9| Mulai Sempurna
Sepulang dari kota, Hagia mengalami demam tinggi. Neima tidak menjelaskan ke mana dan apa yang dia lakukan bersama Hagia. Saat Neima pergi, hanya dia dan Hagia yang berada di rumah sehingga, Neima tidak berpamitan. Orang tuanya menebak bahwa Neima pasti mencari Dika. Namun, aneh saja saat Neima membawa Hagia ikut dengannya. Selama dua tahun hidup bersama Hagia, Neima paling anti dengan putrinya.
Keadaan Neima juga tidak dapat dikatakan baik-baik saja. Mata Neima sembab dan ia banyak diamnya. Neima sudah absen dua kali lari sore yang biasanya tak pernah ia tinggalkan. Ibunya Hagia hanya duduk di kamar, seperti masa-masa berkabung di awal kepergian Dika.
Hagia sedang diberi makan oleh neneknya. Meida menggendong Hagia di halaman rumah sambil menyuapkan bubur dicampur sup ayam. Susah sekali anak itu menelan. Hagia tak berselera makan sama sekali.
”Bu.” Meida tersentak saat bahunya ditepuk.
Neima berpakaian kaus putih dan ketat serta celana olahraga. Rambutnya yang panjang dikumpulkan dan diikat tinggi tanpa sentuhan sisir. Tubuh yang sedikit berlemak meski tidak gendut itu terlihat lebih b*******h dibanding tadi sewaktu Meida keluar. Aroma sabun mandi menguar dari wanita itu. Pertanda Neima mandi dulu sebelum ke sana.
”Gantian. Sini Hagia dengan aku.” Tak menunggu respon, Neima melepaskan belitan kain gendongan pada tubuh Meida. Dia mengalungkan kain panjang tersebut ke tubuhnya lalu mengambil alih Hagia.
”Tolongin ini gimana mengikatnya biar kuat?” Neima mengambil mangkuk makanan milik Hagia dari tangan ibunya agar leluasa membantu mengaitkan kain tersebut.
”Nei mau ajak jalan ke sana. Dah Ibu masuk aja.”
Meida betul-betul senang dan haru melihat Neima. Cepat ia menyeka matanya yang hampir berjatuhan air. Meida tersenyum melepas kepergian Neima bersama Hagia. Manis. Sungguh itu adalah pemandangan terbaik sejak beberapa waktu lalu Hagia disapih.
Neima melewati jalanan kampung rute biasanya ia lari sore. Dia melihat anak lain berada dalam stroller dan walker. Beberapa anak yang seusia Hagia bermain sepeda diawasi orang tuanya. Ia tersenyum kecil mengingat ibunya belum membelikan Hagia kereta-kereta tersebut.
”Kamu mau sepeda kayak gitu, Hagia?” tunjuk Neima kepada anak-anak tersebut.
”Iya. Walna pink, ya, Ne.”
”Makan yang banyak biar sehat. Nanti kita beli yang pink.”
”Iya. Hagia mau makan. Ne capek? Hagia jalan ke sana, Ne, dekat Cila.”
”Jadi anak baik, ya.” Neima melepaskan ikatan gendongan. ”Tapi makan dulu sesuap lagi.”
Hagia menelan dan meminta minum. Dia langsung berlari kecil ke kumpulan teman-temannya. Anak itu berjongkok dari jarak agak jauh, tak terlalu dekat dengan arena permainan.
Hagia mengingatkan Neima kepada dirinya. Sebagai anak orang tidak mampu, ketika melihat sesuatu yang menarik yang tak bisa ia miliki, Neima hanya mengagumi.
Dari kejauhan terlihat seorang remaja berlari sambil menangis. Di belakangnya ada pria paruh baya yang mengejar dengan balok kayu. Neima menyadari situasi bahaya tersebut, seperti orang tua yang lain. Mereka semua mengamankan anak masing-masing. Meski sepertinya sang ayah hanya menuju anaknya, semua orang cemas lemparan batu dari tangan pria itu akan mengenai mereka.
Si gadis remaja berlari ke arah Neima. Mungkin remaja tersebut berharap ayahnya tak akan melempar dan memukulnya di antara orang banyak. Neima tidak melihat keberadaan Hagia. Ia kehilangan putrinya sewaktu memperhatikan dua orang yang berseteru.
”Hagia!”
Teriakan Neima bersamaan dengan caci maki si ayah kepada gadis remaja yang semakin dekat ke arah Neima. Neima melihat Hagia di antara ibu-ibu. Ternyata ada yang membawa Hagia bersamanya. Saat namanya dipanggil, Hagia pun berlari ingin mendekati Neima. Saat itulah, perempuan empat belas tahun tersebut berlari kencang melewati Neima dan menabrak Hagia.
