Tubuh Vania semakin bergetar. Ia tak bisa lagi menahan tangisnya. Perlahan, ia kembali membalikkan badan dan menatap sang ayah dengan tatapan marah. "Papa jahat!" ringisnya. "Dev..." lirih Bisma. Hatinya perih melihat air mata yang membanjiri pipi putri kesayangannya. Tapi, ia tidak bisa berhenti disini. Ia merasa apa yang ia lakukan saat ini adalah yang terbaik untuk putrinya. "Papa cuma mau bantu kamu, asal kamu juga mau bantuin Papa. Nggak susah kok, karena keinginan Papa ini juga demi masa depan kamu. Papa ngelakuin ini karena Papa sayang kamu, Dev." Bisma. Hati Vania ternyuh. Ia tau betul bahwa sang ayah selalu menyayanginya, selalu melakukan yang terbaik untuknya. Apakah dia terlalu jahat sudah mengatakan pria yang tampak mulai renta itu dengan sebutan jahat setelah apa yang beli

