3| Mahligai Karam

1191 Kata
3] Mahligai Karam Percintaan yang indah terjadi sebelum pernikahan. Pasangan menunjukkan sifat terbaiknya pada masa-masa berpacaran. Wanita mana yang tidak luluh diperlakukan bak seorang ratu? Kebaikan lelaki di saat berstatus pacar layaknya malaikat. Seakan ada sayap yang tumbuh di punggungnya. Bulu-bulu putih dan indah seperti bulu angsa. Dia melindungi wanitanya dengan segala upaya. Selalu membuat suasana menjadi ceria dengan kemampuan menghiburnya.   Neima lupa akan dunia terlebih lagi dosa. Cinta membuat matanya buta. Norma agama dia abaikan saat Dika meluncurkan bujuk rayu. Oh, bercinta itu menyenangkan! Demi membuktikan cinta kepada sang kekasih, Neima tidak pernah menolak diajak berhubungan badan. Keduanya masih berstatus mahasiswa. Neima adalah kakak tingkat Dika, tetapi berbeda jurusan. Sekali terjatuh, Neima tidak bisa bangkit lagi. Dika mengancam putus dan mencari gadis lain  jika Neima tidak ingin melayaninya.   Perbuatan terlarang tersebut menghasilkan makhluk hidup baru. Dia mulai tumbuh dan berkembang di rahim Neima. Mau tidak mau, keduanya wajib bertanggung jawab atas perbuatan mereka. Neima telah wisuda sewaktu pernikahan dilangsungkan. Kehamilannya masih terhitung baru. Hanya orang tua Neima dan Dika yang mengetahui kondisi Neima sewaktu akad dilaksanakan. Mereka bergerak cepat supaya kabar kehamilan Neima tidak sampai ke telinga masyarakat.   Sejak menikah, Dika berubah. Lelaki yang tadinya dicintai Neima jungkir balik sepenuh hati, jarang pulang. Dika beralasan harus fokus untuk menyelesaikan skripsi. Sementara itu, Neima tinggal di kampung bersama kedua orang tua. Selain jarang pulang, Dika juga tidak memberikan kabar kecuali Neima yang menghubungi terlebih dulu.   ”Punya cewek lain kau di sana?”   Neima tidak bisa lagi menahan kedongkolan. Kalimat itulah yang Neima ucapkan dengan penuh emosi saat Dika menjawab telepon Neima pada panggilan keempat. Saat ini Neima hampir melahirkan. Dia menunggu kedatangan Dika untuk menjadi ayah siaga bagi bayi mereka. Walau ada ayah dan ibu bersamanya, Neima tetap mengharapkan kehadiran suami saat proses bersalin. Apalagi sudah lama tidak bertemu Dika, kerinduan Neima  semakin besar.   Bulan ketujuh kehamilan, Dika sedang tidak bisa diganggu. Neima menerima dengan lapang d**a. Sekali pun Neima tidak menelepon Dika. Praktis sebulan penuh mereka lost contact. Neima bersabar karena itu demi kebaikan bersama. Jika Dika tamat, mereka akan tinggal bersama sebagai keluarga kecil bahagia. Bulan kedelapan menurut rencana yang pernah dikatakan Dika, dia wisuda. Neima sudah menjahit baju terusan berbahan burkat untuk menjadi pendamping wisuda suaminya. Sayangnya, Dika tidak mengajak Neima dengan alasan demi kesehatan calon anak mereka. Neima tidak boleh terlalu lelah. Sekarang bulan kesembilan. Neima tinggal menunggu waktu. Namun, Dika tidak kunjung pulang.   ”Bicara apa kau? Jangan main tuduh!”   ”Lalu bagaimana kau menjelaskan apa yang terjadi selama ini? Aku akan melahirkan anakmu. Seharusnya kau di sini menemaniku.”   ”Memangnya aku bidanmu? Kau bisa melahirkan tanpa bantuanku. Kau pikir aku mengerti cara mengeluarkan bayi?”   ”Pulang, Dika! Apa lagi yang kau urus di Padang? Jangan kira aku bodoh. Urusanmu di kampus sudah habis, ya, tidak perlu lagi kau stay di sana.”   ”Ah, aku sibuk. Apa yang kau tahu memangnya? Kabari aja nanti kalau anak itu sudah lahir. Tidak usah kau tunggu aku. Pulang atau tidak, aku tidak bisa membantumu melahirkan.”   Setelah itu, Neima mulai merasakan kontraksi. Seolah sikap Dika memancing kemarahan bayinya, sehingga dia ingin dikeluarkan secepatnya. Neima masih sempat menghubungi Dika lagi, akan tetapi nomor lelaki itu nonaktif. Segala macam emosi bertumbukan dalam d**a Neima. Ketika bayinya lahir, tidak ada perasaan haru sedikit pun apalagi bahagia. Hanya ibu dan ayah Neima yang tersenyum sangat lebar ketika bidan menimang bayi merah itu. Neima menatap kosong ke tempat yang jauh. Dia abai saat bayinya ditidurkan di d**a untuk mencari sumber kehidupan pertama.   ”Siapa nama bayi ini, Nei?” Ibunya bertanya saat cucu perempuan dia tidurkan di sebelah Neima.   Saat itu wanita yang membantu persalinan Neima telah pulang.   ”Nggak tahu. Carikan oleh Ibu nama yang cocok. Aku malas memikirkannya.”   Meida, ibu Neima, menatap bayi Neima lama. Kira-kira nama apa yang bagus untuk cucu pertamanya? Meida berbisik kepada pria pendiam di sebelahnya untuk meminta pendapat.   ”Ayah punya ide? Kita panggil apa bayi ini sebaiknya?”   Ayah Neima hanya menggeleng. Kehadiran pria itu di ruangan Neima nyaris tiada arti. Aben tidak berpartisipasi apa pun, termasuk mengeluarkan suaranya.   ”Apa, ya? Nama yang kita berikan sebaiknya ada unsur doa. Setiap diucapkan, maka dia akan didoakan. Kira-kira apa, Yah?” Meida terbiasa meminta pendapat, walaupun Aben akan mengabaikan pertanyaannya.   ”Perasaan yang kita rasakan waktu melihat dia lahir dengan selamat. Dia malaikat kecil kita dan semoga dia selalu bahagia sampai nanti-nanti. Semua orang akan senang melihat dia. Semua akan menyukainya.”   ”Terserah Ibu. Nggak bisa sekarang, bisa kapan-kapan bikin namanya.”  Neima membenari selimut dan bergerak mencari posisi nyaman. Dia ingin tidur.   ”Bahagia.” Meida serseru seakan baru saja mendapatkan ide cemerlang. ”Bahagia Hingga Janna. Namanya dipenuhi doa.”   Neima membuka matanya. ”Dipanggil?”   ”Hagia,” kata ibunya.   ”Oh.”   Neima mengecek gawainya sekali lagi. Semoga Dika sudah bisa dihubungi. Lelaki itu sendiri yang meminta diberitahu kalau Hagia lahir.   ”Halo.” Suara Dika di sana tidak terlalu jelas.   ”Anakmu sudah lahir. Dia perempuan.”   Dika menjawab dengan dua huruf saja. Tentunya dia membuat Neima kesal.   ”Ada apa dengan dirimu, Dika? Kau tidak senang dengan kelahiran anakmu?”   Meida yang tengah mengusap kening Hagia terenyak. Bagaimana bisa ada pertengkaran antara anak dan menantu di saat hati sedang bahagia? Mungkinkah hanya Meida yang merasakannya? Tidak dengan Neima, Aben, bahkan Dika? Meida mengusap d**a mendengarkan pertikaian Neima di telepon. Aben tidak bertindak sama sekali. Sepertinya Dika tidak dapat diharapkan untuk melantunkan azan di telinga Hagia. Meida pergi ke sebelah Aben lalu meminta suaminya untuk azan.   ”Uruslah anak itu. Besarkan dia dengan caramu. Aku harus melanjutkan kuliah kalau tidak usaha Papa tidak akan diserahkan kepadaku. Aku harus membantu orang tua. Kau pasti bisa mengurusnya sendirian. Lagi pula kau ibunya.”   ”Kau ini ayah macam apa? Aku tidak butuh anakmu, Dika! Kau ambil anak ini, jemput dia! Bikin susah aku saja.”   Meida memeluk bayi Hagia. Dia tidak mau dipisahkan dari cucunya. Aben sudah membisikkan azan di telinga Hagia. Hagia begitu cantik. Dia bukan alasan untuk berkelahi.   ”Nanti aku hubungi lagi. Aku sibuk, Nei.”   Sibuk? Neima mengerang dalam hati. Bukannya itu hanya alasan untuk pergi? Senyuman tipis terbit di bibir Neima melihat gawainya menggelap. Miris. Lalu pandangan Neima beralih kepada sosok yang dia lahirkan. Seandainya, anak itu tidak pernah ada.   ”Aku tidak suka dia, Ibu. Karena dia, hidupku hancur! Dika sudah pergi. Dia tidak mau kembali kepadaku. Buang saja anak itu!”   Plak!   Sebuah suara yang sangat nyaring akibat beradunya kulit dengan kulit mengaung di ruangan itu. Kamar kecil yang ditempati Neima kemudian hening. Aben yang baru saja melayangkan tamparan ke pipi putrinya masih menatap marah kepada putri semata wayang. Tanpa berkata, Aben meninggalkan kamar Neima. Meida menaruh Hagia di keranjang bayi yang dia beli menggunakan uang penjualan kandis. Dia menghampiri Neima dan duduk di sebelah wanita yang baru saja melahirkan itu. Pipi Neima yang awalnya putih sekarang memerah. Tidak ada air mata di wajah wanita berambut panjang dan ikal tersebut. Pandangan Neima nanar. Tangannya meraba selimut lalu membaringkan punggung ke kasur. Dia menarik selimut dan memejamkan matanya.   ”Bawa bayi itu, Ibu. Jangan sampai dia mengganggu tidurku.” ***      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN