"Linda, aku tidak bohong. Aku bertemu dengan salah satu pegawai Tour & Travel itu. Dia pindah dari cabang Yogya dan memang baru beberapa minggu bekerja di situ," tegas Nuke meyakinkan Linda.
Dengan sigap Pak Satpam yang ternyata bernama Pak Nugroho pun menawarkan diri untuk membonceng Nuke dengan sepeda motor mengantar Nuke ke ruko yang dimaksud. Sesampainya Nuke di ruko itu. Nuke mulai mendapati kebenaran yang diungkapkan oleh Pak Nugroho. Nuke memperhatikan ruko kosong yang sudah ditutup oleh teralis besi. Terdapat tulisan DISEWAKAN tertempel pada teralis tersebut. Ada pula papan reklame bertuliskan: Pacific Tour & Travel yang tidak lagi tergantung tapi berada pada posisi tergeletak di lantai.
Suara Pak Nugroho pun menyadarkan Nuke yang masih diam tertegun. "Teh, ini ruko yang saya maksud. Dan tadinya memang hanya satu perusahaan Tour & Travel tapi ya sekarang sudah tutup."
"Iya Pak. Maaf saya bingung karena saya bertemu dengan salah satu karyawan di sini bahkan saya sempat diantarnya pulang," sahut Nuke.
"Maaf teh siapa nama orang yang Teteh kenal tadi? Apa namanya Pak Raka? Dia admin gedung ini dulu," tanya Pak Nugroho sambil menunjuk ke tulisan Disewakan hubungi Raka di nomor: 081xxxxxx.
Nuke pun menggelengkan kepala mendengar pertanyaan Pak Nugroho. Pak Nugroho memandang Nuke dengan perasaan kasihan karena tampak kebingungan. Dia pun mencoba berkelakar, " Teh, tapi benar ketemu orang dan bukan hantu kan?"
Nuke menunjukkan wajah kesal seolah ceritanya tidak dipercaya oleh Satpam maupun Linda. Nuke merasa dia tidak gila. Dia memang bertemu Hasan bahkan dibonceng dengan motornya.
Melihat wajah kesal Nuke, Pak Nugroho minta maaf akan candaannya dan meminta Nuke mencatat nomor Pak Raka yang di tempel pada teralis ruko tersebut. Nuke mengeluarkan teleponnya dan memfoto bagian depan ruko dengan maksud akan menunjukkan pada Linda. Setelah itu Nuke bersama Pak Satpam kembali ke pos depan untuk menemui Linda.
Setelah kembali menemui Linda, Nuke pun menunjukkan hasil fotonya. Dengan pandangan lemas pada Linda, Nuke pun berkata,"Aku belum gila, Lin. Hasan nama cowok itu benar nyata bahkan bicara dengan budeku saat dia mengantarku pulang."
Linda menepuk bahu Nuke dan menenangkannya. Mungkin saja ada sosok bernama Hasan tapi dia berbohong tentang tempatnya bekerja. Entah apa alasannya berbohong tapi yang patut disyukuri jika dia orang yang berniat jahat, Tuhan sudah berbaik hati menjauhkan Nuke darinya dan ditunjukkan melalui penjelasan dari Pak Satpam mengenai ruko yang sudah tak berpenghuni itu.
Beberapa bulan berlalu setelah menghilangnya Hasan, Nuke berusaha kembali kepada kesehariannya. Bude Sari sempat beberapa kali masih menanyakan pria misterius itu.
Awalnya Nuke pun enggan menceritakan temuannya pada bude soal Hasan. Tapi karena bude masih sering bertanya, akhirnya Nuke menceritakan hasil penyelidikannya pada bude Sari.
Sama halnya dengan Linda, bude Sari berusaha membuat tenang hati Nuke. Ia membujuk Nuke, jika Hasan ada niat yang baik maka ia akan kembali.
Hari itu Nuke pulang kerja dengan kelelahan yang luar biasa. Mungkin karena cuaca juga tak bagus, membuat Nuke sedikit masuk angin. Selesai mandi, Nuke mengambil gelas dan membuat jahe panas kesukaannya. Terdengar bude membuka pintu depan, baru pulang dari kontrol toko oleh-oleh miliknya.
"Ono opo nduk minum jahe anget, masuk angin?" tanya bude karena melihat Nuke minum air jahe anget.
"Iya bude, sepertinya sudah masuk angin ini. Badanku mulai demam," jawab Nuke sambil menyandarkan punggungnya di kursi kayu dan matanya masih fokus melihat tayangan pada telepon genggamnya.
Bude menawarkan untuk mengerik punggungnya agar Nuke merasa lebih baik. Namun Nuke menolak karena kasihan melihat Bude sudah tampak lelah habis bekerja.
"Tak apa bude sudah lebih enak minum jahe anget kok. Cuma mau tidur cepat saja malam ini," sahut Nuke.
"Ayo kita makan malam dulu. Ini lho bude tadi beli sayur asem sama ikan asin enak nih karena nasinya masih panas," ajak bude beberapa saat kemudian.
Nuke melihat kembali hasil jepretannya di depan ruko kosong tempat kerja Hasan. Ada nomor telepon Pak Raka disitu. Bisa saja Nuke menghubungi Pak Raka dan tanya soal Hasan. Ada ragu dan penasaran bercampur disitu. Nuke kembali terkejut saat merasakan punggungnya ditepuk oleh bude yang mengajaknya makan. Bude hanya menggelengkan kepala melihat kelakuannya.
Kebimbangan dirinya untuk mengetahui jejak si pria misterius terus terbawa hingga ke tempat kerja. Nuke sering bolak balik memeriksa foto ruko itu di telepon genggamnya.
Linda mulai memperhatikannya. Linda pun mulai bertanya kembali mengenai Hasan. "Mbak Nuke, gimana ada kabar soal Aa Hasan?"
Nuke mengalihkan pandangan dari telepon genggamnya ke arah Linda. "Dia juga tidak tahu nomor teleponku kan Lin. Hanya alamat rumah bude itu pun kalau dia masih ingat kami," sahut Nuke.
"Mbak Nuke tidak mau cari tahu melalui teman kantornya itu. Mungkin dengan telepon bapak yang mencantumkan nomornya di ruko, mbak Nuke akan tahu alasan Hasan menghilang," sambung Linda.
Kembali Nuke melihat ke telepon genggamnya mencari foto depan ruko dan memperbesar bagian yang terdapat nomor telepon Pak Raka. Tangannya mulai mencatat di secarik kertas yang ada di mejanya. Batinnya masih berkecamuk apa penting mengetahui keberadaan Hasan. Untuk apa sebenarnya, Nuke masih meragukan Hasan tapi ia merasa ingin tahu akan alasan menghilangnya pria ini.
Tanpa terasa Nuke sudah memasukkan nomor Pak Raka di kontak telepon genggamnya. Terdengar suara Linda berbicara di telepon genggamnya sambil tertawa sudah pasti ia bicara bukan dengan klien tapi dengan kekasihnya.
Pada aplikasi mengobrol di telepon genggamnya, mulai terlihat nomor Pak Raka muncul. Nuke mulai mengetik dan mengucap salam. Tidak menunggu lama Pak Raka pun membalasnya. Nuke memperkenalkan diri dan bertanya mengenai ruko kosong tersebut. Pak Raka sempat berpikir bahwa Nuke adalah calon peminat untuk sewa ruko.
"Maaf Pak Raka, saya bukan mau sewa tapi kebetulan saya berkenalan dengan seseorang yang mengaku karyawan di situ tapi ternyata ruko tersebut telah kosong. Apa bapak mengenal Hasan? Dia mengaku bekerja di ruko kosong itu beberapa minggu lalu," tanya Nuke.
Lama Pak Raka tidak membalas obrolan terakhirnya dengan Nuke. Hingga tiba saat makan siang Nuke bersama teman-teman bersiap makan siang.
Pak Raka membalas percakapan terakhir Nuke. Nuke membatalkan niatnya untuk pergi makan siang keluar dan hanya titip makanan pada Linda untuk makan di kantor saja.
"Mbak sudah bertemu Hasan? Ya dia memang karyawan kami, mbak Nuke," jelas Pak Raka.
