Meja Makan

608 Kata
Sudah menjadi rutinitas Callista tampaknya bangun pagi dalam keadaan perut yang tidak bisa dikondisikan. Seperti saat ini, Callista langsung lompat dari ranjang dan memuntahkan isi perutnya di westafel kamar. Tenggorokannya terasa perih, karena tidak ada yang keluar selain air liur pahit, padahal rasa ingin muntah sangat terasa dalam tubuhnya. Callista bersandar lemah pada dinding yang dingin. Dirinya merasa kosong dan sangat rapuh. Dalam kesunyian pagi, gelombang kesepian menghantamnya. Callista adalah seorang istri, tetapi dia terus merasakan sendirian. Callista mengandung anaknya, tetapi ia merasa seperti hantu yang menghantui lorong-lorong rumah. Wanita itu tidak berharap dicintai kembali, hanya mengharapkan pria itu menyadari kehadiran orang baru di dalam perutnya. Jika Taufiq tidak bisa menerima kehadiran Callista, apa tidak bisa dia menerima kehadiran calon anak yang nantinya menjadi keturunannya sendiri? Keputusasaan ini membuat Callista membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Dia begitu takut bahkan untuk sekedar keluar dari kamar. Callista memaksa dirinya berdiri. Tenggorokannya kering, terasa perih akibat muntah. Alih-alih kembali ke balik selimut yang aman, dia justru melangkah keluar kamar untuk mencari air minum. Baru saja Callista keluar, pintu kamar utama terbuka. Taufiq berdiri di sana, langsung menatap tajam Callista yang membeku di tempat. Ekspresi Taufiq dengan cepat mengeras menjadi topeng dingin nan profesional, sementara Callista berusaha menahan laju detak jantungnya agar tidak terlalu cepat. Kepanikan menyambar Callista. Wanita itu menunduk dengan napas terengah-engah. Callista mengenakan gaun tidur putih tipis dan tanpa pakaian dalam bagian atas dan Callista tahu ke arah mana Taufiq menatap. Udara pagi yang dingin dan suasana gelisah membuat bentuknya tampak jelas di balik kain tipis itu. Tanpa sepatah kata pun, Callista berputar dan berlari kembali ke kamarnya. Dia membanting pintu dan langsung menangkup pipinya yang pasti memerah. “Dasar bodoh! Malu banget!” hardiknya pada diri sendiri. Walaupun mereka akan memiliki anak bersama. Namun tetap saja pernyataan itu tidak membantu. Satu-satunya kebersamaan mereka disebabkan karena pengaruh minuman, tidak lebih. Itu pun membuat masalah lain tercipta. Dengan tangan gemetar, Callista mengambil jubah tebal dan menutup tubuhnya dengan itu. Dia kembali membuka pintu dan berjalan menuju tangga. Namun sayang sekali, Taufiq sudah tidak ada di depan kamarnya. Segera mungkin Callista berjalan menuruni anak tangga, berharap sosok yang ingin dia lihat sekaligus dia takuti ada di sana. Wajahnya tersenyum tipis saat mendengar dentingan sendok dan piring berbunyi. Dia memelankan langkah dan mengintip sedikit dari dinding yang menghalangi. Taufiq duduk di sana dengan makanan yang tersaji. "Selamat pagi, Nyonya Callista!” sapa Lili, salah satu pelayan di rumah ini. Dia tersenyum hangat nan tulus. "Selamat pagi, Lili!” jawab Callista. Dia berusaha terdengar riang, tetapi suaranya masih sedikit tersengal. "Mau sarapan sekarang?" Callista melirik ke arah ruang makan. Taufiq ada di sana, diam menyantap makanannya tanpa ada raut wajah gembira atau bahkan senyum tipis di wajahnya. Aroma makanan semakin membuat perut Callista bergejolak, tetapi tetap saja Callista ragu. Sebenarnya sangat ingin Callista menghampiri, tetapi dia tidak mungkin bisa. Wanita itu kembali mengingat hari pertamanya datang ke sini dan persis, Lili mengajaknya ke meja makan juga. Namun saat bokongnya mendarat di kursi, Taufiq langsung berdiri tanpa meninggalkan sepatah kata padanya. Lili yang menyadari pun segera menundukkan kepalanya. Dia sadar nyonya di hadapannya sedang ketakutan, tetapi sudah menjadi tugasnya untuk melayani. Akhirnya dia terdiam saja di sana. "Aku belum lapar, Lili," ucap Callista berbohong. Wanita itu memaksakan senyum kecil di wajah meski perutnya protes. Lili tampak ragu dan Callista menyadarinya. Namun, buru-buru Callista menggelengkan kepala saat Lili ingin membalas. “Aku mau minum air saja, ya.” Mendengar itu, Lili bergegas ke dispenser. Dia tahu nyonya Callista sedang bersembunyi. Akhirnya dia melakukan semua gerakan itu diam-diam dan kembali dengan segelas air untuk Callista. “Terima kasih, Lili!” ucapnya dan kemudian langsung pergi diam-diam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN