"Apa yang dilakukan mereka?" tanya Anggara. Dia berdengus kesal Seketika aliran darahnya mulai memanas, dan merangkak naik menuju kepalanya. Otaknya bahkan lebih panas. Kedua tangannya mencengkeram setir mobilnya semakin erat seolah ingin mematahkan setir mobilnya. Anggara menggertakkan rahangnya. "Beraninya mereka bermesraan di depanku. Sangat berani, sekarang begitu cara mainmu. Aku akan turuti cara mainmu." Anggara menarik sudut bibirnya sinis. Kini amarahnya berubah jadi dendam. Wajahnya terlihat mulai memerah memendam amarahnya. "Anggara, mau sampai kapan kamu menatap mereka. Ayo kita jalan, katanya kamu mau antar aku pulang." "Bentar!" ucap Anggara. Dia tak tahan melihat mereka bermesraan. Apalagi saat ini dia melihat mereka saling memandang berdiri di depan body mobil. Kedua

