Malam itu teater pusat terlihat sangat mewah. Ribuan lampu kristal menggantung di langit-langit, menerangi gaun sutra dan setelan jas mahal orang-orang yang duduk di kursi beludru merah.
Hanaelle berdiri di tengah panggung, tepat di bawah sorotan lampu yang menyilaukan. Di depannya, ribuan pasang mata menanti kata-kata pembukanya. Dia harus tersenyum, harus terlihat seperti bintang yang sedang merayakan kesuksesan filmnya. Di belakangnya, terpampang layar interaktif yang akan menampilkan premiere the mirror nanti. Namun, pikirannya kacau bagaimana dengan nasib ibunya jika dirinya salah mengambil langkah.
Di balik lapisan kaca interaktif itu, tersimpan data busuk agensi Rosalind. Ini adalah satu-satunya kesempatan Hanaelle untuk membongkar semuanya ke layar lebar teater agar ribuan pasang mata melihat kebenarannya.
Namun, dia terjebak dalam pilihan yang mustahil.
Hanaelle mengalihkan pandangannya dari layar dan menatap ke arah kerumunan penonton. Matanya mencari-cari sampai akhirnya berhenti pada sosok Rosalind.
Perempuan itu duduk dengan tenang sambil tersenyum ke arah panggung. Rosalind kemudian mengangkat pergelangan tangannya, sengaja menunjukkan sebuah jam tangan digital kepada Hanaelle. Di sana, sebuah lampu kecil berkedip-kedip merah. Hanaelle tahu persis itu bukan jam biasa, melainkan tombol eksekusi yang terhubung langsung ke kalung peledak di leher ibunya.
Hanaelle menoleh ke arah Nathaniel yang masih duduk di barisan penonton—paling depan. Dia ingin membongkar semuanya, tapi bayangan ibunya yang disandera membuat nyalinya ciut. Dia memutuskan untuk menyerah. Dia tidak akan melakukan pembongkar rahasia itu. Dia memilih menyelamatkan ibunya.
Tapi, tepat saat Hanaelle akan menoleh... layar di belakangnya mendadak berubah.
Sebuah rekaman video tersembunyi, kini terpampang di belakang layar.
Suara Rosalind menggelegar dari speaker teater. Itu suara rekaman percakapan di ruang kantornya.
“Hanaelle hanya properti. Dia boneka cantik yang aku ciptakan untuk menghasilkan uang. Kalau dia tidak berguna lagi, aku tinggal membuangnya seperti sampah.”
Seluruh penonton terdiam. Ribuan mata kini menatap Rosalind yang wajahnya mulai pucat. Hanaelle tersentak. Dia melihat ke arah Gabriel di sayap panggung. Pria itu memegang tablet dan tersenyum tipis.
Gabriel tidak menunggu Hanaelle menekan kode. Dia sudah meretas sistemnya sendiri dan menayangkan borok Rosalind di depan semua orang demi.
Pandangan Hanaelle langsung terkunci pada Nathaniel. Pria itu berdiri mematung dari kursi barisannya. Gabriel telah melanggar kesepakatan mereka. Pria itu meledakkan bom informasi tanpa memedulikan nyawa sandera yang masih berada di tangan Rosalind.
Video itu terus berputar, kini menampilkan sudut kamera tersembunyi yang lebih jelas. Suara Rosalind terdengar dingin, tanpa sedikit pun rasa bersalah.
“Kalian pikir aku peduli dengan bakat aktingnya?” suara Rosalind menggema. “Hanaelle itu cuma pajangan. Dia punya wajah yang menjual rasa kasihan. Aku hanya perlu memberinya sedikit harapan tentang ibunya, dan dia akan menari di bawah telunjukku seperti anjing kecil yang kelaparan.”
Terdengar suara tawa kecil Rosalind di rekaman itu. “Semakin dia menderita, semakin banyak orang yang menonton filmnya. Rasa sakitnya itu menguntungkan. Jadi, biarkan saja dia berpikir dia punya pilihan. Padahal, sejak hari ayahnya mati, hidupnya sudah menjadi milik agensiku.”
Teater yang tadinya riuh mendadak sunyi senyap. Suara rekaman Rosalind masih terngiang di telinga setiap orang. Namun, di tengah kesunyian yang mencekam itu, sebuah bunyi tepuk tangan tunggal bergema dari sayap panggung.
Plak. Plak. Plak
Semua mata tertuju pada Gabriel. Pria itu melangkah santai ke tengah panggung, mendekati Hanaelle yang masih mematung. Dia mengambil mikrofon cadangan, lalu tersenyum lebar ke arah penonton.
“Luar biasa,” suara Gabriel menggema tenang, memenuhi setiap sudut ruangan. “Mari berikan tepuk tangan yang meriah untuk Nyonya Rosalind Wiraatmaja. Akting yang sangat meyakinkan untuk adegan pembuka The Mirror malam ini.”
Penonton saling berpandangan, bingung. Apakah itu tadi hanya bagian dari film? Apakah kekejaman Rosalind tadi hanya skenario?
Gabriel menoleh ke arah Rosalind yang masih setia duduk memangku satu kaki. “Terima kasih, Nyonya, karena sudah bersedia ikut berakting dalam promosi ekstrim ini. Anda benar-benar mendalami peran sebagai antagonis yang dingin.”
Rosalind terdiam sejenak, matanya berkilat tajam menatap Gabriel, lalu perlahan beralih ke arah Hanaelle. Namun, hanya dalam hitungan detik, ekspresi murkanya lenyap.
Riuh tepuk tangan penonton mulai pecah kembali.
Rosalind menarik napas panjang, lalu perlahan bangkit dari kursi VIP-nya. Dengan gerakan yang sangat anggun, Rosalind melangkah sedikit ke depan. Ia meletakkan satu tangannya di d**a, lalu membungkuk dalam-dalam ke arah penonton.
Namun tak lama, suara sirene polisi yang melengking mulai terdengar dari kejauhan, semakin lama semakin keras hingga memantul di dinding-dinding kaca gedung teater.
Penonton mulai berdiri, beberapa tampak panik, sementara yang lain masih bertepuk tangan karena mengira suara sirine itu adalah backsound tambahan dari pertunjukan Gabriel.
Di arah pintu masuk teater, mulai dijaga ketat oleh personel berseragam.
“Nyonya Rosalind,” suara Inspektur Aris menggelegar dari ambang pintu, “Pertunjukan selesai. Kami memiliki surat perintah penangkapan atas nama Anda.”