Nuke kemudian bertanya kenapa tiba-tiba Hasan menghilang bahkan menceritakan kecurigaannya bahwa dia ditipu dengan seseorang yang mengaku bekerja di ruko kosong itu.
Pak Raka melanjutkan penjelasannya. "Sebenarnya Hasan bukan menghilang mbak tapi memang tugasnya hanya sebentar untuk mengambil barang-barang dan berkas yang masih tertinggal di ruko untuk dibawa kembali ke kantor pusat di Yogya. Rencana memang ruko akan disewakan kepada yang lain. Apa Hasan tidak menjelaskan hal ini mbak? Apa kalian tidak bertukar nomor telepon?, " tanya Pak Raka.
Nuke menjadi malu karena lupa tidak bertukar nomor dan tidak langsung bertanya pada Hasan malah mencurigainya. Nuke menjelaskan bahwa ia lupa bertukar kontak dengan Hasan.
"Tapi tampaknya memang ada alasan lain yang membuatnya terburu-buru kembali mbak. Istrinya tiba-tiba menghubunginya dan sepertinya ada masalah keluarga," penjelasan terakhir Pak Raka membuat Nuke terdiam seketika dan berhenti mengetik. Tadinya dia ingin minta nomor telepon Hasan tapi tiba-tiba tangannya membeku.
Pembicaraan tiba-tiba terputus begitu saja. Nuke terkejut setelah mengetahui bahwa Hasan telah memiliki Istri. Berarti dia tidak jujur. Sebelumnya dia hanya menceritakan soal ibu dan adiknya yang masih SMA. Nuke merasa menyesal telah mencari tahu tentang Hasan. Dia merasa begitu membuang waktu dan energinya karena begitu memikirkan Hasan yang sudah merupakan suami orang.
Nuke berhenti termenung setelah teman-temannya kembali dari makan siang. Ia mulai menyibukkan diri, namun makanan yang dibawakan oleh temannya tidak lagi dia sentuh. Rupanya hal yang mengagetkan itu menghilangkan selera makannya.
Nuke pun tak menceritakan perihal Hasan pada temannya ataupun bude Sari karena ia malu telah merasa begitu dekat dengan seseorang yang telah beristri meskipun itu berawal dari ketidakjujuran Hasan padanya.
Rasanya hari itu ia ingin waktu berlalu cepat karena Nuke berharap segera pulang dan tidur untuk melupakan perkenalannya dengan Hasan.
Ini hari Minggu dan Nuke berencana membantu bude menjaga salah satu tokonya karena pegawainya ada yang cuti. Jarak toko dengan rumah bude tak terlalu jauh kira-kira jaraknya hanya ditempuh 15 menit dengan ojek online. Sebenarnya bude ada motor tapi Nuke tak dapat mengendarai motor dia memilih memanggil ojek online. Tenang dibonceng tinggal duduk manis, begitu pikirnya.
Ojek online pun tiba di toko. Tak jauh dari toko memang ada tempat wisata yang banyak diminati oleh wisatawan yang berkunjung ke Bandung. Nuke menyapa dua karyawan bude yang akan membantunya hari itu. Rencana Nuke akan bertugas di kasir hingga jam 2 sore sementara bude akan menggantikannya setelah itu hingga jam 7 malam waktu toko tutup.
Jam Masih menunjukkan pukul 9 pagi. Terlihat beberapa rombongan turis lokal turun dari kendaraan mereka. Ada yang naik bus dan ada yang membawa kendaraan pribadi. Namun hanya beberapa yang mampir ke toko bude selebihnya langsung menuju tempat wisata. Mungkin pulangnya baru mereka mampir.
Sebenarnya menjaga kasir bukanlah pekerjaan baru bagi Nuke. Saat ia masih belum bekerja di kantornya sekarang, ia sudah membantu bude menjaga toko dan dipercaya untuk memegang kasir. Nuke tahu kebiasaan toko akan rame sekitar jam 12 hingga jam 2 siang di waktu libur karena banyak wisatawan akan mampir makan di tempat makan di sebelah toko bude kemudian sebelum kembali ke kendaraan mereka akan mampir untuk beli oleh-oleh di toko bude.
Jam 11.30 Nuke meminta ijin pada karyawan bude untuk makan siang lebih dahulu sebelum pembeli akan berdatangan di jam 12 siang.
Akhirnya jam 12 siang pun tiba. Awalnya hanya beberapa wisatawan yang datang melihat dan memilih oleh-oleh kemudian lama kelamaan Nuke sibuk dalam antrian pembeli yang ingin membayar.
Nuke tersadar dari kesibukannya ketika ada seseorang yang tiba-tiba memanggilnya.
"Nuke.. hmm kamu Nuke kan?" tampak yang memanggilnya adalah wanita mungkin seusianya dengan menggendong bayi tersenyum padanya.
Nuke terdiam dan berpikir sejenak, siapa wanita yang mengenalnya ini. Oh ya ampun, dia Tika teman SD ku.
Nuke memberi kode pada Tika untuk menunggunya sejenak sebab dia masih harus melayani dua orang lagi yang berdiri di depan Tika.
Sampai akhirnya giliran Tika yang akan membayar makanan yang diborongnya.
"Kamu Tika kan? Wah ini anakmu?," tanya Nuke sambil keluar dari tempat kasir untuk menghampiri dan mencium pipi teman SDnya.
Tika hanya terus tersenyum dan bercerita bahwa dia datang berkunjung dari Surabaya bersama suami dan anaknya. Suami Tika Masih makan karena bergantian menggendong anak pertama mereka. Seorang bayi perempuan cantik bernama Nina yang memakai pakaian bayi warna merah muda.
"Kami sudah menginap dua hari di Bandung, Nuke. Rencana hari ini setelah dari sini kami lanjutkan kembali ke Surabaya. Perjalanan jauh tapi menyenangkan karena kalau lelah kami berhenti dan menginap di beberapa kota," cerita Tika.
Tika bercerita bahwa dia dari Jakarta karena sengaja suaminya mengambil cuti untuk mengunjungi keluarga di Jakarta. Suami Tika merupakan sahabatnya sejak SMA.
Nuke pun bercerita mengenai bapak dan ibunya yang sudah berpulang. Tika pun mengucapkan bela sungkawa karena saat itu dia hanya mendengar dari keluarganya dan tak bisa melawat karena juga sedang COVID.
"Nuke, kamu masih sendiri?", tanya Tika dan membuat wajah Nuke sedikit muram.
"Sudah jangan bersedih aku ada berita baik untukmu saat di Jakarta. Tebak aku bertemu siapa? , " cerita Tika sambil tersenyum.
Nuke tidak bisa menebak pertanyaan Tika barusan. Banyak kemungkinan dapat terjadi. Yang pasti Nuke dan Tika bersama-sama semenjak SD hingga SMP. Kemungkinan besar adalah teman-teman mereka di masa sekolah. Tapi siapa ya?
"Kamu Masih ingat Andi kan? Cowok paling keren di kelas dulu. Sudah cakep, pinter jago karate lagi." Lanjut Tika bercerita.
Tiba-tiba Nuke teringat cinta monyetnya. Iya Andi, pria pertama yang membuatnya jatuh hati sama dengan teman-teman sebayanya.
"Eh langsung bengong. Andi cari kamu. Dia berusaha mencari media sosialmu. Dia berharap bertemu denganmu. Terdengar ya dia juga masih sendiri. Dia sukses sekolah dan kerja di Bank pemerintah sudah manager lho. Hebat kan.. aku ada nomornya kamu aku kasih kontaknya ya," cerita Tika terhenti saat suaminya telah selesai makan dan menyusulnya.
Mereka sempat saling berkenalan dan berbelanja. Namun karena Nuke sibuk melayani pembeli lainnya dan Tika sibuk menggendong bayinya yang mulai rewel mereka tidak sempat lagi saling bercerita.
Hingga nyaris lupa lagi bertukar nomor telepon. Untung saja Nuke sempat menuliskan nomor telepon genggamnya di secarik kertas dan menyerahkan pada suami Tika.
Tika berjanji akan segera menyimpan nomor tersebut saat bayinya tertidur.
Tiba-tiba kenangan indah di masa sekolah pun muncul kembali. Nuke berharap mereka akan berbicara kembali melalui telepon. Hatinya menjadi berbunga-bunga mengingat Andi.