2.ReganAquila

1784 Kata
Semakin hari Regan dan Aquila sudah semakin dekat, mereka sering kali pergi bersama. Regan juga selalu menjemput dan mengantar pulang Aquila ke sekolah, sejak Renatha mengatakan bahwa ia harus benar-benar menjaga gadis itu. Rencananya nanti siang Regan akan mengajak Aquila pergi ke butik sang ibu untuk berkumpul dengan yang lain. Aquila menolak ajakan Regan untuk pergi ke kantin dengan alasan akan belajar, karena setelah jam istirahat nanti di kelasnya akan ada ulangan. Regan pun mengurungkan niatnya untuk pergi ke kantin dan memilih untuk menemani Aquila. "Itu rumusnya salah, harusnya gini," Regan mengambil alih pensil dan buku Aquila kemudian membantu Aquila menyelesaikan satu soal. "Em, makasih," ucap Aquila pelan. Regan terus memperhatikan Aquila yang sibuk menyelesaikan beberapa soal matematika. Sebenarnya Aquila juga pintar meskipun tidak termasuk murid pilihan yang bisa masuk ke kelas unggulan seperti Regan. Ia sering mendapatkan peringkat tertinggi di kelas sejak SD. "Udah belajarnya nanti lagi, gue laper, kita ke kantin sekarang," Regan melihat jika Aquila menahan lapar jadi memutuskan untuk pergi ke kantin. Aquila sebenarnya ingin menolak karena ia tidak ingin bertemu para gadis yang mengidolakan Regan. Ia sudah sangat lelah mendapatkan tatapan sinis dan mendengarkan perkataan jahat mereka semua. Tapi Aquila juga merasa semenjak Regan melindungi dirinya, tidak terlalu banyak orang yang melakukan bullying terhadap dirinya. Mungkin ada saja yang membully tapi tidak separah dulu, yang sekarang ia hadapi adalah gadis-gadis yang menyukai Regan. Mereka selalu menatap sinis Aquila yang lewat, bahkan tak segan mereka mengeluarkan kata-kata yang sangat jahat. "Lo duduk aja, biar gue yang pesen," ujar Regan. Aquila hanya menurut dan duduk di meja sendirian menunggu Regan memesan makanan. Seperti biasa Aquila akan menundukkan kepalanya dalam-dalam karena tatapan para siswi. Mereka juga tidak segan untuk menyindir dengan suara keras, itu membuat Aquila benar-benar merasa malu. Dirinya selalu direndahkan dan dihina, tanpa ada yang tahu seperti apa gadis itu sebenarnya. "Jangan nunduk, mereka akan semakin meremehkan lo. Inget, jangan pernah nangis cuma karena hal sepele," Regan tiba-tiba duduk di sebelah Aquila dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Gadis itu lelah dengan semuanya, ia selalu tidak dianggap dan dikucilkan karena berdandan cupu. Mereka bahkan sering mengatakan jika Aquila tidak pantas bersanding dengan Regan yang tampan dan kaya. Tanpa diketahui jika sebenarnya Aquila adalah anak pemilik sekolah itu. Tapi sengaja ia sembunyikan semua identitasnya karena ingin mendapatkan teman yang tulus. Akan tetapi nyatanya tidak ada yang mau berteman dengan gadis cupu seperti dirinya. Sepulang sekolah Aquila ikut dengan Regan ke butik milik sang ibu karena dipaksa. Di sana sudah ada teman-teman Regan dan beberapa orang yang membantu seorang wanita cantik. Mereka sedang melakukan pemotretan, Aquila terus memandangi kegiatan Renatha, ibunda Regan. Ia bercita-cita ingin menjadi seorang model internasional di Eropa, meskipun tidak bisa membuat rancangan baju setidaknya menjadi model. Rencananya Aquila akan melanjutkan kuliahnya di London karena kakak laki-lakinya sering pergi ke sana untuk perjalanan bisnis. Setelah beberapa menit akhirnya Renatha selesai dan langsung menghampiri meja para remaja itu. Mereka saling sapa dan memberikan perhatian, mereka memang sangat dekat dengan Bunda Regan. Karena kebaikan dan kesabaran wanita itu, semua teman anak-anaknya jadi menganggap Renatha juga ibu mereka sendiri. “Bun kenalin ini Aquila,” Regan memperkenalkan gadis yang sejak tadi duduk di sampingnya pada Renatha. Renatha menatap Aquila lembut ketika gadis itu malah menundukkan kepalanya dan mengulurkan tangan pada Renatha. Gadis di depannya benar-benar cantik tanpa sedikit pun polesan, Renatha bisa melihat wajah imutnya. “Halo sayang, wah Aquila cantik ya. Pinter bang