"Kak Revan!" teriak seorang gadis cantik berambut pirang. Gadis itu segera berlari ke kamar Revan dengan semangat.
Cklek
Belum sempat tangannya meraih kenop pintu, ternyata pintunya sudah terbuka sendiri. Dari balik pintu terlihat cowok tampan dengan pakaian kasual lengkap. Senyum manis gadis itu langsung terpancar karena tak perlu menunggu Revan lama.
"Eh, si cantik, kakak hari ini nggak bisa nemenin kamu. Kakak ada kepentingan mendadak, jadi kamu pergi sama kak Regan aja ya. Ayo, kakak anterin ke kamar kak Regan," kata Revan sambil membalik badan gadis berambut pirang itu, lalu mendorong punggungnya menuju kamar Regan.
"Bang, anterin Shereena ke mall ya. Gue nggak bisa soalnya Aeleasha sakit. Barusan pembantunya hubungin gue, katanya dia muntah-muntah sama nggak mau makan," kata Revan dengan wajah sedikit khawatir, saat sudah sampai di depan kamar Regan yang tidak ditutup.
"Oh oke," jawab Regan tanpa acuh.
Revan pun segera pergi dari kamar sang kakak, berlari cepat keluar. Melihat wajah khawatir adiknya, Regan berpikir kalau Revan benar-benar punya perasaan spesial untuk sahabatnya itu. Karena setiap hal yang menyangkut Aeleasha, Revan selalu ada di urutan nomor satu.
"Shereena, kakak ganti baju dulu ya," kata Regan pada gadis yang kini berdiri dengan wajah cemberut.
"Heem," jawab Shereena tak bersemangat.
Regan tersenyum tipis melihat wajah menggemaskan Shereena. Ia selalu berpikir, jika kelak punya adik perempuan atau anak perempuan, pasti akan sangat menggemaskan seperti Shereena. Sejak bertemu gadis itu, Regan selalu ingin memiliki saudara perempuan.
"Ayo, kakak temenin kamu ke mall," Regan menarik tangan mungil Shereena pelan.
Gadis itu tampak tak semangat pergi bersama Regan. Ia sudah berdandan cantik karena akan pergi bersama Revan, tapi gagal dengan mudah. Ia sungguh kecewa.
Selama perjalanan, Shereena terus diam, tak berniat mengeluarkan suara sedikit pun. Padahal biasanya gadis itu sangat cerewet. Kenapa sekarang tiba-tiba bisu?
"Ayo turun," ajak Regan.
"Kita pulang aja, Shereena males," tolaknya dengan wajah cemberut.
"Ck, ayo. Nanti kakak traktir deh," kata Regan.
Cowok tampan itu terus membawa Shereena ke dalam mall, tak peduli wajah cemberut gadis itu. Shereena yang sudah dianggap seperti adiknya sendiri tetap diam, tak berniat membeli apa pun.
"Eh, ceweknya imut bangeeeetttt," puji salah satu cewek di depan toko baju.
"Cowoknya ganteng banget, keren, aduh idaman," puji yang lain.
"Gue pengen kenalan sama ceweknya, njirr," bisik seorang cowok.
Regan tersenyum mendengar beberapa bisikan. Bahkan banyak cowok menatap Shereena terang-terangan saat ia ada di sampingnya.
"Mau makan, Shereena laper," pinta gadis itu akhirnya.
Regan mengangguk, lalu membawa Shereena ke salah satu kafe yang tidak terlalu ramai di dalam mall. Setelah beberapa menit menunggu pesanan, Shereena makan dengan lahap sampai belepotan. Namun itu terlihat sangat lucu di mata Regan. Ia sesekali mengambil foto Shereena.
Selesai makan, Shereena ingin pergi dari mall. Regan membawa gadis itu untuk bertemu dengan Aquila, kekasihnya yang kebetulan sedang ada di rumah, jadi bisa santai jika Shereena sibuk bersama Aquila.
"Kakak cantiikk," teriak Shereena senang.
"Haii," sapa Aquila sambil melambaikan tangan pada gadis itu.
"Mau main sama kakak cantik bole? Soalnya kak Regan tuh nggak bisa buat aku seneng. Dia kaku banget," adu Shereena sambil memanyunkan bibir lucu.
Aquila terkekeh mendengar pengaduan Shereena. Ia sudah sering merasakan yang gadis itu rasakan. Pergi bersama Regan yang terlalu dingin membuat suasana jadi kurang menyenangkan.
"Ayo masuk," ajak Aquila.
Shereena bersorak senang, Aquila ikut tersenyum melihat gadis itu. Ketika akan masuk ke dalam rumah, tangannya ditahan Regan.
"Apa?" tanyanya.
"Gak papa, pengen gandengan aja," jawab Regan santai.
Aquila mengigit bibir dalamnya menahan senyum. Sebenarnya Regan tahu Aquila berusaha menyembunyikan senyum, tapi ia pura-pura tak melihat agar gadis itu tidak malu.
Kini mereka bertiga ada di ruang tengah. Shereena memainkan game yang ada di sana dengan sesuka hati, karena sudah mendapat izin dari Aquila. Sedangkan Aquila dan Regan hanya menonton sambil duduk di sofa, seperti sedang menjaga anak mereka yang asyik sendiri.
"Bosen nggak?" bisik Regan.
"Enggak, kenapa? Kamu bosen?" tanya Aquila.
Regan mengangguk lucu, bibirnya manyun seperti merajuk. Aquila tanpa sadar mencubit pelan pipi cowok di sampingnya karena gemas.
Telinga Regan memerah karena cubitan itu. Malu, ia pun memeluk Aquila dan menyembunyikan wajahnya di leher sang kekasih. Gadis itu juga salah tingkah akibat perbuatannya sendiri. Untung tak ada yang melihat apa yang ia lakukan barusan.
"Bosen, ayo jalan-jalan," perkataan Shereena terhenti saat melihat Regan dan Aquila tengah berpelukan mesra.
"Mau jalan-jalan ke mana?" tanya Aquila cepat, lalu mendorong Regan agar melepaskan pelukannya.
Shereena hanya diam, merasa tidak enak karena mengganggu mereka.
"Shereena mau jalan-jalannya ke mana lagi? Tadi bilangnya nggak mood," tanya Regan lembut.
"Nggak tahu," jawab gadis itu pelan.
"Gimana kalau main dandan-dandanan? Kebetulan kakak banyak banget pernak-pernik rambut," usul Aquila.
"Wah, mauu," seru Shereena sambil bertepuk tangan.
"Bentar ya, biar kakak ambil dulu," Aquila segera beranjak ke kamarnya.
Tak butuh waktu lama, gadis itu sudah kembali membawa dua kotak besar. Shereena segera mendekati dan membantu membawa kotak itu.
"Coba dandanin Shereena," suruh Regan.
Aquila mengangguk setuju. Shereena siap untuk didandani. Ia membersihkan wajahnya dan mengurai rambut yang selama ini dicepol ke atas.
Regan hanya memperhatikan keduanya. Ah, tidak, dia lebih fokus menatap Aquila yang serius mendandani Shereena. Tak hanya merias wajah, Aquila juga menata rambut pirang dan bagian bawah yang biru milik Shereena.
"Selesai," kata Aquila sambil bertepuk tangan.
"Wah, cantik bangeeeetttt," pekik Shereena kegirangan.
"Dipuji-puji sendiri, seneng sendiri," celetuk Regan.
"Huaa, kakak cantik. Kak Regan jahaaaat," adunya sambil memperlihatkan wajah ingin menangis.
"Ck, kamu tuh bisa diem nggak?" sentak Aquila ke Regan.
"Iya, cantik kok. Kan yang merias pacar aku," ujar Regan seraya menggoda Aquila dengan mengedipkan sebelah mata.
Shereena menatap tak suka pada Regan yang sok genit, padahal ia tahu Regan dingin.
"Kenapa kedip-kedip? Matanya kelipatan batu bata?" ujar Shereena ketus.
Tawa Aquila pecah mendengar kata-kata Shereena. Ia tak menyangka gadis kecil itu berani mengatai Regan.
"Ayo jalan-jalan, Shereena mau pamer," ajak Aquila.
"Pamer apa?" tanya Aquila bingung.
"Pamer karena cantik abis didandani kakak cantik. Ayo cepetan," Shereena langsung menarik tangan Aquila pergi begitu saja.
Regan hanya bisa mengelus d**a saat kedua gadis itu mulai akrab. Harusnya ia tak membawa Shereena ke rumah Aquila. Sekarang ia yang diabaikan oleh dua gadis cantik itu.
Akhirnya mereka pergi ke mall. Shereena berada di tengah-tengah keduanya seperti anak kecil. Ia terus merangkul tangan Regan dan Aquila sambil bernyanyi pelan. Melihat tingkah menggemaskan Shereena membuat Regan dan Aquila gemas sendiri.
"Loh, adek kalau kakaknya mau pacaran kamu jangan ikut dong. Kasian tuh mereka," ujar salah seorang ibu.
"Ini Mama sama Papa aku. Ibu nggak usah banyak komen, urusin aja tuh anaknya," kata Shereena berani.
"Ayo Pa, Ma. Anak kalian ini laper mau makan," ajaknya, lalu menarik Regan dan Aquila yang masih terdiam.
Regan sesekali tersenyum mengingat Shereena yang mengakui dirinya dan Aquila sebagai orang tua gadis itu. Entahlah apa yang terjadi. Yang jelas, ia cukup senang Shereena memanggilnya Papa, padahal usia mereka tidak jauh berbeda.
"Dadah, Mama cantik," Shereena melambaikan tangan dengan semangat ke arah Aquila.
"Daah," Aquila ikut melambaikan tangan sebelum mobil Regan meninggalkan rumahnya.
Aquila memasuki rumah sambil tersenyum sendiri. Ia masih mengingat bagaimana tadi Shereena terus memanggilnya dan Regan dengan sebutan Papa dan Mama. Rasanya menyenangkan saat ia bisa merawat gadis itu bersama Regan.
"Mama, Shereena mau itu yaa," rengeknya.
"Jangan, kamu sudah habis dua kaleng minuman soda. Kamu tahu kan, terlalu banyak minum soda kurang baik untuk kesehatan," larang Aquila.
"Heem, tapi pengen lagi. Satu aja boleh ya?" paksa Shereena dengan menyatukan kedua telapak tangannya memohon.
Aquila tetap menggeleng, tidak memperbolehkan. Ia tahu Shereena suka minuman bersoda, tapi tak mau gadis itu sakit atau mengalami gangguan kesehatan.
"Udah kasih aja satu, kasian tuh," suruh Regan, tak tega melihat Shereena yang sangat ingin minuman soda lagi.
"Ck, bapak-bapak diem. Ini urusan ibu dan anak," ketus Aquila tanpa sadar.
"Shereena boleh minta apa pun, kecuali minuman bersoda," kata Aquila dengan lembut, seperti benar-benar berbicara dengan anaknya.
Gadis itu tampak berpikir sambil melihat sekeliling, tapi masih tak menemukan apa yang diinginkan.
"Ah, gimana kalau kalian kasih Shereena adik? Kan kalau kakak sudah punya, tapi belum punya adik. Jadi Shereena mau satu ya. Mama cantik," pintanya dengan mata berbinar.
Aquila menelan ludah pelan. Rasanya ingin menghilang dari bumi karena permintaan konyol itu. Bagaimana bisa anak itu malah meminta adik padanya dan Regan yang bukan orang tua asli?
"Oh, siap," kata Regan semangat.
"Ngelamun apa sih? Kok sampai nggak denger kakak panggil berkali-kali," tanya Andre.
"Eh, kakak sudah pulang?" kata Aquila sedikit tergagap.
"Iya, baru banget," jawab Andre sambil mengelus pelan puncak kepala adik kesayangannya.
Andre memeluk adiknya dengan erat. Setiap kali pulang kerja, ia selalu menemui adiknya dan memberikan pelukan hangat. Sebagai satu-satunya keluarga Aquila, ia berusaha memberikan yang terbaik untuk sang adik. Sejak kedua orang tua mereka meninggal karena kecelakaan pesawat tujuh belas tahun lalu, ia selalu berusaha agar Aquila tidak merasa kesepian di rumah sendirian.
"Kakak capek banget ya?" tanya Aquila.
"Tadi capek banget, tapi sekarang sudah hilang. Karena sudah dapat energi dari adik tersayang kakak," jawab Andre.
"Haha, kakak bisa aja. Sini duduk, biar Aquila pijat."
Andre duduk di tepi ranjang adiknya, lalu Aquila mulai memijat pundak sang kakak. Biasanya Andre tak mau karena kasihan pada adiknya, tapi saat sangat lelah, barulah ia menerima apapun yang akan dilakukan Aquila.
"Tadi hari kamu gimana?" tanya Andre seperti biasa, selalu ingin tahu hari-hari adiknya.
"Tadi seru banget, masa Aquila dipanggil Mama sama anak yang usianya nggak jauh beda. Tadi kita pergi ke mall bertiga sama Regan. Terus ada ibu-ibu negur, katanya nggak usah ikut kalau kakaknya mau pacaran. Karena kan dia ada di tengah-tengah aku sama Regan," cerita Aquila dengan semangat.
"Terus, dia jawab apa?" tanya Andre penasaran.
"Dia bilang, ini Mama sama Papa aku. Jadi ibu nggak usah banyak komen," jawab Aquila sambil tertawa. Andre ikut tertawa mendengar cerita adiknya.
"Berani banget anak segitu ngelawan ibu-ibu," gumam Andre sambil geleng-geleng kepala.