3.ReganAquila

1707 Kata
Pagi ini begitu sejuk karena hujan deras baru saja berhenti membasahi bumi. Di sebuah rumah yang cukup mewah, terlihat sosok cowok tampan dengan pakaian sekolah yang sudah rapi. Ia memasuki mobil sport miliknya dan meninggalkan rumah. Biasanya, ia pergi bersama adik bungsunya, tapi karena sang adik memilih membawa mobil sendiri, akhirnya mereka pergi ke sekolah masing-masing. Sesampainya di sekolah, cowok tampan itu melirik jengah ke arah beberapa siswi yang sudah pasti menunggunya. Ia sangat bosan dengan mereka yang tak henti-hentinya mengganggu dan berbisik-bisik tentang dirinya. "Aahh, Regan!" "Pagi, ganteng!" "Wah, ganteng banget, Kak Regan. Kayak pangeran, tahu nggak?" "Duh, ganteng banget. No debat!" "Sempurna banget ciptaan Allah!" Seperti itulah yang Regan dengar setiap hari selama hampir tiga tahun bersekolah, sampai ia sendiri bosan. Padahal selama ini ia tidak pernah merespons sedikit pun, tapi tetap saja mereka tidak lelah. Teriakan demi teriakan terdengar. Siapa lagi kalau bukan gadis-gadis cantik yang suka sekali mencari perhatian dari Regan. Meskipun selalu bersikap cuek dan dingin, hal itu tak membuat para gadis berhenti mendekatinya. Justru semakin banyak yang ingin dekat karena sikap dinginnya itu. "Aquila!" panggil Regan cepat ketika matanya menangkap gadis itu yang buru-buru meninggalkan parkiran. Semua orang yang ada di sana menoleh ke arah seorang gadis dengan dandanan cupu. Mereka tak habis pikir, kenapa Regan memilih si cupu dibanding gadis-gadis berkelas. Bahkan Regan berjalan mendekati Aquila, sementara gadis itu hanya diam. "Regan kok mau ya sama si cupu?" "Pasti dia pakai pelet!" "Ih, si cupu nggak tahu diri banget. Sumpah!" "Dasar penggoda!" Mendengar perkataan yang tidak enak, Aquila semakin menunduk. Selama ini ia sudah menjadi bahan bullying. Jika ia dekat dengan cowok paling populer di sekolah, perundungan itu pasti akan semakin parah. Tak ingin menambah masalah, akhirnya Aquila memilih berjalan lebih dulu, meninggalkan Regan yang baru sampai di depannya. Baru satu langkah ingin pergi, ia sudah berbalik dengan cepat dan langsung dipeluk oleh Regan. Cowok itu menarik pinggangnya erat, membuat semua orang di sana melongo melihat tindakan Regan. "Perlu kalian tahu, siapa aja yang ganggu Aquila, berarti kalian juga mengusik gue. Karena dia adalah pacar gue!" Mendengar pernyataan dari Regan, semua orang semakin terkejut. Begitu juga dengan Aquila yang ada dalam pelukan Regan. Ia tak berani menunjukkan wajahnya karena takut. Kini rasa takut dan ketegangan Aquila semakin bertambah setelah mendengar pengakuan dari Regan. Bisa-bisa ia akan semakin dibully karena Regan mengatakan bahwa mereka pacaran. Ada banyak fans Regan di sekolah ini, dan mereka tidak suka jika ada yang dekat-dekat dengan Regan. Bahkan ada beberapa yang suka menyakiti siapa pun yang berani mendekatinya. Menyadari ketakutan Aquila, Regan segera membawa gadis itu pergi dari kerumunan. Aquila hanya diam, tak mengeluarkan sepatah kata pun. Seperti sebelumnya, Regan kembali mengantarkan Aquila ke kelasnya. Tapi ia tidak langsung pergi dari sana karena khawatir ada yang melakukan perundungan lagi terhadap gadis itu. Sampai bel berbunyi dan seorang guru datang, barulah Regan pergi ke kelasnya. "Jangan pikirin hal yang nggak penting. Lo cuma perlu fokus sama pelajaran. Nanti gue jemput buat istirahat bareng, oke?" Setelah mengatakan itu, Regan mengelus pelan puncak kepala Aquila. Hal itu juga disaksikan oleh teman-teman sekelas Aquila dan juga guru yang sudah ada di dalam kelas. Guru itu hanya tersenyum melihat perlakuan manis Regan terhadap Aquila. Selama pelajaran, Aquila tidak bisa fokus karena beberapa teman sekelasnya membicarakan kejadian pagi ini. Selama bersekolah di sana, ia tak memiliki