Semua orang menjerit melihat Hagia tak sengaja ditendang. Lutut gadis itu membentur kening Hagia dan kakinya mengenai perut bocah itu. Neima paling keras teriakannya melihat anaknya tersungkur. Tak lagi dia hiraukan sang remaja yang akhirnya diseret bapaknya.
”Hagia! Hagia! Tolong, Hagia, tolong!” Teriakan itu menyayat hati ibu-ibu yang menyaksikan kejadian tersebut.
Seorang remaja laki-laki membawa sepeda motor ke tempat Neima.
”Kak, ayo naik. Kita ke Dokter Ilham.”
Neima dan Hagia ikut ke boncengan kendaraan tersebut.
”Hagia! Hagia, maafkan aku. Tahan dulu sampai kita tiba dan kita obati lukanya. Nanti kita minta dokter pindahin luka kamu ke Nei.”
Mereka tiba di rumah praktik Dokter Ilham. Neima harus menunggu di kursi bersama Hagia. Gadis itu dia baringkan di sebelahnya yang kosong. Pemuda yang mengantarnya, berdiri di depan konter pendaftaran.
”Eung,” erang Hagia. Neima menoleh kepada anak itu.
Perasaan apa ini?
Neima selalu membentengi diri terhadap Hagia. Namun, ternyata perasaannya tak bisa menumpul. Neima merasa tubuhnya ditembaki ribuan jarum melihat keadaan Hagia. Seharusnya, ia baik-baik saja karena Neima mengklaim dirinya tidak pernah menyayangi Hagia. Dia membenci Hagia. Tidak peduli apa pun yang terjadi kepada Hagia. Air mata Neima tak dapat dia bendung menyaksikan Hagia mengigit bibirnya. Gadis kecil itu memegangi perut, mengusap-usapnya. Neima pun menemani telapak kecil Hagia membelai perut anak itu. Satunya tangan Neima dia usapkan ke kening Hagia.
Saat Hagia diperiksa dokter, Neima yang melihat Hagia merasakan sakit juga. Tangisan Hagia berhenti sejak mereka naik sepeda motor. Tadinya Neima sangka anaknya pingsan, ternyata tidak. Hagia menahan segalanya. Matanya berkaca-kaca, tetapi hanya sampai di sana. Tidak ada raungan kesakitan yang seharusnya terjadi saat raganya terluka.
”Neyi kenapa nangis?” tanya Hagia waktu Neima membungkuk di atas ranjang Hagia. Neima kembali mengusap kening Hagia.
Neima tersenyum. ”Ini sakit, ya?” tanyanya merujuk kepala Hagia.
”Gak sakit. Sakitnya tadi. Sekalang Hagia sudah sembuh. Neyi, ssst ....” Hagia ingin berbisik. Neima mendekatkan telinga.
”Jangan bilang-bilang Pak Doktel pindahin ke Neyi. Sakitnya udah hilang kok.”
Pertama kalinya bibir Neima mengecup Hagia, tepat di bibir bocah malang itu.
”Iya. Aku nggak bilang. Tapi kalau sakitnya terasa lagi, lapor sama aku, ya. Paham, anak pintar?”
”Iya, Ne.”
Mereka berdua tersenyum dan Neima tidak lagi menangis di depan Hagia. Ia yang dewasa ternyata kalah oleh anak kecil dalam hal menghibur orang lain. Bibir Neima pun tersenyum semakin lebar karena merasakan bangga.
Neima Devira tak menyangka gadis kecil itu adalah putrinya. Neima tahu semua berkat didikan ibu dan ayahnya. Dan sekarang ia bertekad anak kecil yang tengah menatap dirinya itu akan menjadi bocah paling beruntung di dunia. Bukan lagi anak malang yang tidak diinginkan oleh kedua orang tuanya.
”Pak Doktel, makasih udah obatin Hagia.” Hagia meletakkan tangan kanan di kening, seperti gerakan hormat.
Dokter Ilham membalas dengan hormat juga bak komandan upacara.
”Hagia anak kuat. Besok udah harus sehat. Oke?” kata Dokter Ilham.
”Iya, Doktel. Hagia mau pulang, Doktel. Mau bilang Nenek, Hagia tadi dicium Neyi.”
Laporan Hagia barusan meninju sudut hati Neima. Hanya satu kecupan saja, anak itu kegirangan. Neima menyeka lagi sudut mata yang terasa basah.
”Ada yang aneh, Nei. Kenapa Hagia memanggil kamu dengan nama saja?” Dokter Ilham bertanya dengan suara pelan.
Perhatian Hagia sedang tercuri oleh kerangka dengan organ yang berwarna-warni. Anak itu tidak menyimak obrolan dokter dengan Neyi-nya.
”Biasa saja, Dokter.”
Dokter Ilham mengangguk. ”Ya biasa saja. Lebih terdengar akrab, seperti teman.”
”Terima kasih, Dokter.”
***
Neima memutuskan bekerja. Ia menjadi honorer di SMP swasta sebagai guru Seni Budaya, sesuai program studinya. Sekolah tersebut masuk pukul tujuh dan pulang pukul setengah satu.
Hagia kehilangan Neima karena selama ini ia selalu bersama Neima di rumah. Sepulangnya Neima, Hagia menempel lagi kepada Neyi. Mengikuti ke mana saja Neyi bergerak. Kali ini semua yang dilakukan Hagia tidak terasa mengganggu sama sekali. Keadaan sama, tetapi rasanya berbeda.
”Lagi ngapain, Hagia?” tanya Neima sewaktu melepas sepatu di pintu.
Hagia lantas mendongak setelah ditegur. ”Neyi! Neyi itu cantik, boneka itu bisa ketawa.”
Rumah mereka kini sudah ada televisi. Meida membelinya untuk Hagia. Sama halnya dengan lemari es, Meida mendapatkan dengan harga murah dari tetangga yang sudah tidak ingin memakai karena membeli televisi baru. Hagia sedang menunjuk ke televisi.
Neima mendekat kepada Hagia, ikut menonton bersama. ”Lucu bisa ikutan ngomong.” Neima menanggapi dengan semangat.
”Hagia. Mau jalan-jalan nggak?”
Hagia membelakangi televisi. Neima sengaja mengajak bicara Hagia saat layar TV sedang menayangkan iklan.
”Naik mobil kayak waktu itu? Ada air mancur sama gajah, sama mobil-mobilan yang banyak. Terus makan roti coklat sama Om,” kata Hagia antusias meski cadelnya belum sembuh-sembuh.
Neima agak bingung dengan kalimat terakhir saat ada orang lain yang disebut Hagia. Tetapi Neima lebih ingin membahas hal lainnya kepada anak gemas itu alih-alih bertanya siapa om yang dimaksud Hagia.
”Kamu belum ada sepeda kayak Cila. Besok kita beli, ya. Kalo mainan kayak di TV tadi mau juga? Coba sini kamu, kita cari di Sopi.”
Hagia duduk di pangkuan Neima.
”Nei, sudah pulang. Makan siang sudah siap. Bawa Hagia juga makan sama kamu.” Meida datang dari dapur.
Neima mengangguk. Dia menjelajahi aplikasi belanja online untuk menemukan mainan yang tadi membuat Hagia tertarik.
Jika ditanya apa alasan Neima bekerja, jawabannya adalah Bahagia Hingga Janna. Seluruh uang yang Neima hasilkan ia peruntukkan bagi putrinya Hagia. Tak ada keinginan lain dalam diri Neima kecuali memenuhi seluruh impian masa kecil Hagia. Pelan-pelan Neima mulai memikirkan pekerjaan masa depan yang dapat membuat ia memiliki tabungan untuk sekolah Hagia kelak.
”Ini, Ne. Ini sepelti yang tadi.”
Neima tanpa pikir panjang langsung memasukkan ke keranjang dan membayar belanjaannya. Mainan tersebut tidak terlalu mahal, masih di bawah seratus ribu dan gratis ongkos kirim.
Sekolah swasta sangat memperhatikan kesejahteraan guru-guru. Baru beberapa bulan bekerja, Neima memiliki cukup tabungan untuk Hagia. Sejak bekerja, Neima belum pernah mengajak Hagia keluar. Terakhir dan pertama kali adalah ketika bertemu dengan Dika. Saat itu, tidak satu pun Hagia ia belikan mainan. Makanan juga cuma roti dan Hagia tidak memakannya sebab keburu pergi. Neima berencana menebus waktu itu dengan cara yang lebih baik.
”Aduh yang barusan suara apa, ya? Kau kentut, Hagia?”
Hagia menutup hidung. ”Enggak, kok, Hagia ga kentut. Gak ada suala apa-apa, Ne.”
”Nah, ini kenapa hidungnya dijepit?”
”Nanti kalo dibuka, bau kentut Neyi.”
”Eh! Sembarangan kau!” Neima mengangkat Hagia, sehingga bocah itu berdiri.
