Lagi-lagi makan dalam keheningan. Mau sampai kapan coba? Hahaha. Tapi ya mau bagaimana lagi sih? Keadaannya memang masih begini. Masih kacau. Masih saling salah paham. Mungkin memang jalannya harus begini. Usai makam, Akib yang mencuci piring. Sejak tinggal di Belanda, ia mulai terbiasa sih hidup sendiri seperti ini. Meski Airin mengatakan kalau lebih baik ia berangkat saja ke kantor, ia malah tetap mencuci piring itu. Begitu selesai ya baru berangkat. Airin hanya mengangguk ketika ia berpamitan. Ada yang kurang sih. Hahaha. Apa? Itu loh biasanya kalau suami dan istri itu kan ada salam tangan lah ya minimal. Meski gak ada cium kening. Lah ini? Berdirinya saja sudah jauh. Lalu hanya dibalas anggukan pula. Hahaha. Mengharapkan apa sih, Kib? Hahaha. Sudah tahu kalau semua ini benar-bena

