"Aku sungguh bodoh, Jocie. Aku mengakui itu." Anne tertawa miris. Diusapnya air mata yang perlahan jatuh ke pipinya. Gambaran wanita kuat yang selalu Anne idam-idamkan, dan ia usahakan untuk menjadi seperti itu, hilang entah kemana. Dia sering sekali menangis di hadapan orang kain, memperlihatkan sisi lemahnya yang sebenarnya sangat ia benci. "Aku berpikir, kalau dengan begitu, Ariekhsa akan baik-baik saja walaupun untuk sementara. Setidaknya Ariekhsa akan mengetahui fakta itu ketika dia sudah sembuh total. Demi Tuhan, Jocie, aku tidak pernah berpikir untuk menghilangkan Gavrilla sepenuhnya di kehidupan Ariekhsa." Anne menoleh pada Jocie, sungguh, dia tidak mengharapkan Jocie untuk memaafkannya, tapi dia hanya ingin Jocie mengerti posisinya dulu. "Jocie, Gavrilla adalah sahabatku. Yang ak

