Vania kembali menunduk lesu. Ia sedang tidak bertenaga untuk berdebat dengan pria yang berstatus seniornya di rumah sakit itu. "Kamu bilang, saya selalu mengganggu pikiran kamu. Memangnya kamu selalu memikirkan saya?" Andrea. Vania berdecak. Baginya pria di hadapannya itu terlalu percaya diri meski tebakannya memang benar. "Saya tadi dengar cukup jelas loh, Vania. Jangan mengelak!" Andrea. "Lalu kalau sudah dengar kenapa masih tanya saya?" kesal Vania. Andrea tersenyum tipis sembari menegakkan posisi duduknya. "Jangan senyum-senyum gitu, Dok! Geli saya." Vania. "Loh bukannya kamu pernah bilang kalau saya lagi senyum jadi tambah ganteng?" goda Andrea. Lagi, Vania berdecak. Ia melipat kedua tangannya di atas meja lalu menenggelamkan kepalanya disana. Andrea tertawa kecil. Ia merasa ber

