Bunyi alarm keamanan gedung mulai meraung memekakkan telinga. Lampu-lampu kristal di langit bangunan mulai bergetar hebat. “Hana, kita harus keluar dari sini! Sekarang!” Nathaniel mencoba menarik tangan Hanaelle, namun Hanaelle tetap bergeming di tengah panggung. Di saat yang paling kritis itu, Cassian Velaede justru duduk dengan santai di tepi panggung, menatap jam tangannya—menunggu adegan penutup yang paling ia nantikan. “Tiga menit, Hanaelle,” bisik Cassian. “Apakah kau akan mati sebagai aktris, atau kau akan hidup sebagai iblis yang mengejar ibunya sampai ke ujung dunia?” Nathaniel mencengkeram lengan Hanaelle, tenaganya cukup kuat untuk meninggalkan bekas merah di kulit putih wanita itu. “Hana, lupakan sistemnya! Kita harus keluar sekarang!” teriaknya, suaranya bersaing dengan ge

