05. Fakta yang Memilukan

2150 Kata
“Mending kamu pulang sekarang, kerjaanku masih banyak.” “Aku masih mau disini,” kekeh Karin. “Ck, aku paling nggak suka kalau kamu ganggu aku kerja kayak gini!” ucap Damar dengan marah. Kedatangan Karin yang tiba-tiba sekarang saja sudah cukup membuatnya kesal dan sekarang wanita itu malah membuat kemarahannya semakin menjadi-jadi. “Aku nggak akan ganggu kamu,” ucap Karin yang masih keras kepala. “Pergi sekarang juga sebelum aku seret kamu dari sini.” “Aku pacar kamu Damar!” bentak Karin seraya melangkahkan kakinya mendekati Damar. “Kita pacaran udah lama, tapi kenapa kamu selalu membuat jarak di antara kita?” Sepertinya batas kesabaran Karin sudah mulai habis. Bertahun-tahun ia mencoba untuk memaklumi sikap Damar yang selalu dingin kepadanya. Damar memperlakukan Karin seperti orang asing. Karin lelah, tapi dia tidak ingin menyerah. “Aku lagi nggak mau bertengkar sama kamu,” ucap Damar. Dengan segera Karin berjalan cepat menuju Damar dan langsung memeluknya erat. Dia rindu momen seperti ini. Dia ingin Damar memperlakukannya seperti kekasih yang sesungguhnya. Dia ingin Damar memeluknya setiap hari, meluangkan waktu untuk menemuinya, atau paling tidak menelfon untuk menanyakan kabarnya. Orang bilang dia dan Damar terlihat begitu serasi, Karin juga berpikir seperti itu. Tapi Karin ragu apa Damar juga akan berpikir seperti itu? Apa dia bahagia memiliki Karin? “Lepas, kita lagi di kantor,” desis Damar menahan marah. “Walaupun di luar kantor pun kamu juga nggak akan meluk aku,” ucap Karin pelan. Damar bahkan tidak mencoba untuk membalas pelukannya. Karin benar-benar kecewa. Namun suara gaduh diluar disertai suara benda jatuh membuat Karin mengendurkan pelukannya pada Damar. “M-mas Damar?” Ternyata itu Yasmine yang tiba-tiba saja masuk ke ruangan Damar disertai Bimo yang mengikuti di belakangnya dengan wajah yang panik. Karin senang karena Yasmine datang di momen yang tepat. Dengan berat hati Karin mulai melepaskan pelukannya pada Damar dan menoleh ke arah Yasmine, “Sepertinya kita memang harus mengatakan tentang hubungan kita ke istri kamu.” “Kita nggak bisa sembunyi terus-menerus, iya kan?” tanya Karin pada Damar. Dia sengaja mengatakannya dengan suara yang cukup keras agar Yasmine―istri Damar dapat mendengarnya dengan jelas. “Aku pulang dulu,” pamit Karin sambil mengecup pipi Damar. Dia harus menunjukkan kepada Yasmine siapa pemilik Damar yang sebenarnya. Wanita itu tidak akan pernah bisa merebut Damar darinya. *** Setelah kepergian Karin dan Bimo dari ruangannya, kini tinggal Damar dan Yasmine disini. Damar mulai memijat pangkal hidungnya pelan. Ini semua karena Karin, wanita itu membuat segalanya menjadi rumit. “A-apa ini?” tanya Yasmine lirih. Ia ingin menangis, tapi sekarang bukanlah saat yang tepat. Dia ingin mendengar alasan dari suaminya terlebih dahulu. “Seperti yang kamu lihat.” “Kamu selingkuh dengan Karin?” Tentu Yasmine tau wanita itu. Dia Karin―model ternama ibukota. Tapi dia benar-benar tidak menyangka kalau suaminya ada hubungan dengan model ternama itu. “Ya, mungkin semacam itu.” Damar tidak tau apa sebutan hubungannya dengan Karin. Dia sudah berpacaran dengan Karin cukup lama dan tidak ada kata putus diantara mereka. Namun karena sekarang dia sudah menikah mungkin benar yang dikatakan Yasmine barusan. Dia selingkuh dengan Karin―terdengar begitu berengsek di telinga Damar. “Kenapa kamu tega ngelakuin ini?” tanya Yasmine sambil mencoba menahan air matanya sebisa mungkin. “Jangan berlagak seolah-olah kamu yang paling tersakiti disini. Aku dan Karin berhubungan jauh sebelum perjodohan itu. Pernikahan ini yang membuat hubunganku dan Karin harus berakhir,” ucap Damar. "Kalau begitu kenapa kamu nggak bilang dari awal?" ucap Yasmine dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Buat apa?" "Kalau aku tau, aku nggak akan terima perjodohan itu." "Percuma juga aku bilang, Mama nggak akan kasih restu buat aku dan Karin." Meskipun dia mengatakan bahwa sudah ada Karin disisinya tetap tidak akan berdampak apapun. Mamanya akan tetap memaksa dirinya untuk menikah dengan Yasmine dan dia tidak akan bisa menolak itu. "Kamu masih berhubungan dengan dia sejak awal kita menikah?" tanya Yasmine yang masih mencoba untuk menahan air matanya. "Ya." Pertahanannya runtuh, air mata itu akhirmya mengalir juga. "Lebih baik kita cerai aja." "Apa kamu bilang?" "Kita cerai aja. Nggak ada yang bisa dipertahankan dari pernikahan ini," ucapnya tanpa melihat wajah suaminya itu. "Nggak bisa." "Kenapa? Kamu bisa lepas dari aku dan bisa kembali ke Karin, kamu bisa bebas sekarang." "Kamu pikir setelah aku cerai dari kamu, Mama akan terima Karin?" Mamanya dari awal memang sudah tidak menyukai Karin. Dengan atau tanpa Yasmine tidak akan ada yang berubah. "Jadi aku cuma alat biar kamu tetap bisa berhubungan dengan Karin?" "Aku nggak bilang begitu," jawab Damar dengan santainya. Terserah saja kalau memang Yasmine menganggapnya seperti itu, yang jelas dia tidak bisa melepaskan Yasmine sekarang. Usia pernikahan mereka baru beberapa hari, bagaimana perasaan Mamanya jika sampai tau masalah ini. "Kamu keterlaluan, Mas. Aku nggak masalah kalau kamu memang mau sama Karin, tapi tolong ceraikan aku dulu. Jangan terang-terangan selingkuh di depanku seperti ini!" ucap Yasmine sambil menatap nanar suaminya. "Itu resiko kamu karena mau menikah denganku." *** Dari awal Damar selalu menegaskan tentang pentingnya privasi diantara mereka. Jadi inikah yang dimaksud Damar? Dia memiliki wanita lain dan Yasmine selaku istrinya tidak berhak untuk mem-protes hal itu. Wanita mana yang sanggup membiarkan suaminya menjalin hubungan dengan wanita lain? Tidak akan ada yang sanggup―begitu juga Yasmine. Dia memang belum mencintai Damar, tapi bukan berarti dia tidak akan mencintainya. Sedikit demi sedikit dia ingin belajar mencintai Damar. Yasmine tau pernikahan tanpa cinta pasti akan terasa sulit nantinya, oleh karena itu dia ingin menumbuhkan rasa itu di hatinya―dan juga di hati Damar. Tapi sekarang Yasmine sadar kalau hal itu akan menjadi mustahil jika hanya satu orang saja yang berusaha. Cinta itu tidak akan pernah muncul dihati Damar, karena di hati pria itu sudah ada cinta untuk wanita lain. Sudah tidak ada celah untuk Yasmine, semuanya sudah selesai bahkan sebelum dia berjuang. Damar memaksanya untuk mundur dengan begitu kejam. Dering telfon menyadarkan Yasmine dari lamunannya. Akhir-akhir ini dia memang sering melamun. Berdiam diri di dalam kamar yang gelap dan sunyi ―tanpa melakukan apapun menjadi rutinitas Yasmine dua hari belakangan ini. “Halo,” sapa Yasmine lemah. “Yas, Pak bos bilang lo sakit. Lo sakit apa? Lo baik-baik aja kan?” tanya Lila khawatir. Yasmine pikir tidak akan ada orang yang mengkhawatirkannya ―bahkan suami yang tinggal satu atap dengannya saja tidak pernah menanyakan keadaannya. Tapi dia lupa kalau dia masih punya Lila―teman yang selalu menemaninya dalam situasi apapun. “Iya, agak nggak enak badan tapi aku baik-baik aja kok.” Sudah dua hari ini Yasmine tidak pergi ke kantor. Sehari sebelumnya dia memang mengambil cuti liburnya sedangkan hari ini dia beralasan sakit. Dia butuh waktu untuk menenangkan diri. “Serius? Gue sebenernya mau jenguk cuma gue nggak tau alamat lo sekarang.” “Aku nggak papa kok La, besok juga aku udah mulai kerja kayak biasanya.” Dia tidak bisa terus begini. Hidupnya harus terus berjalan. Dia hidup untuk orang-orang yang menyayanginya bukan untuk Damar―lelaki b******k yang sudah menyakitinya. “Kalau masih sakit mending istirahat dulu aja.” “No, aku udah baikan kok La." “Yaudah kalau gitu, sampai ketemu besok,” pamit Lila seraya mengakhiri panggilan teleponnya. Semuanya akan baik-baik saja, Yasmine yakin dia bisa melewati ini semua. Ini bukan pertama kalinya kemalangan singgah di hidupnya. Dia akan melewati ini dengan baik. Tapi dia bingung jalan apa yang akan ia ambil untuk selanjutnya? Sejujurnya dia ingin bercerai selagi perasaannya untuk Damar belum tumbuh terlalu jauh. Namun pernikahannya dengan Damar baru berjalan beberapa hari, apa kata orangtua mereka jika hal itu benar-benar terjadi? Yasmine tidak ingin mengecewakan kedua orangtuanya lagi. Masalah ini hanya akan menambah beban pikiran orangtuanya. Tapi haruskah dia bertahan dalam pernikahan ini untuk selamanya? Rasanya tidak mungkin. *** Pagi ini Yasmine sudah memutuskan untuk kembali menjalankan rutinitasnya seperti biasa. Untuk masalah rumah tangganya dengan Damar, dia memutuskan untuk tetap bercerai―tapi bukan untuk sekarang. Sebulan atau dua bulan lagi mungkin waktu yang tepat untuk menggugat cerai suaminya. Selagi menunggu waktu itu tiba dia akan bersikap seperti biasanya. Damar benar, bukan hanya dia yang tersakiti disini. Masih ada Damar dan Karin yang tentunya juga merasakan sakit. Mungkin memang sudah nasibnya untuk selalu terjebak dalam hubungan yang menyakitkan. “Pagi Mas, aku udah buatkan kopi seperti biasanya,” ucap Yasmine ketika melihat Damar mulai menuruni anak tangga dan tengah berjalan menuju ke arah meja makan. “Aku juga udah siapin kopi di tumbler kamu.” Setelah meletakkan tumbler itu di atas meja makan, Yasmine mulai memakan kembali sarapannya dengan tenang. “Kamu cuma buat satu?” tanya Damar sambil melirik ke arah toast yang kini tengah Yasmine makan. “Iya, biasanya kamu nggak pernah sarapan jadi aku cuma buat satu.” “Buatkan aku seperti punyamu.” “Gimana kalau cereal aja? Aku mau buru-buru berangkat ke kantor soalnya,” tawar Yasmine. “Aku nggak suka cereal.” “Oke, aku buatkan sebentar.” Dengan telaten Yasmine kembali membuatkan toast untuk Damar. Dia terlihat seperti baik-baik saja, tapi Damar tau kalau wanita itu pasti habis menangis semalaman. Mata bengkaknya mengatakan segalanya meski sudah dicoba untuk ditutupi dengan make up setebal apapun. “Ini Mas, silakan dimakan.” Meski Yasmine tetap berlaku seperti biasanya bahkan tersenyum dengan begitu lebarnya, namun Damar tau wanita itu tengah menyembunyikan lukanya. Wajahnya menyiratkan keceriaan tetapi matanya memancarkan kesedihan. Damar bisa melihat itu dengan jelas. “Kalau gitu aku pamit berangkat ke kantor ya Mas,” pamit Yasmine. “Aku antar,” ucap Damar dengan spontan. “Nggak usah, aku bisa berangkat sendiri.” “Kamu bilang kamu buru-buru, lebih cepat kalau aku antar,” ucap Damar yang masih saja memaksa. “Nggak perlu