Damar pun mulai berkeringat dingin. Dia lupa jika ia dan Yasmine merupakan sepasang suami istri dan sudah seharusnya mereka berada di satu kamar yang sama. Dan model apartemennya yang tanpa sekat tentu memudahkan Mamanya untuk melihat seluruh penjuru ruangan. “Ah, iya Ma. Damar lupa…” kilahnya. Dengan langkah terburu-buru Damar pun turun kembali dan berjalan menuju kamar Yasmine. Sampai di depan pintu kamar perempuan itu, Damar pun kembali ragu. Haruskan ia langsung masuk? Atau ia harus mengetuknya terlebih dahulu? Namun Mamanya pasti akan langsung curiga jika ia mengetuknya terlebih dahulu. Argh, masa bodoh!―erangnya dalam hati merasa frustasi. Laki-laki itu langsung membukanya tanpa permisi, membuat sang pemilik kamar terlonjak dibuatnya. Dengan buru-buru Damar kembali menutup rapat