Regan cari pacar,” puji Renatha. Aquila tersenyum canggung dengan pujian yang Renatha berikan, pasalnya selama ini ia dibully karena tidak cantik seperti teman-teman lainnya. Bahkan ia juga sering kali diolok-olok karena berdandan sebagai gadis cupu. Tapi itu ia lakukan untuk menutupi kecantikan yang dimiliki, karena sang kakak selalu mewanti-wanti agar Aquila tidak salah pilih teman. Dan ternyata berdandan cupu membuat dirinya tak memiliki teman satu pun. “Aquila sayang kamu sering-sering main ke rumah dong, nanti Bunda ajak buat masak bareng. Bunda tuh sebenernya pengen banget anak cewek biar bisa diajak masak bareng, becanda, cerita ini itu sebagai sesama wanita,” kata Renatha penuh semangat. “I-iya Tante, nanti aku bakal main ke rumah Tante buat belajar masak, hehe,” Aquila masih gugup berhadapan dengan ibu Regan. Padahal sejak tadi Renatha berusaha untuk bisa membuat Aquila merasa santai. Mungkin keputusan Regan untuk menjadikan Aquila pacar karena ingin melindungi benar, gadis itu terlihat sangat manis dan lugu. Tapi Renatha masih kepikiran bagaimana jika nanti Aquila mencintai putranya, sedangkan Regan mengatakan hanya ingin melindungi gadis itu saja. Ia tak mau Aquila terluka jika sampai memiliki perasaan itu pada Regan. Mungkin nanti Renatha akan bicarakan soal perasaan pada putranya, untuk jaga-jaga agar Regan tidak menyakiti perasaan Aquila. “Oh iya sayang, kalau Regan nakal kamu boleh lakuin apa pun sama dia, asal kamu gak sakit hati atau jengkel. Bunda ikhlas kok,” kata Renatha. “Anak sendiri Bun,” dengus Regan. “Cowok harus ngalah sama cewek bang, gak boleh buat Aquila sedih apalagi nangis, dosanya besar.” “Assalamualaikum,” Regan yang akan menjawab perkataan ibunya ia urungkan karena mendengar suara kedua adiknya. Mereka datang tidak sendirian, melainkan dengan Bara. Regan tersenyum ramah pada laki-laki itu. Awalnya lancar-lancar saja, sebelum Yura izin pulang dan Renatha yang mengantarkan ke luar tak kunjung masuk kembali. Dan saat masuk terlihat Ronal, paman Regan, ikut masuk. Regan terus diam sebelum keluar dari rumahnya. Regan memang terlihat biasa saja bahkan berbeda dari sikapnya di sekolah. Tapi saat berada di dalam mobil ia terlihat begitu dingin. Aquila memberanikan diri menyentuh kembali tangan Regan seperti tadi, ia ingin langsung bertanya tapi takut. “Kenapa? Lo malu ya punya pacar dari cowok yang gak punya ayah?” tanya Regan langsung. “Eng-enggak, bukan gitu,” jawab Aquila gugup. “Gue lahir tanpa seorang ayah, lo sendiri denger kan tadi yang Rain katakan. Bahkan ayah gue sendiri minta Bunda buat bunuh kita sebelum kita lahir. Kita hadir bukan karena diinginkan tapi karena kesalahan—” Aquila menutup mulut Regan. Cowok yang selama ini terlihat cuek, dingin dan sempurna, kini terlihat sangat rapuh. Bahkan Aquila melihat mata berkaca-kaca Regan dengan wajah yang sudah memerah. “Kamu sama kedua kembaran kamu itu bukan kesalahan. Kalian anugerah dari Tuhan buat Bunda Renatha, keluarga yang bahagia atas kehadiran kalian, teman-teman kamu dan orang-orang lain yang sayang sama kalian. Jangan pernah bilang kamu itu kesalahan, kalo Bunda Renatha denger pasti dia sedih,” nasehat Aquila. Entah keberanian dari mana ia menasehati seorang Regan yang menurutnya selalu tenang dalam situasi apa pun. Seperti tadi saat Rain adiknya memberitahu segala kebenarannya, Regan dengan tenang meminta ayahnya pergi tanpa sedikit luapan emosi. Meskipun diam-diam dia kecewa, marah, dan merasa bersalah pada sang ibu karena dulu sering bertanya soal sosok ayah. “Udah sampe, ayo turun,” Regan mengalihkan pembicaraan mereka ketika sudah sampai di rumah Aquila. Mereka turun dari mobil dan berjalan berdampingan menuju pintu utama. Regan melihat sekeliling rumah seperti biasa setiap dirinya ke sana pasti sepi. “Kok rumah lo selalu sepi?” tanya Regan penasaran. “Iya, kebetulan kakak lagi ke luar negeri seminggu, jadi sendiri. Eh, sama Bibi sama Mang Ucup juga,” Aquila menjawab dengan tersenyum manis. “Orang