Mas, nanti kamu malah telat ke kantor―aku pamit berangkat dulu ya.” Selain mencoba untuk menyembunyikan lukanya, wanita itu juga tengah mencoba untuk menghindarinya. *** Ternyata benar kata orang, kesibukan adalah obatnya patah hati. Seharian ini Yasmine benar-benar memfokuskan diri bekerja dan dia merasa kondisi hatinya menjadi lebih baik. Patah hati membuat dirinya menjadi lebih produktif bekerja. Ya, hanya itu satu-satunya yang bisa dia syukuri atas kejadian yang menimpanya kemarin. “Ayo makan siang,” ajak Lila karena memang waktu sudah menunjukkan untuk istirahat makan siang. “Bentar lagi La, nanggung nih.” “Waktunya makan siang, Yasmine. Stop dulu kerjanya.” “Iya-iya.” Karena tidak ingin membuat Lila semakin bersungut-sungut, Yasmine pun dengan segera membereskan barang-barangnya di atas meja. Dia kemudian mengambil dompet dan ponselnya lalu mulai berjalan mengikuti Lila. “Kita makan di kafetaria bawah aja yuk, La.” “Tumben, biasanya lo paling males makan di sana.” Ya, Yasmine memang tidak suka makanan di kafetaria bawah. Menurutnya makanan disana tidak sesuai dengan seleranya. “Biar cepet, habis ini aku mau lanjut ngerjain desain gaun lagi.” Setelah sampai di tempat makan, mereka pun langsung mencari tempat duduk yang kosong dan segera memesan makanan kepada waitress. “Hari ini lo kenapa sih?” tanya Lila sambil menatap temannya heran. “Maksudnya?” “Lo sadar nggak sih, hari ini lo kerja udah kayak dikejar setan. Emangnya Pak Theo ngasih kerjaan ke lo seberapa banyak?” “Nggak banyak kok,” jawab Yasmine enteng. “Atau jangan-jangan dia ngasih deadline yang nggak masuk akal ke lo? iya?” tanya Lila lagi. “Enggak La, kerjaanku masih normal-normal aja kok.” “Terus kenapa lo kerja sampai segitunya?” Dia benar-benar khawatir dengan temannya ini. Yasmine bilang dia baru saja sembuh dari sakitnya kemarin, tapi hari ini temannya itu justru bekerja gila-gilaan bahkan hampir melupakan jam makan siangnya. Kalau badannya terus diforsir seperti itu Yasmine bisa-bisa sakit lagi seperti kemarin. “Lagi pengen aja kerja kayak gini.” “Enteng banget ya lo ngomong,” desis Lila menahan marah. “Lo nggak tau gimana khawatirnya gue waktu lo sakit kemarin? Bahkan telfon gue pun nggak lo angkat, dan sekarang bisa-bisanya lo nyepelein kesehatan lo kayak gini. Kerja sewajarnya aja Yas, kalo lo sampai mati gara-gara gila kerja perusahaan nggak akan peduli. Cuma gue yang peduli disini!” Lila lega setidaknya dia bisa melepaskan semua yang ingin dia katakan. Dia begitu khawatir dengan Yasmine. Semenjak menikah dia merasa seolah Yasmine mulai tertutup kepadanya. Awalnya dia memaklumi itu, tapi karena kejadian kemarin dia menjadi kesal sendiri. Berkali-kali dia menelfon temannya itu namun diabaikan, dan baru pada panggilan ke-21 Yasmine menerima panggilannya. “Sorry La,” ucap Yasmine menyesal. “Kalau lo memang lagi nggak baik-baik aja, cerita ke gue Yas. Jangan simpen semua luka lo sendiri.” “Aku beneran baik-baik aja, maaf udah bikin kamu khawatir.” Keadaannya sekarang sudah berbeda. Dia wanita yang sudah menikah, dia tidak bisa berkeluh kesah kepada Lila sebebas dulu. Ada masalah yang memang tidak bisa ia umbar kepada siapapun, walaupun memang sulit untuk menyimpannya sendiri namun dia harus kuat. Mamanya selalu mengajarkan bahwa aib rumah tangga cukuplah suami dan istri yang tau. Jadi dia akan menyimpan masalah ini sendiri sekuat yang ia bisa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN