Aku tidak Berbohong

2002 Kata
Akhirnya malam minggu pun tiba. Sesuai permintaan bude Sari, Hasan wajib menjemput dan mengantar Nuke kembali setelah mereka makan di luar. Malam itu Hasan dengan sepeda motornya menjemput Nuke jam setengah 7. Hasan mulai mengetuk pintu rumah Nuke. Bude Sari yang membuka pintu. Rupanya Nuke masih perlu beberapa menit bersiap-siap. Bude Sari pun mengajak Hasan berbincang-bincang dan menanyakan kabar Hasan dan orang tua serta saudaranya di Yogya. Hasan menceritakan pada bude bahwa dirinya dan keluarganya sehat selalu. Bude hampir saja ingin membuatkan secangkir minuman, namun Hasan menolak karena dilihatnya Nuke sudah keluar kamar dengan memakai kaos putih serta celana dan jaket jeansnya. Riasan wajah sederhana membuat kulitnya tampak bersih. Hasan dan Nuke pamit pada bude. Kemudian mereka pun segera naik ke sepeda motor. Jam di tangan Nuke masih menunjukkan jam tujuh kurang Lima belas menit. Motor pun melaju membelah suasana kota Bandung yang mulai gelap. Dingin terasa menembus jaket yang dikenakan Nuke, hingga membuatnya merapatkan jaketnya dan menutup resletingnya. Jalanan terasa mulai ramai dengan kendaraan bermotor yang merupakan pasangan muda mudi yang bermalam panjang. Nuke berusaha menikmati pemandangan untuk mengurangi rasa gugup. Tampak olehnya sepasang pemuda dan pemudi yang berboncengan dengan tangan si wanita memeluk mesra pinggang si pria. Romantis sekali pikir Nuke. Sementara Nuke merasa kaku sikapnya pada Hasan. Canggung rasanya, sehingga dirinya memilih memegang besi di belakang Nuke duduk. Para bocah silver pun melakukan atraksi di sepanjang jalan dan beberapa pengendara juga memasukkan uang pada kaleng yang mereka bawa. Hasan dan Nuke pun tidak saling bicara diperjalanan. Mereka hanya diam menikmati suasana jalan malam itu. Hingga sampai di tengah kota, jalanan makin tampak padat. Mereka melewati tiga lampu merah. Banyak mobil berplat motor dari berbagai kota di luar Bandung. Artinya suasana liburan menuju akhir tahun makin terasa. Karena banyak para wisatawan dari berbagai daerah ada di sini. Malam ini banyak kendaraan wisatawan berhenti di tempat makan dan hiburan di pusat kota. Mereka menikmati sejuk kota Bandung di malam hari bersama pasangan kekasih atau dengan keluarga. Sebenarnya tempat yang mereka tujuh tidaklah jauh dari rumah namun karena jalanan yang cukup ramai sehingga Hasan tak dapat melajukan motornya dengan lancar. Kemudian sampailah mereka di sebuah cafe, tempat anak-anak muda yang biasanya berkumpul menikmati suasana malam dengan mendengarkan Live Music yang manis dan romantis sambil menikmati makan malam. Banyak tempat yang seperti ini di Bandung. Namun Hasan memilih tempat ini karena memang tampak nyaman dan belum banyak orang tahu karena sepertinya baru cafe ini baru beberapa minggu dibuka. Mereka memilih posisi duduk yang lebih privacy berada di pojok tak jauh dari jendela. Pemandangan taman di depan cafe nampak menambah suasana yang romantis bagi para pasangan yang datang. Namun hati Nuke saat itu lebih merasa bingung. Sebab ia tak tahu harus berkata apa terhadap Hasan. Bahkan bingung untuk mengartikan maksud dari pertemuan mereka saat itu. Hasan dan Nuke melihat menu cafe yang terbuat dari kayu. Mereka memesan makanan ringan dan minuman hangat. Sambil menunggu pesanan mereka datang, Hasan menanyakan kabar Nuke sebagai pembuka pembicaraan mereka. Diluar tampak angin yang bertiup kencang membawa butiran-butiran hujan yang turun membasahi pohon-pohon di taman. Tampak beberapa pemuda yang membawa motor di jalan mulai menepi dan memarkir motor mereka di dalam halaman cafe. Banyak diantara mereka masuk ke dalam dan memesan sesuatu sementara beberapa hanya berteduh di halaman. "Hujan mulai turun deras. Apa kamu keinginan, Nuke?" tanya Hasan pada Nuke. Nuke yang dari tadi memandang ke luar jendela kembali melihat ke arah Hasan. "Ah, aku tidak apa-apa. Jaket yang aku pakai membuatku merasa nyaman." demikian jawab Nuke. Tampak Hasan mengambil sikap serius. Matanya masih menatap ke arah Nuke. Sesekali Nuke merapikan jaketnya. "Nuke, aku mendengar dari bosku bahwa kamu mencariku ke ruko? Aku minta maaf karena saat itu lupa mengajakmu bertukar nomor telepon. Aku memang bekerja di Pacific Tour & Travel. Pak Raka merupakan orang yang dipercayakan untuk memegang cabang di sini. Karena sudah tutup dan anak buahnya tidak ada lagi, maka aku yang diminta merapikan file-file dan membersihkan ruang kantor karena ruko akan disewakan. Jadi waktu itu aku harus kembali pulang ke Yogya sambil membawa barang-barang," penjelasan Hasan terhenti karena pelayan datang membawa pesanan mereka. Nuke hanya terdiam, menyimak penjelasan Hasan. Ia sepertinya belum dapat mengeluarkan sepatah kata untuk menanggapi pembicaraan Hasan tersebut. Diangkat perlahan teh hangat yang dipesannya, sambil melihat ke arah luar dari jendela cafe. Hujan tampak turun semakin deras sehingga menambah dingin suasana malam itu. Nuke menikmati teh hangat di cangkirnya perlahan. kemudian diletakkan kembali cangkir yang berada di tangan Nuke ke meja. Wajahnya kembali fokus menatap Hasan seperti menunggu lanjutkan ceritanya. Hasan mulai tampak gugup untuk melanjutkan kata-katanya. Ini bagian cerita tersulit baginya. Hasan meneguk kembali kopinya. Pahit ia rasa kopinya seperti pahit kehidupan yang ia rasakan. Hasan meletakkan gelas kopi hitamnya dan kembali melanjutkan penjelasannya. Ia tahu Nuke telah mengetahui tentang ia yang telah beristri dari Pak Raka. Dan ia merasa berat menceritakan pada Nuke saat ini. Namun kemudian Hasan melanjutkannya," Aku tahu nomor teleponmu dari Pak Raka. Terima kasih telah mencariku. Nuke aku sekali lagi minta maaf jika kamu merasa aku berniat jahat dan bohong padamu soal aku telah menikah. Aku tidak berbohong. Hmm.. memang aku sudah memiliki Istri. Namun saat ini kami sedang proses untuk berpisah. Banyak masalah yang terjadi diantara kami dan tak dapat kami selesaikan. Hari itu ia memintaku segera pulang untuk menandatangani surat-surat penting. Sekali lagi maafkan, aku tidak pamit saat itu dan mungkin kamu mencurigai aku sebagai orang jahat" Tiba-tiba telepon genggam Nuke bergetar. Ia meminta ijin pada Hasan untuk mengangkat telepon dari bude. 'Iya bude kami sudah sampai dari tadi. Tidak kehujanan kok. Ia rencana kami pulang setelah hujan mulai reda. Saat ini hujan Masih turun dengan lebat." terdengar penjelasan Nuke pada budenya. "Maafkan, aku jadi memotong penjelasanmu tadi karena bude takut kita basah kena hujan. Silahkan lanjutkan,"begitu penjelasan Nuke pada Hasan. Sebenarnya, Nuke merasa mulai bosan akan pembicaraan ini. Mungkin karena rasa canggung berbicara dengan pria yang telah menikah. Baginya proses perceraian belum bisa menandakan bahwa pria dihadapannya kemungkinan akan menjadi calon suaminya. "Rasanya hanya hal itu yang dapat aku sampaikan. Aku hanya takut kalau kamu merasa kecewa karena menganggap banyak hal yang kututupi. Padahal aku memang mencari waktu yang tepat untuk bicara. Nuke berusaha mencairkan suasana dengan mengambil dimsum yang dipesannya menggunakan garpu. "Hmm.. mari sambil dimakan cemilan kita. Udara cukup dingin jadi kita perlu makanan hangat supaya tidak masuk angin," begitu Nuke mengajak Hasan untuk makan, makanan yang telah dipesannya. Mereka akhirnya mulai makan dan suasana menjadi hening beberapa saat. Nuke merasa bingung saat itu. Bingung mencari kata yang tepat dan meresponi cerita Hasan. Ia merasa tidak berpengalaman soal perceraian sebab nikah saja belum. Suasana inilah yang dirasa Nuke menjadi canggung. Tidak ada yang dapat ia sampaikan dalam kesempatan ini. Bahkan pergi dengan pria yang bukan kekasihnya saja sudah membuat Nuke merasa canggung. Akhirnya malam itu tak banyak yang dikatakan Nuke. Ia lebih banyak mendengarkan dan menganggukkan kepala. Entahlah mungkin Nuke takut memberikan komentar yang tidak pas mengenai permasalahan perceraian Hasan. Hujan di luar sana masih cukup deras mungkin sekitar dua jam waktu yang membuat Hasan dan Nuke harus menunggu di Cafe. Alunan musik Sunda pun terdengar dari ruang tengah menambah suasana yang berbeda. Ketika hujan sedikit mereda Nuke melihat ke arah jam tangannya yang ternyata sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. "Gimana, apa kita pulang sekarang, hujan mulai reda. Aa bukannya akan ke Yogya besok?" Hasan pun melihat jam tangannya. Ia pun mengangguk dan bersiap untuk membayar. Nuke juga akan beranjak ke kasir untuk membayar. Namun Hasan mencegahnya. Nuke pun menurut dan kembali duduk sambil menghabiskan teh hangat di mejanya. Mereka akhirnya kembali melalui jalan untuk pulang. Jalanan yang tadi cukup ramai saat ini tampak lebih sepi, mungkin karena habis hujan. Sesampainya di rumah, bude membukakan pintu. Tampak bude mulai mengantuk menunggu Nuke pulang. "Maaf bude, kami kemalaman sampai rumah. Sebab kami menunggu hujan reda, saya lupa bawa jas hujan," Hasan berusaha menjelaskan pada bude Sari. "Iya nak, tidak apa-apa bude mengerti. Terima kasih telah mengantar Nuke sampai rumah dengan selamat,"begitu ungkap bude pada Hasan. "Iya bude dan Nuke, sekalian saya ijin pamit besok mau kembali ke Yogya. Tugas saya yang mondar-mandir sudah selesai. " begitu Hasan pamit. "Oh gitu nak Hasan. Hati-hati di jalan, jaga kesehatan semoga selamat hingga sampai di rumah. Salam buat keluargamu. Semoga suatu saat nanti kita dapat bertemu kembali ya," sahut bude. Nuke pun melambaikan tangan saat Hasan pamit pulang karena sudah lewat jam sepuluh malam. Tampak bude penasaran akan apa yang dijelaskan Hasan pada keponakannya itu. Namun karena dilihatnya Nuke sudah lelah, maka bude mengurungkan niatnya untuk bertanya. Nuke masuk ke kamar dan berganti baju tidurnya. Nuke pun menggosok gigi dan membasuh wajahnya. Kemudian kembali ia ke tempat tidur. Nuke belum dapat tidur, pikirannya penuh akan perkataan Hasan. Memang Hasan tadi tidak berbohong. Namun jujur saja Nuke merasa canggung pada Hasan setelah ia mendengar Hasan sudah menikah. Nuke banyak merasa aneh jika ia bicara dengan Hasan. Ia menjadi tak dapat berkata-kata dan merasa pertemuan mereka sia-sia. Malam makin larut dan Nuke pun tertidur tanpa sadar karena kelelahan. Hari Minggu ini Nuke tidak pergi kemana-mana. Rencana ia akan menghabiskan waktunya di rumah, mempersiapkan hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaannya. Hingga malam ia sibuk dengan laptopnya. Ada projek yang harus ia selesaikan bersama teamnya. Hasan telah kembali ke Yogya. Nuke tidak mau lagi berpikir negatif tentang Hasan. Biarlah ia dengan kehidupannya. Doanya hanya jika Hasan atau siapa pun orang yang tidak tepat baginya, biarlah Tuhan yang menjauhkan dari hatinya. Mungkin termasuk Andi. Nuke tak dapat menutup mata akan nasehat orang-orang yang dikenalnya termasuk bude Sari dan pertanda-pertanda yang datang dalam mimpinya. Nuke sangat menyayangi orang tuanya. Harapannya hanya ingin agar dapat melaksanakan amanat bapak dan ibunya. Senin pagi, Nuke kembali disibukkan oleh rutinitasnya di kantor. Beberapa artikel yang disiapkan untuk projek tersebut kembali dibukanya di kantor. Ia dan teamnya akan mengadakan meeting jam 10 pagi. Dilihatnya jam sudah hampir jam 8 pagi dan Linda rekan seruangannya belum kelihatan. Tumben, biasanya Linda datang pagi. Tapi ini sudah hampir jam 8 kok dia belum datang. Nuke melihat telepon genggamnya, siapa tahu saja Linda memberi kabar kenapa dia belum datang. Tidak ada kabar, kemana dia. Padahal mereka akan ada meeting jam 10 nanti. Nuke berusaha menelepon temannya dan tidak diangkat. Mungkin saja dia masuk dan Masih mengendarai motornya jadi tidak bisa mengangkat teleponnya. Nuke mengirimkan pesan singkat untuk Linda yang mengingatkan akan ada meeting jam 10. "Nuke, kemana Linda? Dia sudah datangkan?" tiba-tiba mbak Mirna muncul di pintu. Dia mencari Linda. "Maaf mbak, Linda belum masuk ke ruangan. Saya coba telepon dia tidak angkat," begitu jawab Nuke. Mbak Mirna tampak khawatir. Lalu ia melanjutkan perkataannya,"Aduh kemana sih dia, aku takut dia belum menyelesaikan laporan yang aku minta buat dibawa meeting nanti." "iya mbak, saya sudah ingatkan soal meeting nanti. Tapi dia belum balas juga." sahut Nuke. "Nuke, kamu tetap coba hubungi dia sampai dapat ya. Jangan lupa ingatkan dia bawa laporan yang aku minta," mbak Mira mengakhiri perkataannya sambil berpesan kemudian menutup pintu kaca ruangan Nuke dan Linda. Nuke juga jadi ikut panik karena mbak Mira menunggu laporan Linda. Diangkatnya kembali telepon genggamnya. Dicoba menekan pulang nomor Linda hingga tiga kali namun belum juga diangkatnya. Nuke menghempaskan tubuhnya di kursinya. Ia mencoba menangkan diri dengan minum teh hangat di mejanya. Karena sibuknya ia tidak sempat sarapan dan minum teh di rumah tadi padahal biasanya bude pasti sudah menyiapkannya. Untuk kesekian kalinya, Nuke kembali menghubungi Linda. Akhirnya terdengar suara Linda mengatakan hallo. "Lin, kamu dimana? Terlambat sampai kantor? Kamu dicari mbak Mirna. Dia tanya apa kamu sudah siapkan laporan yang dia minta buat meeting nanti jam 10?" begitu Nuke langsung menyerbu Linda dengan perkataannya. Terdengar suara Linda terengah-engah diujung sana. Kemudian dengan napas tersenggal-senggal Linda mulai menjelaskan,"Mbak Nuke, maaf aku memang baru saja sampai. Ini lagi mau ke atas Masih di lobby. Aduh aku lupa kita ada meeting ya jam 10?" Nuke merasa sikap Linda sangat tidak biasa. Nuke selalu melihat Linda bersikap profesional. Dia mengerjakan semua tugasnya dengan baik. Bahkan meeting penting seperti ini tak akan mungkin ia lupakan. Nuke meletakkan telepon genggamnya karena tiba-tiba telepon dirinya dengan Linda terputus.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN