Mereka keluar dari balik lukisan dan mengendap-endap menuju kamar utama. Mereka mengintip dari pintu dan melihat si jubah hitam masih berdiri memperhatikan Ian yang kesakitan akibat cekikannya tadi. “Aku tidak menyangka... kalau... selama ini kau yang menyerang... semua peserta itu...” kata Ian dengan terengah-engah dan ia memegangi lehernya yang merah terbakar. “Apa... jangan-jangan kau juga yang membawa Warren dari rumah ini ?” Ian memandang tajam pada si jubah hitam. Selena dan Warren berdegup kencang menunggu jawaban dari si jubah hitam dan mereka juga ingin tahu siapa wajah di balik jubah itu. “Tentu saja itu aku.” Suara itu benar-benar mengejutkan mereka. Selena dan Warren bahkan saling berpandangan dengan mata me