Neima menyingkap baju Hagia, kemudian menempelkan bibir ke perut Hagia. Lalu timbullah suara seperti kentut dari bibirnya di perut Hagia.
Hagia tertawa geli. ”Neyi yang kentut, bukan Hagia. Kentutnya bau,” kata anak itu.
”Kamu.” Neima mengejar Hagia yang lari.
Tawa anak itu semakin kuat saat Neima hampir mendapatkannya.
”Hagia, Ibu belum makan. Ajak makan ibunya nanti sakit.” Meida berteriak dari kamar. ”Hagia juga makan sama Ibu, ya! Nenek mau keluar.”
Meida tidak lagi mendengar suara tawa Hagia. Dia mengintip ke dapur. Neima dan Hagia tidak berada di sana. Meida pergi ke kamar Neima. Wanita yang memakai sepotong gamis berwarna abu-abu itu mengintip di ambang pintu kegiatan manusia dua generasi di dalam bilik tersebut. Bibirnya melebar mendapati Hagia sedang mengoleskan kapas ke wajah Neima. Sementara, Neima berbaring dan masih memakai seragam. Matanya terpejam.
”Ganti pake kapas baru, Hagia. Banyakkan micellar water-nya. Kapas yang lama tadi mana? Bersihkan dulu bagian bibir.”
”Kenapa Hagia gak boleh pakai? Biar segar juga, Ne.”
”Kalau kau pakai cairan ini, mukanya tumbuh bisul. Dalam bisul ada serangga, mau gitu?”
”Ndak.” Hagia tak membahas keinginan diusap dengan micellar water lagi.
”Oke, sudah bersih. Terima kasih, Bu Hagia.”
”Iya, Ne. Kata Nenek, Neyi disuruh makan biar gak sakit.”
Meida yang menyimak mengangguk. Bangganya ia betapa pintar cucunya dan bertanggung jawab.
”Ntar. Aku ganti baju dulu.”
”Jangan lama-lama, ya. Hagia lapor Nenek kalo Neyi lama.”
”Lapor. Aku lapor balik kamu kemaren numpahin garem Nenek.”
”Kan sudah minta maaf.”
”Oh iya. Terus aku lapor apa, dong?” Neima pura-pura berpikir keras.
”Hagia kan rajin makan, gak bisa dilaporin. Neyi yang malas makan kata Nenek lama-lama nanti kayak tengkorak Dokter Ilham.” Pengucapan Hagia masih cadel r, tetapi tidak lagi l seperti beberapa bulan lalu. Ia hampir bisa bilang r, walau belum sempurna.
Bagi Neima, lidah Hagia belum sembuh dari cadel. Karena manis saat didengar, Neima tidak memaksa anak itu untuk mengucapkan r yang benar. Ia menunggu waktu dan proses alami yang melakukan. Hagia itu rajin ngomong. Dia akan selalu berlatih mengucapkannya secara mandiri. Neima percaya akan hal itu.
Hagia menanyakan benda yang ia lihat di ruang praktik Dokter Ilham setelah pulang. Kata Neneknya itu adalah kerangka manusia dan kepalanya tengkorak. Hagia menyimpulkan kalau benda itu adalah tengkorak. Meida mengatakan manusia yang tidak mau makan, akan berubah seperti benda itu.
Meida tertawa dengan membekap mulut. Ia yang menyaksikan perubahan sikap Neima kepada Hagia sampai menangis terharu. Meida tidak tahu apa yang terjadi karena sejak Hagia pergi bersama Neima. Yang pasti ia telah mendapatkan ibunya. Neima kembali sebagai ibu yang utuh bahkan segalanya dilakukan Neima untuk Hagia. Mereka bercanda dan berbicara layaknya teman sebaya.
Meida tidak setuju dengan cara panggil Hagia kepada Neima. Namun, ia tak bisa memaksa kedua orang itu untuk berubah sebab ternyata kasih sayang antara ibu dan anak tidak berkurang meski tak ada kata-kata pengganti sebutan ibu yang terucap. Agar Hagia mengerti bahwa Neyi adalah ibunya, Meida selalu menyebut Neima sebagai ibu kepada Hagia.
”Nei ikut tes pegawai negeri, Bu. Doain agar lulus. Hagia tinggal sama Nei, berdua aja kalau diterima di sana.”
Meida teringat semangat membara dari mata Neima ketika menyampaikan rencananya tersebut. Mungkin Meida harus kehilangan momen indah seperti ini kalau Neima betulan diterima. Tapi tak apa, asalkan Neima dan Hagia selalu bersama.
***