tua lo?” Mendengar pertanyaan kedua dari Regan, seketika Aquila diam. “Em, Mama sama Papa udah gak ada,” jawabnya pelan. Regan menatap Aquila dengan rasa bersalah, refleks Regan menarik Aquila ke dalam pelukannya. Pertanyaan seperti itu juga sensitif untuk gadis itu. Regan tidak tahu banyak tentang Aquila meskipun dirinya mengklaim bahwa Aquila pacarnya. “Sorry,” ucap Regan pelan. “Gapapa, udah takdirku. Eh ayo masuk dulu,” ajak Aquila. Regan mengangguk, ia mengikuti Aquila di belakang. Dilihat dari rumahnya, Aquila anak orang kaya, tapi kenapa Aquila memilih berdandan seperti gadis cupu. Pikiran Regan terus mengarah pada kepribadian Aquila yang menurutnya bisa saja berdandan seperti gadis lainnya. “Aku ganti baju dulu ya, sekalian mau bilang sama Bibi buat ambilin kamu minum.” Lagi-lagi Regan hanya mengangguk. Beberapa menit kemudian, seorang wanita paruh baya datang dengan membawa nampan berisikan secangkir minuman dan beberapa makanan ringan. Wanita itu tersenyum ramah pada Regan dan meletakkan isi nampannya di meja, setelahnya pamit untuk kembali ke dalam. Tak berselang lama, Aquila datang dengan baju santainya. Gadis itu tidak memakai kacamata bulat yang tebal seperti biasanya, bahkan dandanan Aquila benar-benar berbeda dari biasanya. Rambutnya dicepol ke atas, meskipun tanpa makeup tetap cantik. "Lama ya, maaf soalnya tadi beresin buku dulu," kata Aquila tidak enak hati. "Gapapa, sini duduk sebelah gue," Regan menepuk sofa di sampingnya. Aquila pun menurut dan langsung duduk, wajahnya masih dihiasi senyum manis yang menawan. Wajah naturalnya benar-benar membuat Regan terpana. "Non, non, bibi minta maaf sebelumnya, Non, karena bibi mau minta izin untuk pulang ke kampung. Ibu bibi lagi sakit, Non, baru aja bibi dikabarin kalau beliau masuk rumah sakit," kata wanita itu dengan raut khawatir. "Oh ya udah, kalau gitu bibi pulang sekarang aja biar dianter Mang Ucup. Gapapa, bibi gak usah minta maaf," kata Aquila mengizinkan. "Tapi kalau saya dianterin Mang Ucup, Non sama siapa? Kan saya sama Mang Ucup dilarang ninggalin Non sendirian di rumah. Biar saya cari angkutan aja, Non," tolak asisten rumah tangga Aquila. "Ini udah malem, gak ada angkutan yang bisa bibi temuin cepet. Aku berani kok, Bi, gapapa. Bibi sama Mang Ucup aja, aku gak akan kasih tau kakak atau siapapun," paksa Aquila. Ia tak tega jika pembantunya kebingungan mencari kendaraan umum. "Tapi, Non, saya gak bisa ninggalin Non sendirian. Non kan takut sendiri, belum lagi—" "Biar Aquila, aku yang nemenin sampe besok. Bibi pergi aja sama supir, gapapa," potong Regan. "Tapi, Den—" "Gapapa, Bi. Dia baik kok, aku pasti baik-baik aja sama dia." Akhirnya, pembantu dan sopir Aquila berangkat ke kampung. Kali ini, Aquila mengenyampingkan rasa takutnya. Jika nanti merasa takut sendiri saat Regan pulang, Aquila berniat menelpon sepupunya untuk datang. Sekarang ini, Aquila kembali mengobrol dengan Regan di ruang tamu. Regan sengaja banyak bicara agar Aquila tidak lagi canggung. Sesekali mereka juga bercanda dan tertawa bersama, hingga lupa jika sekarang ini sudah sangat malam. Aquila yang sadar karena tidak sengaja melihat jam dinding menatap Regan. "Kenapa?" tanya Regan dengan lembut ketika Aquila tiba-tiba diam. "Udah malem, kamu gak pulang?" tanya gadis itu pelan. "Gue mau di sini nemenin lo. Katanya takut sendirian, kan? Atau lo mau tidur sekarang?" Aquila menggeleng. "Kalau kamu nginep di sini, gimana sama Bunda?" Regan tersenyum melihat Aquila merasa tidak enak. "Gue telfon bentar. Lo tidur aja, gapapa. Gue tidur di sini jaga-jaga," Regan beranjak dari duduknya untuk menelpon sang ibu. Aquila beranjak mengambilkan bantal dan selimut dari kamar tamu. Entahlah, ia tak tahu harus berbicara apa jika teman laki-laki menginap. Kakaknya selalu mewanti-wanti untuk tidak sembarangan berteman dengan lawan jenis. Akhirnya, Aquila membiarkan Regan tidur di ruang tamu dan ia segera pergi ke kamarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN