“Anneliese! Apa-apaan?!” Anne mengeryitkan dahinya saat mendengar seruan ketus dari nomor yang meneleponnya siang itu. Anne yang kemarin baru saja hujan-hujanan dan tidur jam dua dini hari, akhirnya demam dan memutuskan untuk beristirahat. Namun, waktu istirahatnya harus terganggu oleh telepon itu. Anne menjauhkan ponsel dari telinganya hanya untuk melihat siapa yang meneleponnya, mengingat sebelumnya dia hanya mengangkatnya tanpa melihat id caller di layar ponselnya. Anne berdecak pelan ketika tahu bahwa Grace-lah yang meneleponnya. “Anneliese!” Anne mengambil napas dalam-dalam sebelum menghembuskannya perlahan. “Iya, Tante?” Dia tidak memiliki tenaga untuk merespon amarah Grace walaupun sebenarnya dia sangat ingin memaki wanita itu sekarang. “Bukankah aku sudah bilang untuk tidak me