seorang pun teman karena dandanan yang begitu cupu dan dianggap tidak menarik. Lalu tiba-tiba ia mendapat pertolongan dari seorang pangeran yang begitu tampan. Tentu saja akan banyak gadis yang iri dan berusaha menjauhkan mereka. "Gimana kalau nanti fans-fans Regan makin jahat sama gue?" batin Aquila. Sungguh, sekarang ia tidak bisa berpikir dengan tenang karena perbuatan Regan pagi ini. Bisik-bisik dan tatapan sinis dari para siswi terasa lebih kejam dari biasanya. Di kelasnya, Regan menatap seorang gadis yang menangis di depannya. Entah di mana letak urat malu gadis itu, hingga menjadi tontonan banyak orang karena mengemis cinta di depan Regan. Kelas mereka sedang kosong karena guru berhalangan hadir, dan tidak ada guru pengganti karena guru piket juga sedang sibuk menghukum beberapa murid yang terlambat. "Regan, please... hiks hiks... terima gue jadi pacar lo. Lo nggak perlu putus sama si cupu. Gue nggak apa-apa jadi yang kedua, asal lo terima gue... hiks hiks." Bukannya merasa kasihan, teman-teman sekelas Regan malah memandang rendah gadis itu. "Nggak tahu malu!" "Gatel banget sih jadi cewek!" "Tau, anak kelas sebelah malu-maluin. Jijik gue!" "Ya kali Regan mau. Orang dia murahan gitu. Mending sama Aquila lah, meskipun cupu tapi punya harga diri!" Beberapa teman Regan kesal dengan kehadiran Sonia yang suka membuat drama. Kelas mereka adalah kelas akademik, tempat murid-murid menyukai ketenangan. Biasanya di jam kosong mereka menghabiskan waktu belajar dan membahas materi, tidak seperti kelas lain yang heboh bergosip. Tapi kedatangan Sonia membuat ketenangan itu terganggu. "Bisa nggak sih lo itu jadi cewek yang mahalan dikit? Jangan kayak sampah begini!" bentak Arnold. Cowok itu sudah menahan emosi sejak tadi dan sekarang tidak bisa dibendung lagi. Arnold adalah teman dekat Regan yang begitu menakutkan ketika marah atau merasa kesal. Ia tidak akan segan melontarkan kata-kata pedas yang menusuk. Seisi kelas merasa takut jika melakukan sedikit saja kesalahan padanya. "Lo nggak tahu... hiks hiks... rasanya cinta lo ditolak... hiks hiks... jadi lo diem aja!" isak Sonia, semakin menjadi-jadi. "Setelah keluar dari kelas ini, gue yakin lo akan semakin dipandang rendah. Nggak lebih dari sekadar sampah," ujar Arnold pedas. "Mending lo keluar, atau gue seret!" ancamnya. "Dasar nggak punya hati! Lo kenapa usir gue? Toh gue nggak ganggu lo!" teriak Sonia, tak terima. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Arnold menyeret Sonia keluar dari kelas, kemudian langsung menguncinya. Dengan wajah datar penuh kemarahan, ia kembali duduk di sebelah Regan. Melihat suasana kelas sudah kembali tenang, semua kembali membuka buku mereka. "Gila lo!" cerca Regan pada Arnold. Mendengar itu, Arnold memandang Regan dengan kesal. Sudah dibantu mengusir Sonia, bukannya berterima kasih malah dimarahi. "Maksud lo apa?" tanya Arnold, tak terima. "Harusnya lo nggak perlu sampai nyeret dia kayak gitu. Bagaimanapun dia cewek, harus kita hargai," jelas Regan tanpa menoleh ke arah Arnold. "Iya, gue tahu. Gue paham. Tadi juga gue nggak nyadar kalau udah terlalu kasar. Eh, tapi bener lo pacaran sama Aquila?" tanya Arnold penasaran. "Iya." Jawaban singkat Regan itu benar-benar menggemparkan seisi kelas. Meskipun tahu itu, mereka tetap bersikap biasa saja. Padahal ada luka yang harus disembuhkan di hati para siswi di kelas itu. Tapi apa daya, Regan sudah membuat keputusan. Mereka tidak bisa lagi mendekatinya dengan alasan minta bantuan belajar. Regan POV Kira-kira Bunda marah nggak ya kalau gue pacaran? Tapi kan gue cuma mau nolong aja, biar dia nggak diganggu lagi. Semoga aja Bunda ngerti dan izinin gue tetap di samping Aquila. Toh dia cewek baik, nggak neko-neko. Kasihan juga sih, selama ini dia selalu dibully dan nggak ada yang bantuin. Dia sebenernya cantik, tapi kenapa milih dandan kayak gitu? Apa mungkin dia sengaja? "Aquila, besok gue jemput lo. Temenin gue jalan," ujarku pada gadis yang duduk di samping dengan kepala tertunduk. "Tapi—" "Pokoknya besok gue jemput. Lo harus siap-siap!" potongku langsung. Dia nggak boleh nolak ajakan gue. Ini udah hampir dua minggu sejak gue bilang dia pacar gue. Masa iya gue nggak ajak dia jalan sama sekali? Kan kasihan. Sesampainya di rumah Aquila, gue juga ikut turun buat nganter dia sampai masuk. Rumahnya mewah. Dia berasal dari keluarga kaya raya. Tapi kenapa dandannya cupu? Itu yang belum gue tahu alasannya. "Mau mampir dulu?" tanyanya pelan. "Enggak, gue masih ada urusan. Lo masuk gih, gue mau balik," tolakku karena hari ini masih ada urusan. Jadi, lain kali aja mampir. Dia mengangguk lalu masuk. Dia lucu, beda sama cewek-cewek lainnya. Aquila... kenapa tiba-tiba gue terus mikirin dia cuma gara-gara kejadian di kantin tadi? Setelah Aquila masuk ke rumahnya, gue langsung masuk ke mobil untuk pergi. Rumahnya sepi banget. Apa dia sendirian tinggal di rumah sebesar ini? Drttt... Drttt... "Halo?" "Eh, lo di mana? Katanya mau ikut gue ke studio musik. Ke sini cepet!" semprot Arnold. "Iya, ini lagi di jalan. Lo tunggu aja." Tanpa nunggu Arnold ngomong lagi, gue langsung matiin panggilan. Pasti sekarang dia lagi maki-maki nggak jelas. Itu anak suka banget marah-marah. Heran gue, dia nggak pernah slow, selalu ngegas nggak kenal tempat dan waktu. Karena nggak mau bikin Arnold nunggu lama, gue pun langsung ngebut buat nyusul dia. Sebenarnya gue males ikut acara musik, tapi dia selalu maksa. Suara dia bagus, cocok sama hobinya. Lah gue? Cuma bisa nge-rap aja. Keburu males ikut begituan. Hari ini gue lega karena tadi pagi Bunda udah tahu soal gue dan Aquila. Gue pikir Bunda bakal marah, tapi ternyata enggak. Malah Bunda komentar baik. Jadi sekarang gue cuma perlu jaga Aquila baik-baik setelah dapet izin. "Ayo turun!" ajak Regan. Ia membawa Aquila ke tempat latihan. Dua hari lagi Regan akan mengikuti turnamen karate, jadi beberapa hari ini ia sibuk berlatih. Di sana sudah ada Arnold yang selalu menemaninya. Meskipun tidak terlalu suka karate, Arnold tetap menemani sahabatnya. Ia lebih suka taekwondo, kadang juga ikut latihan Regan untuk sedikit belajar. Regan memang suka semua jenis bela diri dan sering ikut turnamen. Awalnya ia ingin ikut pelatihan tinju, tapi Renatha—ibunya—tidak memberi izin. "Udah lama?" tanya Regan pada Arnold yang sedang duduk santai. "Baru. Udah sana lo, dari tadi ditunggu guru lo. Kata si Kumis tuh," ujar Arnold sambil mengangguk ke arah pria berumur tiga puluhan dengan kumis tebal. "Oke. Eh, titip Aquila." Setelah itu, Regan langsung berjalan meninggalkan keduanya. Arnold menggeleng melihat sikap Regan yang acuh pada gadis yang dibawanya. Harusnya bicara sedikit sama Aquila, malah langsung pergi. Gadis itu juga hanya diam dengan kepala tertunduk. "Aquila, sini duduk. Regan nggak lama latihannya. Nih, pakai jaket gue buat nutupin lutut lo," kata Arnold sambil menyodorkan jaket. Aquila masih memakai seragam sekolah. Rok yang ia kenakan memang tidak sependek murid lainnya. Tapi untuk duduk di sana bersama Arnold dan banyak laki-laki, dengan rok sekolah yang tidak menutupi lutut, membuat Aquila bimbang. Untungnya ada jaket Arnold untuk menutupi lututnya. Dari kejauhan, Regan memperhatikan Aquila yang tampak kurang nyaman. Gadis itu hanya diam, kadang menjawab dan mengangguk ketika Arnold mengajaknya bicara. Arnold memang lebih lembut dan mengerti perasaan gadis. Berbeda sekali dengan Regan yang cenderung acuh. Karena tidak ingin membuat Aquila semakin merasa tidak nyaman, akhirnya Regan mengakhiri latihannya lebih cepat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN