlihat berhasil menyelesaikan pijakan terakhirnya, di antara rasa lelah yang dia bawa, ada sedikit rasa bingung karena mendapati Angkasa tengah berdiri di depan pintu kamar dengan gaya sok cool. Satu tangan dimasukkan pada saku celana jins pendek, sementara satu lagi sibuk memainkan LCD iPhone. Meskipun Angkasa bertingkah seperti itu, tetap saja Langit bisa menebak kalau kakaknya itu sedang menunggu dia.
"Waduh, ada sejarah baru nih dalam peradaban manusia zaman now. Seorang Angkasa sedang day off, tapi anteng di rumah." Langit membetulkan letak tas ransel di punggung lalu bertepuk tangan dengan gaya malas-malasan. "Kalau lo minta stock cewek yang bisa diajak jalan, jawabannya gue nggak punya. Gue aja udah lama nggak mojok sama cewek, lebih banyak mojok sama rumus."
Langit berjalan menuju kamarnya tanpa menghiraukan Angkasa. Tentu saja Angkasa tidak tinggal diam, pria itu menghampiri Langit, mencoba berjalan beriringan dengan si adik.
"Ada yang mau gue tanyain sama lo, urusan cewek sih." Langit melirik ke Angkasa, semakin menunjukkan dirinya benar-benar tidak berminat membahas urusan wanita dengan Angkasa. "Aman! Gue nggak minat dicariin cewek seumuran lo, gue cuman mau..."
"Mas Langit! Mbak Bellva udah datang! Bibi suruh Mbak Bellva tunggu dulu di ruang tamu ya." Teriakan Bibi terdengar dari lantai satu rumah itu.
Angkasa dan Langit beradu pandang untuk beberapa detik, kemudiang Angkasa menepuk bahu Langit dengan sangat hati-hati.
"Mandi yang lama ya, dek. Kalau perlu sejam, digosok setiap selipan yang ada di badan lo, pokoknya ilangin daki. Terus cuci tuh muka berkali-kali, naik motor terus, muka lo kelihatan sedikit kusam." Langit menaikkan satu alisnya saat mendengar kata dek dari Angkasa.
Langir mengerling, sekaligus menyingkirkan tangan Angkasa dari pundaknya.
"Mas, jangan macem-macem sama Mbak Bellva. Dia itu bukan cewek yang hobby ngangkang buat cowok sejenis lo, dia itu memiliki harga diri yang tinggi. Dan sepenglihatan gue, dia lebih cinta sama buku daripada sama mahkluk bernapas kayak lo." Langit memasang wajah serius penuh peringatan, dia sangat hafal watak sang Kakak saat berurusan dengan wanita.
Angkasa tertawa, sambil menepuk-nepuk bahu Langit lagi.
"Apaan sih lo? Udah anak kecil pikirannya belajar aja, jangan sok-sokan nasehatin gue." Angkasa membawa tangannya ke kepala Langit lalu tanpa dosa menciptakan kekacauan pada rambut Langit.
Langit berteriak saking kesalnya dengan Angkasa. Dia paling benci bagian rambutnya disentuh oleh orang lain, apalagi diacak-acak. Dan Angkasa selalu melakukan hal itu secara berulang setiap kali ada kesempatan.
Angkasa mengabaikan teriakkan Langit, berlari menuruni tangga, lalu berusaha sebisa mungkin berjalan santai menuju ruang tamu. Sepanjang jalan ke ruang tamu, Angkasa berulang kali menarik napas dan mengembuskannya secara perlahan. Dia mendapatkan serangan panik, terutama saat dia baru saja masuk ke ruang tamu dan langsung mendapatkan tatapan menusuk dari Bellva.
Wanita itu langsung menggeser duduknya, seperti ingin menciptakan jarak yang sangat jauh antara dia dan Angkasa. Tidak ada senyum ramah, apa lagi tatapan menggoda seperti yang ditunjukkan Artemis sepanjang malam tadi. Bellva melihat Angkasa bagaikan pria itu virus mematikan yang wajib untuk dijauhi.
"Nggak usah masang wajah tegang seperti itu, saya tidak ingin berbuat tindak kejahatan sama kamu," kata Angkasa dengan nada sedikit tersinggung. Angkasa duduk di salah satu sofa single di ruang tamu, menuruti keinginan Bellva untuk menciptakan jarak di antara mereka. "Saya sudah duduk sangat jauh dari kamu, jadi tolong bersikap santai. Saya ini bukan pemerkosa, penjahat, atau apapun itu."
Bellva berusaha melakukan permintaan Angkasa, dia berusaha bersikap santai, tapi alih-alih bersikap santai. Bellva justru semakin tengang, dia menundukkan wajahnya semakin dalam, jari-jarinya sibuk memainkan tas ransel di atas pangkuannya. Dia tidak nyaman bersama dengan Angkasa di satu ruangan dan hanya berdua.
Angkasa menggeleng pelan lalu memainkan ujung alisnya, dia tidak percaya harus menerima perlakuan seperti ini dari seorang wanita. Biasanya dia yang melakukan ini, ya, bersikap seakan-akan wanita yang mendekatinya sebagai virus mematikan.
"Langit sedang mandi, dia baru saja pulang," ucap Angkasa untuk mengurangi atmosfer aneh yang terbentuk sejak dia memasuki ruang tamu ini.
Bellva tidak menjawab, hanya mengangguk singkat.
"Saya sebenarnya nggak mau ganggu kamu, tapi saya butuh bertanya tentang Artemis." Bellva memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya dan memandang Angkasa. Percaya atau tidak, Angkasa menahan napas saat mata Bellva menatapnya. Tidak lama, hanya persekian detik. "Ya... saya mau tahu soal saudara kembar kamu itu. Apa saja kegiatannya saat siang hari, makanan kesukannya, terus... apa yang menarik minatnya terhadap pria? Ya, intinya saya mau tahu tentang Artemis dari kamu." Angkasa menegakkan tubuhnya lalu memajukan sedikit, satu tangannya bermain pada ujung dagu lancipnya. "Seperti hari ini, apa yang sedang dia kerjakan sekarang? Karena sejak tadi saya menelpon dia, tapi tidak diangkat. Kalau saya mengirimkan pesan singkat, baru dia mau menjawab." Angkasa memandang Bellva. "Saya bertemu dia semalam di mall, kami nonton bersama dan mengunjungi pameran lukisan dia." Angkasa seperti menebak arti dari pandangan Bellva saat ini adalah sebuah kebinguangan, mengira kalau Bellva mungkin bingung kenapa tiba-tiba dia bisa tahu nomor telpon Artemis dan kemungkinan lainnya. "Apa kamu tahu dia sedang apa sekarang?"
Bellva menggeleng lalu mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"Astaga! Kamu bisa nggak sih jawab saya dengan suara, bukan dengan anggukan dan gelengan." Angkasa sedikit frustrasi, karena dia terlihat seperti sedang bermonolog daripada memiliki lawab bicara. "Saya hanya mau mengenal Artemis, ya, kamu pasti tahu rasa tertarik pria pada wanita."
Bellva menarik napas panjang, dia mengeluarkan ponsel pintar dari dalam tasnya secara tiba-tiba. Tidak berapa lama dia seperti terlihat menghubungi seseorang, menunggu seseorang di seberang sana untuk mengangkat.
Angkasa kebingungan, sepertinya dia hanya bertanya tentang Artemis tapi kenapa wanita si ujung sana justru terlihat menelpon seseorang. Setelah lima menit, Bellva mengakhir percobaan menelponnya.
"Kalau kamu memang ingin bertanya tentang Artemis, seharusnya kamu langsung bertanya dengan dia, bukan saya. Tadinya saya mau menelpon Artemis, biar dia bisa memberikan semua jawaban dari pertanyaan kamu. Tapi tidak diangkat, mungkin dia sedang sibuk dengan urusan lukisan," kata Bellva dengan nada yang sangat datar. Wanita itu memasukkan kembali ponsel pintarnya ke dalam tas, memandang sebentar Angkasa lalu mengakhirinya dengan memandangi potret keluarga harmonis Angkasa.
Angkasa kehabisan kata-kata, dia belum pernah menghadapi wanita seperti Bellva. Wanita dengan sikap tak tersentuh oleh siapa pun, penuh kewaspadaan, dan dingin. Sepertinya harapan dia untuk mencari tahu soal Artemis melalui Bellva tidak akan pernah terwujud.
Kemudian suasana ruang tamu kembali hening, kali ini atmosfer semakin aneh. Angkasa terlalu sibuk memperhatikan Bellva, membuat perbandingan antara wanita itu dan Artemis. Sementara Bellva sibuk berusaha untuk membuat diri sendirinya nyaman di ruangan ini.
Beruntung sang penyelamat datang, Langit masuk dengan harum maskulin khas sabun mandi pria. Rambutnya masih setengah basah dan berantakan, baju yang dipakai pun terlihat belum terpakai rapi masih ada cela untuk orang melihat garis-garis otot perut yang siap terbentuk di tubuh Langit, napasnya berderu kelelahan mempekuat dia memang terburu-buru.
"Terima kasih Tuhan Mbak Bellva masih berpakaian rapi!" seru Langit dan berhasil memancing Angkasa untuk melemparkan bantal kecil ke wajah Langit.
"Mulut dijaga! Lo pikir gue sejenis anjing jantan di musim kawin, nggak bisa ngeliat betina sedikit langsung kawin?!" Angkasa tidak menutupi kejengkelannya pada Langit.
"Memang!" jawab Langit, seraya memasang wajah polos. "Makanya gue mandi ngebut, takut Mbak Bellva dinisatin sama lo."
Mungkin orang lain akan tertawa geli sekaligus gemas melihat pertengkaran kakak adik ini, tapi itu tidak terjadi pada Bellva. Bukannya tertawa, Bellva justru merasa hatinya sakit. Ini adalah gambaran sesungguhnya orang bersaudara, tidak seperti dirinya dan Artemis. Terlalu dingin, jarang berbicara, jarang bertemu, saling bertolak belakang.
"Mbak, naik yuk!" ajakan Langit berhasil memulihkan Bellva.
Wanita itu mengulum senyum tipis dan saat dia melakukan itu, terdengar Angkasa protes.
"IDIH! KAMU NGGAK ADIL SAMA SAYA! DARITADI KAMU MASANG WAJAH JUTEK BIN GALAK, SENYUM KAGAK, NGOMONG KAGAK! TAPI KAMU SENYUM SEMANIS ITU UNTUK LANGIT!" satu ruangan itu terisi teriakan protes dari Angkasa. "KONSISTEN DONG! KALAU KAMU MAU JUTEK, YA, JUTEK KE SEMUA ORANG! Jangan ke saya aja..."
Sepanjang Angkasa berteriak, Bellva bersikap seperti tidak mendengarkan. Dia berdiri dan berjalan mengampiri Langit, lalu berdiri di samping Langit sampai Angkasa selesai berbicara. Setelah Angkasa sudah behenti, Bellva tidak menunjukkan dia siap mengomentari Angkasa.
Dia justru menoleh ke arah Langit, memberi kode untuk mereka segera memulai pelajaran mereka.
Langit menahan tawa, karena untuk pertama kalinya dia menyaksikan sendiri perkataan Angkasa diabaikan oleh seorang wanita, mahluk yang biasanya tergila-gila dengan sosok Angkasa. Begitu pun Angkasa, dia semakin kesal pada Bellva.
Cewek aneh, runtuk Angkasa sambil memperhatikan Langit dan Bellva memunggungi dirinya.
Angkasa berdiri dari sofa, bersiap untuk mengikuti jejak kedua orang itu keluar dari ruang tamu. Baru saja Angkasa bersiap melangkah, tapi langkahnya tertahan.
"Sasi... maksud saya Artemis, dia sangat suka kebebasan. Dalam segala aspek kehidupannya dia suka kebebasan, dia suka berimajinasi, dia suka menonton film genre apapun." Bellva mengatakan semua itu tanpa menoleh ke Angkasa. "Satu hal yang berpotensi besar membuat dia tertarik dengan kamu... beri dia kebebasan." Setelah selesai mengatakan itu Bellva pergi.