“Nay… Apa kamu saa sekali tidak mau bertemu dengan Anggara?” Tanya Riko, menatap ke arah Nayla. Mereka duduk bersama di sebuah café dengan pemandangan yang indah. Seperti sebuah taman bunga. Nayla menghela napasnya, dia mengaduk pelan secangkir kopi hangat yang aromanya begitu memanjakan hidungnya. “Riko,, Bisa tidak jika kita tidak pernah bahas dia. Apa tidak ada topic lain selain membahas tentangnya.” “Sebenarnya aku tidak mau jika membahas tentang dia. Tapi, aku tadi bertemu dengannya. Dan, sepertinya, dia tahu jika kamu bersama denganku.” Jemari tangan Nayla mulai memegang gagang cangkir putih di depannya, dia mulai menyedu pelan kopi hangat, melegakan tenggorokannya yang terasa kering. Pandangan mata wanita itu menyorot ke arah Riko, tersenyum tipis padanya. Di iringi dengan hel

